NUR baru saja naik kelas IV SD. Seperti kenaikan kelas pada tahun-tahun sebelumnya, ia merayakannya dengan membuka celengan. Hasilnya Rp 2.250.000. Biasanya, uang tabungan itu habis untuk membiayai sekolahnya sendiri. Mulai dari buku dan seperangkat alat-alat tulis, seragam, tas, dan sepatu. Semuanya baru. Sisanya untuk jajan, main di timezone, atau membeli mainan.
Kali ini, seluruh keperluan itu telah terpenuhi. Sehingga seluruh uang hasil menabung selama setahun itu idle. Gadis kecil itu bingung dan mulai berangan-angan. “Beli hp? Sepeda? Nggak ah! Aku mau nabung di bank saja, ah. Tapi... gimana caranya, ya?” serunya. Segepok uang puluhan ribu dan lima ribuan tak lepas dari genggamannya.
Ibunda, yang sedang berasyik maksyuk di dapur, menangkap celoteh sang anak. “Ayo! Ibu antar.” Motor di-start. Anak SD itu sudah bergelendotan, membonceng menuju kantor bank negara tak jauh dari rumahnya.
Senyum petugas satpam dan customer service bank itu terkembang. Pelayan nasabah, Ayu, mempersilakan tamunya duduk. “Ada yang bisa saya bantu?”
Ibu yang ditanya, sang anak yang menjawab. “Aku mau nabung,” tukasnya riang.
Belum sempat ibunda memperjelas pernyataan anaknya, gayung bersambut dari customer service. “Adik, siapa namanya? Sudah punya buku tabungan?” Ayu merayu, mengajak berjabat tangan. Mata tak berkedip memandang ibu dan anak, silih berganti. Sigap menyodorkan brosur dan proposal tabungan pendidikan. Dan, proposal itu langsung atas nama anak tersebut.
Puteri berusia sembilan tahun itu gak mudeng. Ibunya minta tabungan biasa saja agar ananda bisa mengikuti pergerakan saldonya. Petugas meminta KTP, dan menyebut syarat-syarat lain. Oke! Ibu mengisi formulir yang telah disiapkan, dan bea materai Rp 6.000. Si anak melotot ketika ibunya minta biaya materai itu.
Sambil ibu mengisi formulir, pelayan nasabah yang selalu senyum itu sibuk dengan keyboard komputernya. “Biaya administrasi tabungan Rp 7.000 per bulan. Tapi kalau saldo di bawah Rp 300.000, biaya administrasi jadi Rp 12.000. Yang Rp 5.000, dendanya,” kata Ayu.
Ibunda masih berkonsentrasi pada formulir itu. Anaknya makin merapatkan tubuhnya yang kecil ke meja, melongok formulir yang ditulis ibunda, dan berbisik, “saldo, apa sih, bu?” Setelah dijelaskan, ia diam, dan asyik lagi memperhatikan ibunda menandatangani formulir di atas materai. Batinnya, “aku kan mau nabung Rp 2 juta!”
Petugas bank itu terus nyerocos. “Untuk saldo Rp 250 ribu sampai Rp 5 juta, dapat bunga 3%. Kalau di atas Rp 5 juta, bunganya 5%. Jadi, kalau saldo tabungan di bawah Rp 3 juta, tiap bulan saldo tabungan akan berkurang,” kata Ayu.
Kali ini gadis kecil itu kelihatan gelisah. “Jadi, kalau aku sekarang nabung Rp 2 juta. Tahun depan, uangku berkurang, dong!” serunya.
Ayu mengangguk dan berujar ramah, “Makanya, nanti bilang ke ayah, minta uang untuk nabung.”
“Bu, bu....” anak berusia sembilan tahun itu tak melanjutkan celotehnya. Saat uang disetor ke teller, ia sempat ragu. Akhirnya ia relakan juga uang hasil tabungannya setahun itu. Di jalan, di atas motor, gadis kecil itu sengit mencecar ibunya. “Jadi, tahun depan, uangku tinggal berapa, bu?” Ada perasaan menyesal. “Mendingan aku biarin aja uangku di celengan, tiap hari bisa bertambah. Kalau di bank, uangku berkurang,” katanya lemas.
Sesampai di rumah, ibunya berusaha menjelaskan. Tapi gadis kecil itu tetap tak bisa menerima uangnya di bank berkurang. Ia terus ngoceh. Kepada adiknya, ia ceritakan pula pengalamannya ke bank.
Juga kepada ayahnya, esok harinya. Pagi itu, koran di tangan ayahnya masih terpampang berita keengganan sektor riil menyerap kredit perbankan dengan bunga hingga 17%. BI rate disoal. Iklan besar-besar tentang gebyar hadiah tabungan menghiasi halaman koran, lalu sebagian besar cuma nongkrong di Sertifikat Bank Indonesia. Peran intermedia perbankan jadi tanda tanya besar para pengusaha, ekonom, bankir pemerintah, dan otoritas moneter. Anak-anak ngoceh tentang ‘kekejaman’ bank. n rizagana
Tulisan ini telah dimuat di Investor Daily edisi Selasa, 18 Juli 2006 halaman 24
Rubrik RASAN
Tuesday, July 18, 2006
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 komentar:
Post a Comment