INI tentang keberanian. Mungkin juga bukan. Di saat memeringati kemerdekaan (rakyat) Indonesia dari belenggu penjajah. Di tengah malam, saat berjuang membebaskan diri dari kantuk. Otak di batok ini selalu terantuk perasaan sendiri. Berani malu?
Gemericik air di kolam seolah membisikkan, “Hey! Sudah terlalu banyak yang merasani kemerdekaan, tentang keberanian pejuang dan pahlawan melawan penjajah, tentang keberanian anak-anak muda menculik dan memaksa Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, tentang keadaan Indonesia pasca-1945 yang masih terjajah. Tentang apa lagi?”
Bahwa selama 350 tahun, Indonesia dijajah. Penjajah itu Portugis, Belanda, dan Jepang, negaranya. Ekonomi, tujuannya. Awalnya adalah serikat dagang bernama VOC, dari Portugis. Menguras kekayaan alam, rempah-rempah di Tanah Air untuk dibawa ke Tanah Airnya di Eropa. Selama itu pula rakyat melarat dan menderita.
Sudah 61 tahun bebas dari belenggu penjajah. Merdeka! Enam orang asli Indonesia menjadi presiden. Dan, VOC-VOC dalam wujud yang lebih heboh menjamur, membenalu. Itu pun masih kurang banyak, meski Profesor Mubyarto (alm) pernah menulis tentang Ekonomi Terjajah (2005). Aceh, Riau, Kalimantan Timur dan Papua adalah provinsi paling kaya, dan paling menderita. Penduduk setempat menikmati 11-19%-nya saja, dan selebihnya dihisap ke Jakarta, New York, Tokyo, London, dan entah kemana lagi.
Adalah keberanian pula mengatakan Indonesia telah lepas dari krisis ekonomi, ketika bencana gempa, tsunami, banjir, kekeringan, kelaparan dan penyakit silih berganti. Ketika kemiskinan dan pengangguran menjadi pupuk bagi sebagian orang agar terus kaya, dan benalu bagi sebagian lagi sehingga layak disingkirkan. Ketika 77 juta penduduk (38%) miskin. Ketika bencana menjadi berkah bagi sebagian orang, dan amarah bagi yang lain.
Atau, seperti keberanian 26 ‘tokoh nasional’ mengiklankan dampak kenaikan harga BBM akan mengurangi kemiskinan. Berjanji saat kampanye, saat orang ditimpa musibah, lalu mengingkarinya. Berkeras-tegas terhadap rakyat di kolong jembatan, di kaki lima, lalu abai dan penuh kompromi pada mereka yang melumpuri rakyat.
Krisis ekonomi, bencana, kemiskinan adalah malapetaka. Tapi keberanian seperti itu sesungguhnya sumber malapetaka yang teramat dahsyat. Keberanian menghianati undang-undang dasar negara dan dasar negara, mengamendemennya hingga benar-benar tunduk pada semangat globalisasi-neoliberal. Keberanian melanggar rambu lalu lintas, menyuap aparat dan birokrat atau sebaliknya minta suap agar urusan lancar, menilep uang rakyat dan memamerkannya dalam kemewahan rumah dan mobil.
Keberanian-keberanian seperti itu sejatinya adalah ‘penjajah’ yang mengisap ‘kekayaan alam’ diri. Mengeksploitasi, memperbudak, memelaratkan, memiskinkan, dan menjauhkan diri dari keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Untuk memerdekakanya, juga butuh keberanian yang lebih. Seperti Lech Wallesa, Nelson Mandela, Tjut Nyak Dien. Seperti Bung Hatta, yang semasa mahasiswa berani melawan penjajah, mengajak rakyat agar merdeka. Itu di Den Haag, di negeri penjajah.
Juga Bung Karno, pada 1930. Ia diadili di Landraad, Bandung karena kasus serupa, lalu dihukum empat tahun penjara. Dalam pembelaannya di pengadilan, ia katakan, yang diadili bukanlah Soekarno, pembelaannya bukanlah pembelaan Soekarno. Tapi rakyat Indonesia, dan pembelaannya adalah pembelaan Indonesia, yang melintas tanah datar, gunung, dan samudra, ke kota Raja sampai ke Fakfak, ke Manado hingga ke Timor.
Pembelaan itu ia beri judul Indonesia Menggugat. Itu 76 tahun lalu, sebelum Indonesia merdeka, penderitaan dan kemelaratan rakyat diuraikan secara panjang lebar. Kini, setelah 61 tahun merdeka? n rizagana
Tulisan ini telah dimuat di Investor Daily edisi Selasa, 15 Agustus 2006 halaman 24
Rubrik RASAN
Tuesday, August 15, 2006
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 komentar:
Post a Comment