LIBUR telah usai. Plus cuti bersama, lumayan, ada lima hari. Usai pula perayaan 17 Agustus. Pidato Presiden tentang rencana-rencana (ekonomi) 2007 juga sudah disampaikan di Gedung DPR. Yang tersisa adalah perbincangan seputar pidato itu. Ada pula yang meributkan tentang angka-angka yang disampaikan. Data, fakta, prediksi, target, dan segala macam angka dikritisi. Mirip diskusi para penggila togel.
Presiden yang ingin hasil kerjanya mendapat ponten, menampilkan angka kemiskinan dan pengaguran telah berkurang drastis pada 2005 dibanding 1999. Tapi ekonom yang ingin dinilai kritis menganggap presiden dan pembantu-pembantunya yang menyusun naskah pidato itu sebagai pembohongan publik. Mereka, ekonom itu, yakin pada 2006, angka kemiskinan dan pengagguran telah merangkak naik lagi dari hasil setahun lalu.
Pusing amat! Libur, ya libur. Pusing di kota, represhing ke desa. Daripada mendengar ‘keributan’ soal angka-angka ekonomi yang nggak mudeng itu, mending jalan-jalan ke kampung-kampung. Nun di perbatasan Sumatera Selatan-Lampung. Tepatnya di Kecamatan Belitang, 120 kilometer dari Palembang. Cerita sukses para transmigran ada di sana. Sebuah kecamatan yang menjadi lumbung beras di Sumatera Selatan.
Naik bus. Nyeberang laut, tetap naik bus. Bus yang naik kapal feri. Di perjalanan, tak ada perbedaan yang mencolok. Jalan di jalur tengah yang dulu mulus, kini mulai bolong-bolong atau sebaliknya. Di kiri-kanan jalan ada berdiri bangunan baru, rumah atau pabrik. Namun yang mencolok adalah sepeda motor dan telepon genggam.
Untuk berniaga, bekerja, sekolah, motor sudah hampir 100% menggantikan peran sepeda. Tiga atau lima tahun lalu, motor adalah barang mewah. Untuk membelinya pun, orang harus ke kota. Palembang, Bandar Lampung atau bahkan ke Jakarta. Plat nomor polisi B juga sebuah kebanggaan. Sekarang, dealer sepeda motor berbagai merek, dari Jepang atau Cina, sudah tersedia. Bahkan ‘dealer’ motor seken pun tersedia, yang khusus didatangkan dari kota. Juga berbagai merek.
Seorang pegawai di sebuah dealer motor di situ mengaku, tiap hari mereka bisa menjual 20 motor baru. Motor keluaran Jepang. Motor Cina lebih sedikit. Tapi motor bekas keluaran Jepang tiap hari dikirim dari Jakarta dan kota lain mencapai 50 unit per hari. Belum lagi motor bekas keluaran Cina. Maka, tak heran bila bengkel motor bermunculan di tiap-tiap desa. Tambal ban ada di mana-mana, mendampingi penjual bensin eceran. Toko asesoris juga.
Pun begitu dengan handphone. Remaja tanggung, pegawai kantor, pedagang, supir bus tak terkecuali. Toko handphone berjejer dengan logo dari merek-merek hp terkenal dan operator ponsel menjadi lambang toko atau bahkan menjadi background dalam toko. Toko asesoris, jual-beli hp bekas, pulsa juga menjamur hingga ke pelosok desa.
Apakah ini pertanda kemakmuran?
Sejumlah lapangan kerja tercipta, sejumlah kekayaan berpindah tangan. Tak terkecuali sawah terpaksa ditukar dengan motor. Roda ekonomi bergerak. Pemilik motor harus membeli bensin, menservisnya. Mau tidak mau ada anggaran baru yang harus disiapkan. Begitu juga dengan pemilik hp. Mereka harus rutin mengisi pulsa, kalau tak mau ganti nomor hp. Tapi, yang miskin tak perlu dibicarakan. Ia tetap saja tak bisa membeli motor, motor seken keluaran Cina sekalipun, juga hp.
Maka keluarlah angka-angka baru, beban baru dalam anggaran rumah tangganya. Itu, tentu saja, sudah termasuk beban tambahan dari berbagai kenaikan harga-harga yang sudah terjadi pascakenaikan harga BBM pada tahun lalu. Tapi pasti, itu belum termasuk kenaikan harga-harga yang pasti terjadi akibat pengumuman pemerintah menaikkan gaji pegawai negeri sipil, anggota polri dan TNI.
Tapi, tidak! Mereka tidak meributkan angka-angka yang dipidatokan presiden. Tidak tahu, atau malah tak mau tahu. n rizagana
Tulisan ini telah dimuat di Investor Daily edisi Selasa, 22 Agustus 2006 halaman 24
Rubrik RASAN
Wednesday, August 23, 2006
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 komentar:
Post a Comment