Tuesday, June 13, 2006

Angan-angan Pegawai Negeri

BAMBANG masih memegang remote control, duduk di kursi malas. Ketika pertandingan sepak bola Belanda vs Serbia Montenegro memasuki setengah main, istrinya menangkupkan telapak tangan kirinya ke jari telunjuk kanan yang mengacung. Time out! Dan, layar tv 14 inci itu pun gelap.

“Mulai tahun depan, saya mau ngumpulin ibu-ibu untuk arisan dan....”

Weleh, weleh.... Mau arisan saja, tv dimatiin! Gimana kalau kamu ikut Indonesian Idol!”

Sang suami berusaha merebut remote control. Istri tak kalah gesit. Senyuman dan matanya tetap santun. Daripada banyak ngomong, ia lantas menyodorkan catatan kecil yang ia siapkan sore tadi. Tentang anggaran belanja rumah tangga mulai tahun depan. Sang suami tak hirau kata arisan yang dilingkari. “Angka apa-apaan ini?”

Weleh, weleh.... Bapak ini gimana. Kura-kura dalam perahu atau memang nggak baca koran, nggak nonton berita. Kalau bal-balan, begadang pun oke. Ini anggaran rumah tangga kita mulai 2007!” Sang istri lantas mengulang pernyataan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Taufik Effendi yang berniat menaikkan gaji pegawai negeri golongan paling rendah jadi Rp 2 juta pada 2007. “Gaji bapak, jadi berapa, ya?”

“Amin, amiiin! Tapi, lha, ini. Kelakuanmu sudah kayak bapak-bapak pejabat itu....” Ia tak melanjutkan bicaranya. Ia tak hendak merusak kegembiraan istrinya. Lalu, ia minta tv di-on-kan kembali. Obrolan pun berganti dengan riuh rendah perhelatan akbar di Jerman itu.

Esoknya, pegawai negeri golongan III itu mengambil kliping koran dalam tasnya dan menyodorkan kepada istrinya. Cas-cis-cus ia bicara. Bak pakar dalam panel diskusi di hotel berbintang. Persoalan itu telah hangat di kantornya, di ruang kerja, di warung, dan di dalam bus kantor. Dengan teman, juga atasannya. Ia berusaha mengingat kembali argumen-argumen yang terlontar dari diskusi yang lebih mirip pepesan kosong itu.

“Pak menteri ini sudah dua atau tiga kali bicara seperti ini. Dan, ini syaratnya: bila jumlah pembayar pajak mencapai 30 juta.” Bambang terlihat serius. Sang istri diam, membiarkan suaminya berceloteh. Ia memilih pasang kuping lebar-lebar.

“Tahun lalu, hingga pertengahan, jumlah pembayar pajak baru tiga juta. Pada Oktober 2005, jadi 10 juta, sekarang 12 juta. Tapi berapa kenaikan penerimaan negara? Yang menyetorkan kembali SPT-nya, berapa? Banyak yang ogah. Ada juga yang salah alamat, atau malah orang yang dituju dalam surat Ditjen Pajak ternyata sudah lama mati. Tahun depan, jadi 30 juta atau naik hampir tiga kali lipat?”

“Persoalannya, bukan pada bisa atau tidak mencapai target 30 juta itu. Tapi pemerintah mau atau tidak menaikkan gaji pegawai negeri. Sekarang pun bisa, kalau pemerintah mau. Tapi bicara soal keperluan, dan soal-soal lain, ya susah. Masalah efisiensi, kebocoran, bayar utang, anggaran pendidikan yang 20%, kesehatan, infrastruktur jalan, jembatan, bencana alam, penerimaan pajak. Itu kait-mengkait dan tak ada habis-habisnya. Dari hampir empat juta pegawai negeri, ternyata hampir 400 ribu palsu, 66 ribu orang menerima gaji ganda. Gaji naik, semua harga juga naik. Itu terjadi selama bertahun-tahun.”

“Kenaikan gaji tahun ini, yang 10%, itu pun sudah membuat susah pemerintah. Sekarang pemerintah mau naikkan 100%. Siapa pegawai negeri yang tidak senang. Tapi....”

“Tapi, apa pak?” Giliran istri yang tak sabar.

Mbok ya, yang realistis saja, bu! Uang belum di tangan, rencana sudah dibuat hingga membungahkan. Lalu mau disiarkan ke ibu-ibu sekitar sini, teman ngerumpi, dan kepada anak-anak. Janji beli ini dan itu, mau begini dan begitu. Kenapa sih merencanakan sesuatu dari sesuatu yang belum ada ujudnya? Untuk apa?”

Bu Bambang diam seribu basa.

“Atau ada rencana lain... agar bapak jadi ketua RT?”

“Berangan-angan, kok keterlaluan. Ketika banyak pegawai negeri tak memedulikan gaji, kok ibu malah memikirkan kenaikan gaji yang belum tentu itu. Pakai teori jika-maka segala. Yang jika-nya saja belum tentu terwujud, Ibu sudah merencanakan yang ‘maka’. Bahkan, kalau pun ‘jika’-nya terealisasi, belum tentu --seperti ilmu Tuhan-- maka jadilah ia. Tapi, moga-moga saja, iya!”

“Bu, bu, Mbok yao...!” n rizagana

Tulisan ini telah dimuat di Investor Daily edisi Selasa, 13 Juni 2006 halaman 24
Rubrik RASAN