“Boycott all USA products the day they attack Iraq without UN approval. Join us and send this massage to 10friends globally. Thx”
Demikian SMS berantai yang hari-hari ini hadir di layar posel. Sebuah ajakan kepada seluruh dunia untuk memboikot seluruh produk Amerika Serikat (AS). Langkah kecil –tapi bila kompak bisa berdampak digdaya—yang bertujuan menghantam hegemoni AS dalam bidang politik dan ekonomi. Karena jelas sulit melakukan langkah besar, dengan alat perang atau senjata ekonomi sekalipun.
Gerakan anti-AS sebenarnya sudah lama berlangsung. Palestina, Kuba, Iran, Irak dan umumnya dunia Arab sudah melakukan langkah besar, tetapi tak ada dampaknya apa-apa terhadap polisi (preman?) dunia ini. Langkah Irak pada November 2000 lalu, mendapat acungan jempol dari analis barat. Yakni, ketika Presiden Saddam Hussein memutuskan tidak lagi menggunakan mata uang dalam seluruh transaksinya.
Yang paling besar adalah hasil penjualan minyak Irak, yang dalam lima tahun ini nilainya US$60 miliar. Saddam juga mengubah cadangan devisanya US$10 miliar yang disimpan di BNP Paribas (Perancis) cabang New York ke Euro, mata uang tunggal Eropa yang lagi naik daun itu.
Kabar ini cepat tersiar. Iran tertarik dengan ide gila Saddam itu. Bank Sentral Iran tengah mempelajari proposal tentang perubahan currency dalam transaksi minyak itu. “Tampaknya bakal disetujui, apalagi Euro sekarang lebih kuat dari dolar,” ujar seorang anggota parlemen negara Islam itu. (“Economics Drive Iran: Euro Oil Plan, Politics Also Key,” www.IranExpert.com, Agustus 2002). Bank Sentral Iran, kata Mohammad Absspour, anggota Perlemen Iran ("Forex Fund Shifting to Euro," Iran Financial News, www.payvand.com), juga sekalian akan mengkonversi semua cadangan devisa, dan aset-asetnya yang semula dalam dolar AS menjadi Euro. Sayang tak disebutkan nilainya.
Iran dan Irak adalah negara yang sakit hati terhadap AS. Venezuela, yang baru saja gagal dikudeta, negara Amerika Latin, Korea Utara, Rusia, dan China disebut-sebut telah mendiversifikasi cadangan devisanya lebih banyak memakai mata uang Euro ketimbang dolar. Bagaimana dengan negara Arab lainnya. Arab Saudi, sekondan AS yang paling dekat saat ini dikabarkan telah mengubah dan menarik portofolio investasi yang semula dalam dolar dan ditempatkan di Euro.
Yang juga mengkhawatirkan adalah langkah OPEC, kartel negara-negara pengekspor minyak dunia, yang kini terang-terangan untuk mempertimbangkan pengalihan transaksi penjualan minyak mentah dari dolar AS ke Euro. Javad Yarjani, kepala Departemen Analisa Pasar Minyak OPEC pada 14 April 2002 diundang Kementrian Ekonomi Spanyol untuk mempresentasikan tentang Peran Euro secara internasional dalam makalahnya berjudul "The Choice of Currency for the Denomination of the Oil Bill" (www.opec.org) di hadapan Komisi UE.
Yarjani mengatakan, peluang mengubah currency oil ke Euro itu terbuka dengan menunjukkan keuntungan-keuntungannya. Misalnya, mengecilnya resiko harga minyak dan risiko kurs yang positif bagi negara-negara pengimpor maupun pengekspor.
Sekarang total produksi minyak OPEC mencapai 25 juta barel per hari. Dengan harga US$30 per barel, berarti nilainya US$750 juta per hari atau US$273,75 miliar per tahun. Suatu angka yang tidak seberapa. Bagi dolar AS, apalah artinya transaksi yang “cuma” US$273,75 miliar dibandingkan dengan transaksi lain yang menggunakan dolar AS. Karena dolar AS dutransaksikan pada lebih dari 4/5 total transaksi valas yang nilainya ribuan triliun dolar AS, dan separo transaksi ekspor-impor dunia menggunakan denominasi dolar, yang pada dekade 90-an nilainya mencapai US$3,5 triliun.
Ya, memang dari segi nilai, kecil. Tapi, diingatkan tentang tiga “Street” pendukung ekonomi AS saat ini. Wall Streets, Main Streets, dan satu lagi Oil Street atau Middle East Street. Ketika salah satu Street ini diganggu, seluruh street yang menjadi tumpuan ekonomi AS itu akan ikut terganggu. Artinya, bila sampai transaksi minyak mentah dunia beralih ke Euro, bukan tidak mungkin kepercayaan terhadap dolar AS akan menurun dan orang akan ramai-ramai meninggalkan dolar AS.
Tak heran Henry C. Liu dalam artikelnya yang dirilis Asia Times (11 April 2002), sudah berani membuat judul “US dollar hegemony has got to go.” Lalu, W. Clark dalam tulisannya “The Real Reasons for the Upcoming War With Iraq: A Macroeconomic and Geostrategic Analysis of the Unspoken Truth” yang dirilis pada 26 Januari 2003 dan direvisi pada 6 Maret 2003 mengaitkan serangan AS ke Irak kali ini demi mencegah gerakan negara lain, khususnya OPEC, untuk menggunakan Euro dalam transaksi minyak mentah dunia. Inilah perang dolar AS versus Euro.
Soedradjad Djiwandono Soedradjad Djiwandono, mantan Gubernur Bank Indonesia dalam sebuah tulisannya (Kompas.com, Maret 2003) menyebut, analis Clark –yang latar belakang keilmuannya masih diragukan itu-- masih spekulatif. Tetapi tidak sedikit analis barat yang memperkirakan dampak dari pengalihan currency oil ke Euro itu akan sangat dahsyat bagi ekonomi AS.
Masih ingat ketika Riza Pahlevi jatuh digulingkan Ayatollah Khomeini pada 1979. AS kehilangan teman baiknya. Harga minyak dunia melambung US$40, dan harga emas menjadi US$800 per ounces. AS terpaksa menaikkan tingkat suku bunga secara drastis menjadi 15-20 persen. Inilah resesi terparah sejak Perang Dunia II, tetapi masih kalah hebat dari Great Depreciation pada 1930.
Dalam kasus Irak beralih ke Euro -- apalagi diikuti oleh OPEC-- banyak analis mulai hitung-hitungan. Petro dolar biasanya diputar kembali ke aset-aset yang berdenominasi dolar yang umumnya di AS, seperti T-Bills, saham, real estate atau aset-aset lain. Bukan tidak mungkin akan banyak yang ikut-ikutan mengalihkan aset dan portopolionya dari dolar ke Euro. Bila terjadi capital flight dolar AS secara besar-besaran, bukan tidak ekonomi AS akan collapse atau paling tidak dolar AS akan mengalami crash 20-40 persen. Inilah akhir hegemoni AS, kata Hazel Henderson, dalam "Beyond Bush's Unilateralism: Another Bi-Polar World or A New Era of Win-Win?" InterPress Service pada Juni 2002 (www.hazelanderson.com).
Bretton Woods
Keperkasaan dolar AS dimulai di Konferensi Bretton Woods pada 1944, yang melahirkan Bank Dunia dan IMF (Dana Moneter Internasional). Sistem nilai tukar mata uang dunia dilaksanakan dengan mengikat nilai tukar mata uang negara-negara anggota IMF secara ketat terhadap dolar AS. Mata uang negara lain hanya boleh naik-turun sebesar satu persen terhadap dolar AS. Jaminannya dolar AS pun diikat dengan emas, dimana satu ounce (28,1 gram) setara dengan US$35.
Keputusan ini otomatis menjadikan dolar AS sebagai mata uang utama --untuk tidak menjulukinya mata uang tunggal—dunia. Meski sedikit terganggu, pada dekade 60-an dan 70-an, ketika AS kalah dalam perang Vietnam. Pada 1973, AS mendevaluasi dolar. Namun, sejak Bretton Woods, dolar AS telah menjadi sangat perkasa dalam perekonomian dunia, baik sebagai cadangan devisa seluruh negara di dunia, alat intervensi di pasar valas, dipakai untuk hampir seluruh transaksi barang dan jasa di seluruh dunia.
Dua pertiga cadangan devisa di seluruh dunia menggunakan dolar AS. Di Asia apalagi, seperti Jepang yang memiliki cadangan devisa US$450 miliar, China (US$250 miliar), Taiwan (US$170 miliar), Hongkong (US$100 miliar) dan Korea Selatan (US$100 miliar), Indonesia (US$31 miliar), dan Filipina (US$15 miliar).
Soedradjad Djiwandono mengatakan, dengan posisi seperti itu, AS tak perlu khawatir dengan kinerja makro ekonominya yang keberatan beban. Beban defisit transaksi berjalan hampir lima persen dari GDP-nya yang US$10,5 triliun, sedangkan pinjaman domestiknya mencapai dua pertiga GDP-nya. Karena memang dolar sangat kuat dan dominan itulah, ada yang berseloroh, makin gede defisit dan utangnya, AS lebih senang. Karena semua itu akan jadi tanggungan negara lain. Kalau ada apa-apa, AS bisa mencetak dolar.
Ada juga yang mengibaratkannya semacam sebuah game: AS mencetak dolar, sedangkan negara lain memproduksi barang agar dibeli oleh dolar. Naik turunnya nilai tukar, bagi AS tak berpengaruh langsung terhadap harga barang itu, sebaliknya akan berpengaruh langsung bagi negara yang tak menggunakan dolar sebagai alat tukar di negaranya. Karena itu, AS tinggal memperkuat posisi dolar agar nilai barang yang diproduksi itu makin rendah. Game itulah yang kini dimainkan bank sentral AS dengan US Treasury-nya. Mereka menjadi penentu dalam kebijakan sistem moneter global.
Ketika AS sedang berasyik-masyuk dengan game itu, pada Januari 1999 lalu Euro lahir. Mata uang tunggal Eropa ini dibidani 12 negara anggotanya. Mereka adalah Belgia, Jerman, Yunani, Spanyol, Perancis, Irlandia, Italia, Luksemberg, Belanda, Austria, Portugal dan Finlandia. Inggris, Denmark, dan Swedia belum bergabung hingga kini. Kalau tiga negara ini masuk, jelas UE menjadi kekuatan ekonomi dunia baru, yang sangat berbagaya bagi eksistensi hegemoni AS dan dolarnya. Dengan penduduk 450 juta jiwa, PDB UE mencapai US$9,6 triliun, hampir sama dengan PDB AS (US$10,5 triliun) yang berpenduduk 280 juta.
Awalnya bayi Euro merambat, meski terseok-seok. Hingga akhirnya tersungkur dihajar tragedi Black September (911) menjadi US$0,82 atau turun 30 persen dibandingkan nilai saat dilahirankan. Setelah itu, Euro bangkit lagi, pekan lalu nilai Euro sudah bertengger di US$1,0752. Saddam yang sudah lebih dulu menginvestasikan uangnya di Euro, jelas untung besar. Jadi tidak ada untungnya mendukung dolar dan AS. (rizagana)
Dipublis di Harian Investor Indonesia pada 20 Maret 2003
Thursday, March 20, 2003
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 komentar:
Post a Comment