Tuesday, March 21, 2006

Hello, Penjajah Moderen

Puluhan lembar tisu tak juga menghentikan aliran air dari lubang hidung. Bersin tak pula bisa reda, meski badan telah diselimuti kemul tebal. Niat menyaksikan konser Lionel Richie tak kesampaian. Padahal pas masuk gratis sudah tersedia. Akhirnya mata tertumbuk pada Jaka Tingkir, serial film di layar kaca.

Menyaksikan kesaktian Jaka Tingkir, tak menyangka Indonesia bisa dijajah oleh negara kecil nun jauh di sana, selama tiga setengah abad. Tapi bukankah di negeri yang katanya sudah merdeka selama 60 tahun ini, Indonesia ternyata masih dijajah?

Paling tidak, inilah yang dirasakan sejumlah tokoh yang menyebut dirinya kaum nasionalis. Mereka berniat bersatu. Mereka antara lain Kwik Kian Gie (mantan Menko Perekonomian dan Kepala Bappenas), Try Sutrisno (mantan Wakil Presiden), Wiranto (mantan Panglima ABRI), Ermaya Suradinata (mantan Gubernur Lemhanas), dan sejumlah tokoh politik/partai dan ekonom. Mereka ingin membalik keadaan menjadi kejayaan. (Kompas, 20/3)

Amboi. Seperti Jaka Tingkir, dengan sekali gerakan, semua terpental, tersungkur, dan Jaka jaya. Asyik juga memutar kembali ingatan saat tokoh-tokoh nasionalis tersebut berada di pucuk pemerintahan. Lalu diputar kembali menjadi sebuah serial bersambung hingga periode pemerintahan sekarang. Judulnya, kira-kira, Memerdekakan Bangsa dari Penjajahan Moderen. Bisa jadi, ia lebih hebat dari serial Jaka Tingkir, yang di tv itu.

Kayak apa sih penjajah moderen itu? Selintas terbayang, senjatanya kayak di film Star Trek. Tiba-tiba ‘pedang’ keadilan milik Jaksa Agung berkelebat. Seketika itu juga delapan pengutang BLBI tersungkur, minta ampun. Oke! Syaratnya, seluruh utang harus dilunasi sebelum Desember 2006.

Setelah delapan tahun? Setelah sebagian teman mereka, pengutang BLBI, dan direktur Bank Indonesia yang mengucurkan dana BLBI itu, dibui? Ketika kewajiban BLBI yang Rp 145 triliun dalam bentuk obligasi itu masih memasung negara dan seluruh rakyat dalam bentuk cicilan pokok dan bunga. Plus obligasi rekap yang jumlahnya Rp 640 triliun.

Sebentar lagi, obligor itu bebas. Seperti obligor sebelumnya yang sudah bebas lebih dulu. Lalu, terdengar dan tertulis di media tentang kiprah mereka menginvestasikan modalnya ke Cina, India, Singapura, bahkan hingga ke Amerika Latin. Uang yang ditanamkan tak sedikit, miliaran dolar AS.

Mereka memberikan sejumlah perusahaan sebagai ganti BLBI atau obligasi rekap. Perusahaan diutak-atik dengan melibatkan orang asing, ‘dibenahi’, lalu dijual. Harganya tak sampai seperempat dari nilai saat penyerahan. Maka berduyun-duyun investor asing datang ke acara big sales aset-aset eks-obligor yang dikelola BPPN itu. Termasuk bank-bank yang dulu diselamatkan negara dengan surat utang rekap sebesar Rp 640 triliun.

Kwik Kian Gie, yang mantan menteri itu, berang. Maka siapa yang tidak berang, bila kewajiban semua obligasi itu kini harus ditanggung oleh seluruh rakyat Indonesia. Tiap tahun, rakyat harus menyisihkan uang hampir Rp 100 triliun untuk membayar cicilan pokok dan bunga obligasi itu. Dan, mereka berfoya-foya (menginvestasikan uang) di luar negeri. Sialnya, uang rakyat itu dinikmati para pemilik aset-aset lokal itu, yang kebanyakan asing. Ia melengkapi kisah sedih di Timika dan Cepu.

Lalu yang mana penjajah moderen itu? Asing yang kini menguasai aset-aset itu atau asing yang dulu memberi resep sewaktu Indonesia meradang dihajar krisis. Atau, jangan-jangan penjajah moderen itu anak bangsa sendiri yang nyaru sebagai penyelamat bangsa –yang tengah memimpin, pernah memimpin, dan akan memimpin? Orang-orang dulu bilang, penjajahan asing hanya bisa terjadi karena ada bantuan orang bangsa sendiri.

Ah, lebih baik memutar ulang kaset Lionel Richie. ...Hello, is it me you’re looking for.... n rizagana

Tulisan ini telah dimuat di Investor Daily edisi Selasa, 21 Maret 2006 halaman 24
Rubrik RASAN

1 komentar:

tandywilliams93530500 said...

Do you want free porn? Contact my AIM SN 'p1nkn3ss' just say 'give me some pics now!'.

No age verification required, totally free! Just send an instant message to AIM screen name "p1nkn3ss".

Any message you send is fine!

AIM abuse can be reported here.