Tuesday, April 18, 2006

Kartini, Oh!

“Nama sahaya Kartini. Orang tua sahaya seorang narapraja di jaman Belanda, waktu saya masih kecil.”


Kartini ini bukan dari Rembang, Jepara, yang sebentar lagi diperingati. Ia dari Sukerejo, dekat Semarang. Ia puteri pejabat pangreh praja, yang sangat berkuasa di jaman penjajahan.

Usianya masih belasan tahun, ketika tentara penjajah, Jepang, merekrut ribuan atau bahkan ratusan ribu remaja puteri pribumi untuk disekolahkan di Jepang atau Sonantho (Singapura). Kelak, mereka berguna bagi pembangunan negerinya. Tentara propaganda Jepang (Sendendu) minta para pangreh praja, mulai dari wedana, bupati, camat, lurah hingga RT untuk memberi contoh kepada rakyat.

Ada yang senang. Tidak sedikit yang terpaksa, tak kuasa menolak. Jabataan atau bahkan nyawa taruhannya. Jadilah Kartini dan ribuan remaja puteri belasan tahun itu diboyong dari rumahnya. Tanpa pelepasan di pelabuhan atau di stasiun, melainkan di depan rumah mereka sendiri. Apalagi senyum. Derai air mata ayah dan ibu mengiringi kepergian jelita yang masih perawan itu.

Di perjalanan, para ABG itu mulai digerayangi. Mereka juga tidak dibawa ke Tokyo atau Singapura, tapi ke pangkuan tentara Nippon. Sebagai budak nafsu. Dan, ketika Jepang kalah perang, remaja-remaja puteri itu ditinggal begitu saja dalam ketakutan yang luar biasa, dalam kegelapan yang tak tentu arah, dalam kenistaan yang tiada tara.

Mereka, lalu, tak punya pilihan, kecuali ‘berserah diri’ pada penduduk sekitar. Malu kembali ke pangkuan ayah-bundanya. Di Pulau Buru, salah satunya, seperti dituliskan Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya, Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer.

Sekarang, Indonesia sudah merdeka. Sudah 60 tahun lebih. Katanya, tak ada lagi penjajah berselempangkan bedil, melainkan saudagar. Namun, ia bertindak melebihi penjajah berbedil. Mereka berkongsi lintas negara, antarpemimpin negara, dan membuat lembaga keuangan multilateral sebagai senjata. Jadi teringat Don Luchessi dalam film The Godfather III,yang berujar, “uang adalah senjata. Politik adalah mengetahui kapan Anda menarik pelatuknya.”

Mereka, seperti jaman penjajahan dahulu kala, juga minta ‘anak perawan’. Bukan cewek-cewek ABG, seperti Kartini. Mereka juga menekan para petinggi negeri yang bertingkah seperti pangreh (bukan pamong) praja. Ibu Pertiwi pun merelakan ‘anak perawannya’ yang berhiaskan permata, emas, emas sepuhan, emas hitam, dan –entah emas apa lagi sebutan untuk—gas alam.

Dan, seperti jaman penjajah, para pangreh praja senang. Berarti ada uang masuk untuk membangun negeri. Tak sedikit pula yang tak kuasa menolak. Entahlah, takut jabatan hilang atau nyawa melayang? John Perkins telah menjawab dalam bukunya, Confessions of an Economic Hit Men tentang kematian Presiden Panama Omar Torrijos dan Presiden Ekuador Jaime Rolds.

Apa boleh buat, tahi kambing bulat-bulat. Tak ada pilihan bagi pangreh praja, kecuali melayani penjajah berkedok investor atau kreditor. Agar tak kentara hirarki yang sesungguhnya, senyuman dan kata-kata pujian menghiasi setiap pertemuan. “Tabik tuan. Segala titah hamba tunaikan” adalah kalimat yang makin syahdu di negeri ini. Hukum, dan aturan adalah bagi sang tuan. Semua disesuaikan dengan keinginan tuan. ‘Perawan-perawan’ itu disuguhkan untuk digerayangi, dibor, dieksplorasi, disedot, ... lalu ditinggal.

Para pangreh praja makin terlena dengan puja-puji si tuan. Tak tahu dan tak mau tahu lagi apa yang terjadi dengan perawan-perawannya. Duit masuk, jabatan aman, cukup sebagai gantinya. Puluhan tahun kemudian.... ada lobang-lobang besar, danau-danau raksasa, kerusakan alam yang maha dahsyat. Lalu ditinggal begitu saja, seperti Kartini di Pulau Buru itu. Dan, para pangreh praja tetap tak mau peduli. n rizagana

Tulisan ini telah dimuat di Investor Daily edisi Selasa, 18 April 2006 halaman 24
Rubrik RASAN

1 komentar:

isnaini said...

Alo bang Riza. Ini Isnaini. Mantan Anak buah di Investor dulu.Masukin link aku di blog bang Riza dong. Trus, blog bang Riza nanti juga bakal aku masukin ke lilnk ku deh. Okeh