Tuesday, July 04, 2006

Garuda Menanti Rama

RAMA melamun. Kehilangan tahta, terusir ke hutan ringan saja buat dia. Tapi kehilangan Shinta membuat ke-manusia-annya hidup. Marah, kesal, putus asa, hingga bersepakat dengan Sugriwa membunuh kakaknya, raja Kiskenda. Shinta nun jauh di Alengka, disandera Rahwana, raja raksasa jahat-keparat. Beruntung Laksmana selalu setia, dan ada Hanoman, kera berhati manusia.

Gelora cinta kasih kembali membuncah, menjalar ke ribuan monyet yang mendampingi Rama. Apalah arti samudra yang mengitari Alengka. Ribuan batu, tak terhitung pohon kokoh menjulang menjadi pematang samudra. Apalah arti gunung yang tinggi kokoh nan perkasa, bila cinta hendak berpadu. Angkat, geser, banting dan byuur. Juga ribuan raksasa, tak berarti buat kera.

Kebaikan telah mengalahkan kejahatan. Gunawan Wibisana lega. Adik Rahwana yang tak sudi membela negerinya dan kakanda yang bejat itu telah membayangkan era reformasi. Tapi hidup terus berputar. Kejahatan dan kebaikan, kesedihan dan kegembiraan silih berganti, on-off.
Rahwana bangkit. Anaknya, Indrajit, yang punya sihir diutus. Anak-anak panah naga mencerabuti nyawa ribuan kera, menghempaskan asa yang sudah membumbung. Rama dan Laksmana pun tak luput, lalu terkapar. Rahwana bersorak, kejahatan berkibar. Shinta sedih dan putus asa. “Beginikah akhir hidupku?”

“Ya, beginikah?” Rama yang tak berdaya seolah menjawab kepiluan anak raja Janaka itu. Laksmana yang begitu setia, seperti tinggal raga. Segudang cobaan hidup telah dilalui, segunung beban hidup terlepas seperti kapas. Sekarang, apa daya.

Terkenang Tanah Air....

Gunung-gunung menggelegak, memuntahkan lahar, menyemburkan awan panas. Bumi berguncang-guncang, beruntun. Laut bergulung-gulung, tsunami menyapu seluruh yang berdiri tegak di daratan hingga berkilo meter jauhnya. Air laut surut, berganti air mata. Ribuan nyawa melayang, yang selamat merana. Lalu, tiba-tiba perut bumi menyemburkan berjuta-juta meter kubik lumpur, merendam pemukiman, menyapu sumber penghidupan. Air bah, tanah longsor sudah tak ingat lagi, dimana dan kapan. Menyapu segalanya, tak jua menyisakan setitik asa.

Air mata terkuras. Peluh mengucur tak cukup menghidupi keluarga. Harga-harga melambung. Perusahaan tutup, sumber mata pencaharian tersumbat PHK. Kelaparan, busung lapar, penyakit silih berganti. Konflik antarsaudara sebangsa, antarelite. Cinta kasih meredup, gelap, lalu terkapar di lorong-lorong hitam. Tak peluh, darah pun jadi. Darah perawan atau darah tawanan. Apalah arti diri, bila bangsa telah jadi tawanan asing, digadaikan anak sendiri. Dengan dalih bantuan, utangan, dan demi investasi asing.

Ada yang mengingatkan, seperti Laksmana dan Hanoman yang tak bosan mentransfer cinta kepada Rama, seperti Trijata kepada Shinta. Ada yang mengirim bantuan selimut, mi instan, air mineral, dan uang tunai, seperti balatentara kera bergotong royong mengangkat batu dan pohon sebagai pematang samudra. Tapi kenapa masih saja air mata menetes, masih ada yang menggerogoti pematang.

Shinta bersedih. Taman sejuta flora, dan sejuta fauna, Asoka, tak mampu menyegarkan wajah dan hatinya yang suci. Juga Rama. Ia diam, tafakur. Tiba-tiba datang burung garuda. Entah dari mana. Mematuk-matuk anak-anak panah yang menancap dan melilit Rama. Seketika itu juga pengaruh sihir Indrajit sirna. Rama pulih. Balatentara kera yang sudah loyo, kehilangan asa dan motivasi, bangkit lagi. Mereka menghancurkan raksasa-raksasi, plus rajanya, Rahwana.

“Tapi, hey... siapakah engkau, wahai burung garuda, penolongku?” Rama terheran-heran, tak tahu.

“Aku adalah sahabatmu, dan teman lama. Jayalah engkau! Sekarang izinkan aku pergi. Bila perang sudah usai, kita akan saling mengenal lebih baik.” Garuda --menurut kisah Ramayana versi India karya C Rajagopalachari— tak lain adalah burung yang selalu ia kendarai.

Ya, mana burung Garuda, yang jadi lambang negara, yang dipajang di dinding kelas sekolah, dan ruang-ruang pejabat kantor? Apa hanya Rama yang penuh cinta, yang kau tunggu? Cinta kepada istri (keluarga), Tanah Air, dan rakyat? Kelak, kau berucap, “Jayalah engkau, Indonesia!” n rizagana

Tulisan ini telah dimuat di Investor Daily edisi Selasa, 4 Juli 2006 halaman 24
Rubrik RASAN