Monday, January 28, 2008

Dimainkan Saham

TIDAK, Ayah! Aku dan anak-anak tidak akan memakan uang hasil main saham.”

Seorang ibu bangkit dari kursi meja makan. Diskusi keluarga, antara suami dan istri tentang menginvestasikan uang di pasar saham pun usai. Sang istri bisa menerima argumen suaminya bahwa main saham bukanlah judi, meski masih ragu. Ragu karena ada saham syariah, ada indeks syariah.

Cerita tentang gain Rp 10 per saham yang lepas berubah menjadi potential loss hanya gara-gara ingin gain yang lebih besar. Maruk. Detik demi detik harga saham bergerak. (Di-)Naik-turun(-kan), tak terduga, dan berakhir dengan penyesalan. Ketika harga saham ditahan, harga malah melorot dalam hitungan detik atau menit. Ketika saham dilepas, harganya malah melambung hanya dalam hitungan jam atau hari. "Bandar, mafia saham lokal, yang bermain."

Sang suami masih di kursi di meja makan sambil menyudahi santap malam. Malam sekali. Segelas besar air disedotnya, dan pletak –suara gelas beradu dengan kaca pelapis meja makan. Ia tetap di kursinya sambil mengamati TV yang sedari tadi tak bersuara, karena disetel dalam posisi mute.

Tadi pagi, Senin 21 Januari 2008, indeks harga saham gabungan rontok 100 poin lebih. Sang suami masih terbayang-banyak akan kerugian yang dideritanya. Ia tak berani menjual portofolio sahamnya, dan berharap esok pagi indeks kembali pulih. Dan, yang lebih penting lagi, potential loss yang tercatat di bukunya berubah menjadi potential gain.

Selasa, 22 Januari 2008. Sang sumi tertidur setelah tugas rutin mengantar putrinya ke sekolah. Pukul sembilan lewat 25 menit ia terbangun. Tanpa ba-bi-bu lagi, ia langsung menyalakan komputer. Mengoneksikan komputer dengan internet, dan masuk ke situs biasa, tempat ia bertransaksi. Istrinya sudah berangkat duluan. Tugas.

“Gila!” Sang suami menggaruk kepala yang tak gatal. Pasar bursa belum dibuka. Masih satu menit lagi dari pukul 09.30 WIB. Posisi indeks sudah minus 164 poin.

Tak mau menyaksikan kejatuhan bursa lebih dalam, komputer dimatikan. Ayah tiga orang putra itu tidur lagi. Tapi matanya tak bisa merem. Pikirannya terus ke portofolio saham miliknya.

Mendekati pukul 10, ia bangkit dan menyalakan lagi komputer. Indeks masih minus, bahkan makin telah melampaui 200. Komputer di-shut down lagi, dan kembali ke peraduan. Matanya masih saja melotot.

Ambil handuk, ke kamar mandi. Ambil odol, dioleh ke telapak tangan. Dan, ups... nyaris saja dibasuhkan ke muka. Ia berusaha menenangkan diri. Pelan-pelan seluruh tubuhnya diguyur air. Mandi seperti biasa. Keramas. Bergegas menuju markas kantornya.

“Ekonomi Amerika di ambang resesi!” Bursa di seluruh dunia ambruk. Mereka lantas menyebutnya sebagai Black Tuesday. Kejatuhan bursa hari ini merupakan yang terburuk setelah runtuhnya menara kembar di AS, World Trade Centre, pada 2001.

Time to buy!” Ini saatnya membeli saham. Saham yang ada jangan dulu dijual, tapi beli lagi.
“Gila! Duit dari mana? Lagi pula, kondisi global yang di ambang resesi, kok mau beli saham lagi. Iya, kalau besok, indeks rebound. Kalau terus terpuruk, gila aja lo!”

Hari itu, indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup minus 250 poin. Saham PGAS yang selama ini bertengger di atas Rp 15.000 sudah menyentuh level Rp 10.000. Saham ANTM yang dua pekan lalu berada di level Rp 4.500 sampai Rp 5.000, tinggal Rp 2.900. BUMI yang biasanya di atas Rp 6.000 tinggal Rp 4.700.

Aneh. Investor asing kok ramai sekali bertransaksi beli. Di Bursa Efek Indonesia, di bursa Asia lainnya. “Gila!”

Sang suami masih belum bisa berpikir jernih. Potential loss dari portofolio sahamnya hampir 30% dari total nilai portofolionya. Pernyataan Menko Perekonomian Boediono dan Menkeu Sri Mulyani Indrawati tak membuatnya tenang.

Hari sudah gelap. Ia belum mau beranjak dari kursi di kantornya. Komputer di mejanya belum juga ditutup. Ia masih ingin menyaksikan bursa di New York. Indeks Dow Jones biasanya menjadi acuan. Kalau hijau, berarti ada harapan. Tapi kalau merah, bursa Indonesia dan regional bakal makin berdarah-darah.

“Gila!” Bank Sentral Amerika mengambil kebijakan drastis dengan memangkas suku bunga The Fed sebesar 75 basis poin menjadi 3,5%. Sebuah langkah yang oleh orang awal tak terduga, tapi mungkin tidak oleh pemain saham global.

Dan, benar bursa di seluruh dunia pun ijo royo-royo. Investor yang pada kejatuhan bursa pada Black Tuesday mengambil posisi time to buy, pesta pora. Investor asing, terutama.

“Jangan-jangan investor asing, mereka yang besar-besar itu, mafia bursa dunia, sudah tahu bocoran bahwa bank sentral AS bakal memangkas Fed fund rate sebesar 75 basis poin. Lalu, mereka sengaja menghancurkan bursa global. Lalu dengan dana mereka yang tak terbatas, mereka memborong saham yang harganya sudah jatuh berguguran.”

Kali ini, ia termenung. Bukan memikirkan portofolionya. Bukan pula mafia bursa dunia. Juga bukan tentang ucapan sang istri yang tidak mau makan uang hasil main saham. Tapi tentang pikirannya sendiri yang dipermainkan mafia saham global, diperbudak oleh gain yang tidak seberapa, diperas dan dipaksa berpikir keras.

“Kenapa ayah membiarkan pikiranmu menjadi selalu galau, gundah, menjadi tidak tenang. Itu akan menjadi sumber penyakit.”

Lamat-lamat suara Iwan Fals melantunkan syair...
"Keinginan adalah sumber penderitaan
Tempatnya di dalam pikiran..." n rizagana


Tangerang, 28 Januari 2008

Sunday, November 04, 2007

'Apa Kata Dunia'

“Jenderal! Turunkan tangan kau, Jenderal. Turunkan, Jenderal!”

Jenderal Nagabonar terisak-isak dan terseok-seok meniti tali menaiki patung Jenderal Soedirman di tengah jalan protokol di Jakarta.

Nagabonar, yang pencopet itu, tidak rela jenderal pujaannya memberi hormat kepada siapa saja di jalan raya yang dipadati kendaraan roda empat. Siapa pula yang dihormati Jenderal Soedirman itu siang dan malam? Pertanyaan yang mirip dilontarkan Nagabonar ketika menyambangi Taman Makam Pahlawan di Kalibata, Jakarta. “Apakah semua yang dimakamkan di sini, pahlawan?”

Anak-anak terkekeh-kekeh menyaksikan adegan film dari DVD bajakan yang dibelikan orang tuanya.

Di luar rumahnya, anak-anak bangsa ini juga sedang tertawa terbahak-bahak. Bukan karena tingkah polah Nagabonar. Tapi menertawakan diri sendiri dan orang lain atas tingkah-polah orang asing di negerinya.

Khususnya dalam pekan-pekan terakhir ini. Sebuah perusahaan konglomerat Singapura sedang menunggu vonis dari Komisi Pengawas dan Persaingan Usaha (KPPU) Indonesia dan di Jakarta. Melinda Tan, juru lobi Temasek, kembali harus pergi-pulang Jakarta-Singapura. Ini berkaitan dengan dugaan monopoli Temasek dalam industri telekomunikasi Indonesia.

Sebuah perkara yang sudah lama. Paling tidak sejak Singapore Technologies Telemedia Pte Ltd (STT) membeli sekitar 42% saham PT Indosat pada 2002. STT adalah anak usaha Temasek. Jauh sebelumnya, Temasek melalui Singapore Telecommunications Ltd (SingTel) telah memiliki 35% saham PT Telkomsel. Konglomerat dari Singapura itu dituduh melanggar UU No 5/1999 tentang Larangan Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, khususnya pasal 27.

Jadilah, sepekan terakhir ini, ditambah pekan ini, berita tentang Temasek menghiasi media massa di Indonesia. Sumbernya rata-rata orang Indonesia, pengamat ekonomi, pejabat, dan tidak ketinggalan anggota DPR. Ada (banyak) yang mendukung Temasek, dengan mengatakan bahwa Temasek tidak melakukan kepemilikan silang (cross ownership). Dan, macam-macam lagi argumentasi yang dikemukakan, menyudutkan anggota KPPU yang sedang bekerja, bahkan sampai menghujat anak bangsa sendiri.

"Apa kata dunia!" kata mereka yang mendukung Temasek. Ini soal investasi asing. Ini tentang kepastian hukum dan berusaha. Ini mengenai anggota KPPU yang dituduh menerima suap.

Tapi, tak sedikit pula yang mendukung. Entah, mereka benar-benar mendukung dengan logika berpikir yang jernih dan keilmuwan yang bisa dipertanggungjawabkan. Atau itu sekadar olah vokal, demi menanti royalti dari lagu yang dinyanyikan. Lalu tutup mulut, atau bahkan balik mendukung Temasek dan dengan gagah berani ‘menyerang’ anak bangsa sendiri.

"Apa kata dunia!" Mereka yang mendukung KPPU lantang bersuara. Lebih lantang dan kental logat Medan-nya daripada orang Medan. Ini soal harga diri bangsa. Ini tentang dan mengenai dunia yang sesungguhnya tak bisa berkata-kata.

Apa peduli dan siapa peduli dengan putusan KPPU tentang monopoli Temasek itu, sejatinya? Tak perlu pulalah menyebut siapa yang mendukung, siapa yang menentang. Tak lagi menarik mengatakan, putusan itu akan memengaruhi masuknya investor asing di Indonesia. Soal Singapura, yang katanya banyak ‘menyembunyikan’ konglomerat hitam dan koruptor plus hasil jarahannya itu, juga tak perlu dibahas.

Karena hasil putusan KPPU itu sejatinya menjadi tidak penting lagi dibahas. Apapun putusan yang dijatuhkan oleh KPPU, bangsa ini benar-benar sudah tercabik-cabik. Anak bangsa ini sudah diaduk-aduk dan diadu-domba dengan begitu mudahnya. Gampang sekali. Segampang menumpahkan darah bangsa sendiri.

Ranah pemikiran tidak lagi penting, apakah ia benar secara keilmuwan atau sekadar cuap-cuap agar suap demi suap masuk ke dalam mulutnya. Kebenaran toh bisa disembunyikan di balik baju lembaga yang mentereng, di balik safari jabatan yang tebal, di balik ketiak tuan-tuan berkantung tebal.

Jadi, untuk apa sebenarnya membahas masalah ini. Juga mengada-ada atau bahkan akan ditertawakan secara berirama kalau ada yang bilang, “Hey! Ini menjelang Hari Pahlawan. Tanggal 10 November itu tinggal beberapa hari lagi! Apakah mereka-mereka yang pro dan kontra itu ingin menjadi pahlawan?”

Ah, lebih baik melanjutkan menonton film Nagabonar 2 dari DVD bajakan seharga sepuluh ribu perak. Meski, lama-lama sogan terkenal dari Nagabonar "apa kata dunia" itu tak lucu lagi. Justru adegan pro dan kontra tentang kasus cross ownership itulah yang lucu dan menggelikan sekaligus menyedihkan. o

Jakarta, 4 November 2007

Thursday, October 18, 2007

Belitang

MUDIK. Meninggalkan Jakarta dan kemacetannya. Menjauhi kesibukan dan tekanan dead line dan portofolio saham yang tiap hari menerjang pikiran. Menjelang Gema Takbir, menyongsong kampung kelahiran dan masa-masa remaja.

Di tengah pasar, di kelilingi hijau sawah-sawah yang membentang, di sisi sungai kecil jaringan irigasi yang setiap 3-5 kilometer dibendung agar mengairi sawah-sawah milik penduduk.

Di antarkan jalan beraspal mulus di sisi sungai kecil yang disodet dari Sungai Komering itu. Itu adalah jalan masuk ke kampung, setelah 24 jam (hari biasa cuma 12 jam) menyusuri Jakarta-Merak-Bakauheuni-Bandar Lampung-Kotabumi-Bukit Kemuning-Martapura-Belitang.

Di gerbang Belitang, sebuah tugu raksasa bertuliskan Selamat Datang di Kota Terpadu Mandiri (KTM). Sejak kapan? Bukankah Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno baru saja mengumandangkannya?

Deru sepeda motor menyesaki jalan, beriring-iringan, memagari setiap mobil yang lewat. Dulu, tiga tahun lalu, cuma ada beberapa sepeda motor, selebihnya adalah iring-iringan sepeda angin. Kendaraan itulah yang mengantarkan mereka ke sekolah, berniaga ke pasar, atau mengunjungi handai-tolan.

Memasuki Gumawang, ibukota Kecamatan Belitang, rumah-rumah toko yang dulu bertingkat papan dan kayu, kini full beton. Toko-toko pun makin beragam. Mulai dari handphone dan asesorinya hingga dealer motor berjejer. Ada juga toko elektronika, termasuk komputer dan laptop. Di sisi lain berjejer toko grosir untuk beragam barang diselingi kantor bank, Bank Sumsel atau BRI.

Tiga tahun lalu masih ada kawan atau kerabat yang menanyakan mobil yang dibawa ke kampung. (Padahal yang dibawa mobil sewaan). Kali ini tidak ada. Mobil mereka lebih mewah, bahkan mereka punya lebih dari satu mobil. Kijang Inova, Honda CRV hingga Mitsubishi double cabin.

Bangga bercampur heran. Ada apa gerangan dengan (perekonomian) kampung yang berjarak 120 kilometer dari Palembang, yang selama ini dijuluki Lumbung Padi Sumatera Selatan itu.

“Karet!” jawab mereka pendek.

Teringat pada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ketika mampir dan shalat Jumat di Masjid Agung Gumawang, Belitang pada 28 Januari 2005. Tepat 100 hari setelah ia dilantik jadi presiden. Ia datang ke kampung itu dalam rangka Panen Raya Padi. “Kita tidak ingin pengusaha kuat makin kuat, sementara petani dan nelayan makin terjepit dan makin miskin,” kata Presiden.

Di sela pidatonya, ia menyebut karet dan kelapa sawit. Ia pun menyerahkan bibit tanaman karet dan kelapa sawit.

Tentu, bukan bibit dari Presiden yang membuat rakyat Belitang makmur seperti itu. Karena karet baru bisa dipanen setelah tanaman karet berusia lima tahun. Paling tidak Presiden sudah mendapat informasi tentang gairah penduduk Belitang menanam karet. Kedatangan
Presiden dan pemberian bibit karet dan sawit itu pun tentu tak dimaksudkan agar petani meninggalkan tanam padi.

Tapi kini, karet adalah masa depan petani. Sekarang separuh pendapatan petani di Sumsel berasal dari karet.

Apalagi harga karet dunia saat ini sudah US$ 2,1 per kg. Karet petani di Belitang dihargai separuhnya, cuma Rp 9.000 per kg. Satu hektare tanaman karet bisa menghasilkan dua ton karet per tahun atau setara Rp 18 juta per tahun. Tak sedikit petani yang memiliki 5-10 hektare. Modal awalnya cuma Rp 15-an juta per hektare. Dan, sekali menanam karet, seumur hidup bisa memetik hasil karena tanaman karet bisa dipanen hingga usia 30 tahun. Bagi petani yang memulai usaha pada usia 30 tahun, karet adalah tanaman untuk seumur hidup petani.

Hitung-hitungan pejabat Dinas Perkebunan Sumsel, produksi karet kering Sumsel pada 2006 mencapai 700 ribu ton karet kering per tahun atau hampir 2.000 ton karet per hari. (Produksi karet nasional pada 2006 sekitar 2,1 juta ton). Hampir semuanya diekspor dengan nilai US$ 762 juta per tahun.

Angka itu murni dari karet, belum termasuk upah yang diterima anggota keluarga atau kerabat dan tetangga yang menjadi tenaga pemelihara dan penyadap karet, pengangkut ke truk untuk dikirim ke pembeli, serta buruh-buruh di pabrik karet. Mereka itu semua yang menggerakkan ekonomi Belitang, kampung transmigrasi di perbatasan Lampung dan Sumatera Selatan. Mereka yang rata-rata tinggal di sekitar kota (sudah bisa disebut kota kah?) Gumawang.

Lamunan pun menerawang jauh hingga ke pelosok kampung lain di Nusantara ini. Teringat cerita teman dari Bojonegoro, Jawa Timur tentang perkebunan tembakau yang pernah ‘memaksa’ petani membeli kulkas untuk lemari pakaian, karena tak ada listrik. Pernah pula membaca berita di koran tentang mobil mewah Pajero yang laris bak kacang goreng di Sulawesi Selatan karena komoditi udang yang lagi naik daun. Kemudian cerita itu hilang ditelan angin.

Ada kekhawatiran dari pejabat di Sumsel tentang komoditas karet ini. Gejolak harga bukan hanya akan memengaruhi penghasilan keluarga Belitang, tapi juga cicilan kredit motor, mobil, dan rumah toko pun bisa tersendat. Harga karet bergejolak, bank bisa tersedak. Ekonomi daerah bisa batuk-batuk.

Kekhawatiran lain adalah hilangnya julukan Lumbung Padi yang selama ini melekat di Belitang karena konversi lahan sawah menjadi karet atau karena tak ada lagi yang mau menanam padi. Akankah presiden mendatang mengunjungi Belitang, seperti pendahulunya dari Soeharto, Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono untuk panen raya?

“Ah, untuk apa kampung kita selalu didatangi presiden kalau tak ada hasilnya,” sergah seorang teman. Karet kan bisa melar.
n rizagana

Tangerang, 18 Oktober 2007

Tuesday, July 03, 2007

Kemiskinan Angka


HARI ini, sebuah gambaran tentang warga Indonesia bertebaran di Tanah Air. Di media cetak maupun elektronika. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan tentang penurunan jumlah penduduk miskin di Indonesia. Pada Maret 2007, jumlah orang miskin absolut berkurang sebanyak 2,13 juta orang, dari 39,30 juta orang menjadi 37,17 juta orang pada Maret 2006. Secara persentase, angkanya juga turun dari 17,75% menjadi 16,58%. Jadi, kalau ada enam orang Indonesia berkumpul, pasti ada satu orang yang tergolong miskin absolut.

Pada saat yang sama, BPS juga mengumumkan, angka garis kemiskinan juga naik. Pengeluaran maksimum mereka yang tergolong miskin absolut sebesar Rp 166.697 per kapita per bulan. Angka garis kemiskinan itu naik 9,67% dibanding Maret 2006 yang sebesar Rp 151.997 per kapita per bulan.

Artinya, ada 37,17 juta orang sebangsa yang masih berpendapatan (sehingga hanya bisa membelanjakan) maksimum sebesar Rp 5.557 per orang per hari. Atau, kalau satu keluarga di Indonesia rata-rata terdiri atas suami, istri dan dua anak (empat anggota keluarga), berarti setiap hari keluarga itu cuma bisa belanja sebesar Rp 22.226 per hari atau Rp 666.788 per bulan.

Angka belanja yang lumayan, sesungguhnya, kalau sekadar untuk menyambung hidup. Tapi persoalannya, hidup tak melulu untuk makan. Ada biaya sekolah, biaya kesehatan, dan biaya rokok, ngopi di warung yang sesungguhnya masuk biaya entertainment juga.

Pusing juga kan melihat angka-angka itu. Angka bukan sembarang angka, tapi uang. Ya, pusing. Justru angka itu pula, sejatinya, yang membuat rumit negeri ini.

Secara total, atas dasar nilai garis kemiskinan itu, pengeluaran seluruh orang miskin di Indonesia itu maksimum sebesar Rp 6,2 triliun per bulan atau sekitar Rp 74,35 triliun per tahun (setara dengan nilai subsidi BBM pada 2005).

Dalam APBN 2007, (klaim) pemerintah menyisihkan dana kemiskinan sebesar Rp 52 triliun. Sebenarnya, kalau benar dana APBN itu tersalur ke orang miskin, ah, persoalan kemiskinan di Indonesia harusnya sudah selesai. Tahun ini seharusnya tak ada lagi orang miskin di Indonesia.

Itu pertama. Kedua, BPS menyatakan, sebanyak 74,38% dari pengeluaran warga miskin itu adalah untuk belanja untuk makan, dan sisanya untuk perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan, persoalan kemiskinan di Indonesia juga lebih gampang teratasi. Bukankah pemerintah (lagi-lagi) mengklaim, biaya sekolah dan kesehatan sudah gratis? Pemerintah juga sudah mengucurkan beras untuk rakyat miskin yang tiap tahun nilainya tak kurang dari Rp 3 triliun.

Lagi-lagi, kalau semua itu benar ada dan sampai ke orang miskin, harusnya persoalan kemiskinan di Indonesia sudah selesai alias tak ada lagi orang miskin di Indonesia.

Tapi, apalah arti sebuah angka. Pemerintah boleh-boleh saja mengklaim telah menyiapkan dana Rp 52 triliun untuk program kemiskinan. Sebelumnya ada dana kompensasi kenaikan harga BBM sebesar Rp 17 triliun untuk orang miskin. Raskin, sekolah, dan biaya berobat gratis. Faktanya telah disampaikan BPS, angka kemiskinan cuma turun 1,2%.

Sekali lagi, apalah arti sebuah angka. Pengamat Ekonomi dari Universitas gajah Mada (UGM) Revrisond Baswir tak tertarik membahas angka-angka itu, termasuk penurunan angka kemiskinan berikut peningkatan garis kemiskinan itu. Ekonom dari Tim Indonesia Bangkit (TIB), bukan tak tertarik, tapi tak percaya.

Ayo, siapa yang tertarik membahas angka-angka itu? Atau ada yang percaya dengan angka yang disampaikan BPS tentang penurunan angka kemiskinan itu dan dana yang disiapkan pemerintah untuk program kemiskinan? Angka kemiskinan atau kemiskinan angka? Program kemiskinan atau program pemiskinan? Tapi jujur saja, pembahasan dan pembicaraan tentang kemiskinan dan orang miskin bisa membebaskan orang dari kemiskinan, lho! n (rizagana)

Tuesday, March 27, 2007

Gombalisasi 2030

“Are you Indonesia?”

Seorang pria menyapa dua wanita di salah satu sudut Pulau Sentosa, Singapura, dengan tatapan penuh harap. Kedua wanita itu sedang berbincang dalam bahasa Betawi.

“Yes, we are!” Spontan keduanya menjawab.

“Sama dong!”

Mereka sama-sama menyalahkan, “sudah tahu orang Indonesia, pakai bahasa Indonesia, masih nanya? Pakai bahasa Inggris pula!”

Lalu mereka padu, berdialog dalam bahasa yang sama, elo-gue. Mereka berjalan beriringan, bercerita, berkeluh kesah.
Belasan tahun berlalu. Perjalanan itu pun mengantarkan mereka ke kampung halamannya. Dan, mereka masih melanjutkan pembicaraan dengan bahasa, bukan bahasa ibu mereka. Juga dengan orang lain. Di lingkungan keluarga, pergaulan, tetangga, dan pekerjaan. Tak apa menggunakan bahasa Inggris ala Tukul di Empat Mata.

“Ini tuntutan globalisasi, bung!”

Nama perusahaan tempat mereka bekerja tidak terkesan mentereng kalau tidak ada embel-embel asing, meski akhirnya disingkat juga agar mudah diingat. Perusahaan besar yang dulu dipaksa Joop Ave, menteri Pariwisata era Soeharto, untuk menggunakan Bahasa akhirnya kembali lagi. Kalau tidak berganti nama, ia berganti pemilik. Nama asing, dan dimiliki orang asing.

Bank-bank yang dulu membanggakan, kini telah milik asing. BCA, Danamon, Niaga, Lippo, BII, Panin, NISP.... Perusahaan telekomunikasi, Indosat, Telkomsel, Exelcomindo.... Perusahaan ritel juga, kecuali Grup Matahari. Usaha tambang, minyak dan gas, jangan ditanya. Negeri ini tengah menyiapkan menggelar karpet merah dalam bentuk aturan atau kebijakan bagi masuknya investasi asing.

Juga bidang-bidang lain, seperti manufaktur semen, tekstil dan produk tekstil. Serta jasa-jasa. Mulai dari perkapalan, teknologi informasi, dan di pasar modal. Ada kekompakan di antara orang-orang pemegang kebijakan dan stafnya, serta para wakil rakyat di DPR untuk ‘membiarkan’ dan menggelarkan karpet Istambul --UU Penanaman Modal, UU Perpajakan, dan UU Ketenagakerjaan, UU Migas, Minerba-- untuk tuan-tuan dari negeri seberang bisa ngerumpi asyik di beranda rumah sambil minum teh, kopi atau susu sambil mencicipi masakan khas Indonesia dan keramahtamahannya. Seolah rumah ini milik mereka, mereka yang atur.

Tapi masih ada BUMN, kan? Itulah yang mengkhawatirkan, sesungguhnya. Pemerintah juga sedang berancang-ancang untuk melego perusahaan milik negara, yang berarti juga milik rakyat dan bangsa ini. Alasannya pun sepele, yakni untuk menambal kekurangan pembiayaian urusan kepemerintahan atau karena BUMN itu kurang terurus.

“Ini kan globalisasi, bung!”

Wilayah negara seperti tanpa batas. Siapa saja bisa keluar-masuk dan bahkan bisa menetap, beranak-pinah, berkuasa, dan ‘menjajah’ lagi. Ketika negara-negara lain sibuk mengatur dan memagari kiprah asing di negaranya, memproteksi produk dalam negeri, sebagian orang Indonesia justru ramai-ramai terbius dolar-dolar yang terbawa arus globalisasi. Demi dapur, kemehawan keluarga, keglamoran hidup, ‘kelangsungan’ usahanya, bahkan demi kekuasaan.

Beras diimpor, pasir laut diekspor, konsentrat tambang yang dikeruk dari tanah tak usahlah diteliti mengandung emas atau tembaga, tak apalah negara lain menggunakan negara tercinta ini untuk transhipment (mengekspor) produknya, biarkan saja barang-barang selundupan membanjiri pasar dalam negeri. Untuk apa repot-repot. Pragmatis saja. Toh tak ada yang tahu. Rakyat? itu pun sudah ada wakilnya di DPR. Mereka cukup dikasih gaji dan tunjangan yang besar plus mesin cuci dan laptop.
Ini bukan lagi monopoli birokrat dan aparat, juga wakil rakyat. Dokter tak peduli pasien sehat, asal koceknya penuh dengan komisi dari produsen obat. Pengacara menganggap keadilan itu ada di dalam dompet. Tukang ojek, pedagang kaki lima membolehkan diri mangkal di mana saja. Juga wartawan benar-benar telah menjadi pilar keempat demokrasi, mengikuti jejak eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Semua bisa diatur.

Saudagar dan eksekutifnya melupakan pegawai yang serba kekurangan, kualitas dan keamanan produk yang dijual, serta aturan yang bisa diterabas. Kalau perlu uang perusahaan dimainkan. Suatu kala meneriaki pemerintah, dan menghardik buruh. Kala lain menyanjung mereka dengan nada-nada optimistis yang menggelorakan. Hei, tahukah kalian, pada 2030, ekonomi Indonesia akan menjadi lima negara terbesar di dunia! Tahun lalu, PricewaterHouseCoopers, perusahaan jasa keuangan top dari AS, juga berpendapat seperti itu, meski waktunya adalah 2050.

Apa salahnya mengikuti pola pikir orang asing itu. Mungkin saja ada sambutan dari RI-1, dan bisa menjadi P-1 (penguasa nomor) di Tanah Air, seperti era lalu. Dan, apa salahnya pula kalau ‘aku’ bertanya dalam bahasa Inggris kepada dua cewek berlogat Betawi di Pulau Sentosa itu. Mungkin saja ada sambutan hangat, dan bisa melanjutkan arus gombalisasi itu. n rizagana

Thursday, February 22, 2007

Forum CGI

“Selamat pagi, Pak!”

Suara merdu dari di balik gagang telepon genggam itu memperkenalkan diri, merayu, dan menawarkan personal loan kepada pemegang kartu kredit. Ia pegawai sebuah bank asing.

Ia mulai dari ucapan, “Selamat ya Pak! Bapak terpilih sebagai nasabah yang beruntung mendapat tawaran kredit murah tanpa jaminan, tanpa tetek bengek urusan administrasi. Bapak setuju, uang akan langsung ditransfer ke rekening yang Bapak mau!”

Ogah karena bunganya sekitar 18% per tahun. Tapi sediakanlah waktu untuk melayani rayuan suara merdu itu. Maka kata-kata pembuka tadi akan diulang-ulang. “Atau, Bapak pikir-pikir dulu. Dalam satu dua hari ini, saya akan telepon lagi.”

Pada hari berikutnya, kata-kata pembuka itu akan diulangi lagi hingga pegawai bank itu pasti, tawarannya ditolak.

Kejadian semacam itu pasti tidak hanya menimpa Anda. Ada ribuan, bahkan jutaan pemegang kartu kredit yang ‘dikejar-kejar’ bank. Bukan untuk ditagih oleh debt collector yang sangar-sangar karena tunggakan cicilan, melainkan untuk dipinjami uang.

Itu pula yang terjadi pada Pemerintah (Rakyat?) Indonesia. Puluhan tahun negeri ini menjadi pemegang kartu kredit dari lembaga keuangan multilateral dan negara donor. Forum Inter Goverment Group for Indonesia (IGGI) yang dipimpin Belanda telah dibubarkan pada era 90-an. Sebagai gantinya dibentuk Forum Consultative Group on Indonesia (CGI). Ini pun akhirnya dibubarkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 26 Januari 2007.

Ada yang memuji, ada yang mencemooh. Tapi ada juga yang mengingatkan bahaya negosiasi utang luar negeri yang dilakukan bilateral (bukan lewat forum atau multilateral). Peluang KKN makin besar. Ada-ada saja!

Entahlah! Tapi mengikuti diskusi yang digelar Earnst & Young pada Senin (19/2/07), ada sesuatu yang lain. Dedengkot tiga lembaga keuangan multilateral, Bank Dunia (Andrew Steer), Dana Moneter Internasional (Stephen Schwartz)), dan Bank Pembangunan Asia (Edgar Cua) menjadi pembicara. Dua mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) Arifin Siregar dan Adrianus Mooy tampil sebagai moderator dalam diskusi bertajuk Post CGI Era: Economic Policies and Mechanism. Ada dua moderator, lho!

Para pembicara itu, seperti biasa, memuji langkah pemerintah memperbaiki perekonomian Indonesia sambil menyelipkan saran-saran ini-itu, yang saran itu tidak pernah berubah sejak belasan atau bahkan puluhan tahun lalu: beri kesempatan selebar-lebarnya kepada investor asing menanamkan modalnya di Indonesia.

Maka ketika Forum CGI telah dibubarkan, ada kegamangan yang sangat dari lembaga keuangan multilateral itu. (Juga sebagian besar pesertanya?) Peserta diskusi ada seratusan, yang berasal dari beragam institusi. Ada dari Kadin Amerika Serikat, pejabat dari negeri Solomon, juga Hartojo Wignjowijoto yang anti dan menyebut aksi lembaga multilateral sebagai bentuk neokolonialisme.

Usai diskusi yang cuma dua jam itu, salah seorang peserta membisiki. “Kita ini nasabah besar yang good boy. Ketika kartu kredit dibelah, Forum CGI dibubarkan, mereka (lembaga keuangan multilateral) kelimpungan. Mereka tak bisa menolak, kecuali menerima. Tapi mereka tidak akan berhenti untuk terus menawarkan dananya, dan dengan segala cara.”

Diskusi yang dihadiri dedengkot dari tiga lembaga keuangan multilateral itu adalah salah satu caranya. Laporan penelitian, hasil survei, dan pernyataan-pernyataan yang dilontarkan adalah cara lain. Dan, mereka tidak bertepuk sebelah tangan, ketika Deputi Menko Perekonomian bidang Kerjasama Internasional Mahendra Siregar yang juga menjadi pembicara dalam diskusi itu menyatakan bahwa Indonesia masih membutuhkan diskusi dan konsultasi dalam forum yang tidak resmi dengan bekas anggota Forum CGI.

“Dan,” bisik peserta diskusi tadi, “Forum CGI (juga IGGI) adalah forum kongkow-kongkow yang resmi. Keren-nya forum diskusi dan konsultasi.”

Jadi, teringat suara merdu utusan bank asing yang menawarkan personal loan. Ah, seandainya tidak melalui telepon, dan ada pertemuan tidak resmi, itu pasti lain ceritanya! Bisa juga jadi forum CGI alias cari gadis idaman. n rizagana


22 Februari 2007

Tuesday, October 31, 2006

Proyek Kongko

MASIH dalam suasana Lebaran. Mudik, berkunjung ke sanak famili, teman, bermaaf-maafan, lalu bercerita tentang hidup dan kehidupan di Ibukota. Dalam perbincangan yang santai, tapi serius. Kongko.

Setelah basa-basi tentang kehidupan di kampung, pemudik biasanya jadi pendongeng. Yang diceritakan, sedikit saja tentang kehidupannya di kota besar. Selebihnya, ia ceritakan tentang wah-nya hidup dan kehidupan orang lain di Ibukota. Seolah-olah ia menjadi aktor dari orang lain yang wah itu. Tentang pekerjaan, mobil mewah yang berseliweran, gedung pencakar langit, juga tentang cewek-cewek mulus nan seksi.

Lumayan! Dapat kopi gratis, snack dan makan gratis, bahkan tiket ke Jakarta.

Puas membuat teman dan saudaranya ngiri dan ngiler. Lalu pulang. Ke rumah, ke Jakarta. Kembali ke kehidupan yang sesungguhnya. Tak sedikit yang akhirnya ikut mengadu nasib di Ibukota. Tergiur ajakan dan tawaran temannya, pemudik. “Sebentar lagi banyak proyek dibangun!”

Ya! Sejak awal, pemerintahan sekarang sudah berkoar-koar untuk membangun sejumlah proyek mega dalam bidang infrastruktur. Ada jalan tol, telekomunikasi, pembangkit listrik, pertambangan, pelabuhan, dan air minum. Seribu tiga ratus triliun rupiah, nilainya! Saking besar dana yang dibutuhkan, dalam negeri angkat tangan. Karena itu investor asing harus didatangkan.

Awal tahun lalu, proyek-proyek itu sudah ditawarkan ke pengusaha mancanegara dan dalam negeri, tetapi hanya sedikit yang laku. Sejak itu, pemerintah mempromosikan Indonesia di luar negeri. RI-1 dan 2, bahkan –kalau ada istilahnya—RI-3, 4, 5, dan seterusnya rutin bertandang ke luar negeri. Tak hanya proyek yang dipromosikan, tetapi juga iklim investasi di Tanah Air. Sekalian insentif, keringanan, dan bahkan jaminan proyek itu.

Kabar yang tersiar, setiap pejabat negara bertandang ke luar negeri selalu disambut puluhan, bahkan ratusan pengusaha setempat dengan antusiasme tinggi. Intinya, mereka amat tertarik berinvestasi di Indonesia.

Dalam acara pameran dan konferensi infrastruktur yang digelar besok, pada 1-3 November 2006, ratusan investor mancanegara sudah mendaftar untuk hadir. Sebanyak 850 investor dari 28 negara sudah mendaftar untuk hadir dalam acara gebyar yang disebut Infrastructure Conference and Exhibition (ICE) 2006.

Chris Kanter, ketua Organizing Committee ICE 2006, seperti dikutip Kompas (30/10), mengatakan, “saya kira peserta ICE ini benar-benar investor yang serius, sebab mereka harus membayar US$ 750 sebagai biaya kepesertaan.”

Lho! Bicara proyek miliaran dolar AS, tapi kenapa keyakinan akan keseriusan investor dikaitkan dengan biaya yang tak sampai seribu dolar?

Lho! Setelah para pejabat pemerintah, mulai dari RI-1, 2, entah RI berapa lagi, ramai-ramai ke luar negeri menawarkan berbagai proyek, mempromosikan iklim investasi yang sudah lebih baik, menjanjikan bahkan menjamin, sekarang kok 850 investor dari 28 negara diundang untuk sebuah pameran dan konferensi infrastruktur yang diberi nama keren ICE 2006? Proyek kok dipamerkan? Dikonferensikan?

Atau memang demikian yang diinginkan. Berkoar-koar tentang proyek mega di dalam negeri kepada pengusaha luar negeri. Cuma sebatas berkoar-koar? Karena sesungguhnya proyek-proyek itu bukan untuk ditawarkan, tetapi cuma dipamerkan dan dikonferensikan. Karena proyek-proyek yang ditawarkan itu sesungguhnya sudah ada yang punya, terutama proyek-proyek yang pasti menguntungkan.

Lalu, pertemuan akbar yang merupakan kelanjutan tahun lalu itu tak lebih dari proyek kongko-kongko saja? Bercengkerama, bersanjung puja, jalan-jalan ke luar negeri, makan-minum di hotel mewah, melihat-lihat, dengar-dengar, ketawa-ketiwi, lalu kecewa.

Tidak pas juga mengambil perumpamaan orang-orang yang dibuat ngiri dan ngiler oleh pemudik tadi, agar ikut ke Ibukota. Di Jakarta cuma diajak keliling kota, mendengar dan melihat ‘kemewahan’ yang sesungguhnya milik orang lain. Pokoknya adalah cuma buang-buang uang. Kelakuan!

Yah! Mumpung masih dalam suasana Lebaran, ada kesempatan untuk mengucapkan, “mohon maaf lahir dan batik!” n rizagana

Tulisan ini telah dimuat di Investor Daily edisi Selasa, 31 Oktober 2006 halaman 24
Rubrik RASAN

Tuesday, October 17, 2006

Perdamaian

APA hubungan bank, orang miskin, dan perdamaian?

Sebentar! Bank dan perdamaian ada kaitannya, terutama dalam penyelesaian tunggakan kredit atau tagihan. Lalu, hubungan bank dengan orang miskin? Jarang orang miskin berhubungan dengan bank. Sebaliknya, bank pasti tak mau berurusan dengan orang miskin.

Sedangkan orang miskin dan perdamaian? Pusing, ah! Apakah orang miskin yang membuat keadaan jadi tidak damai. Atau sebaliknya, orang miskin yang lebih sering berdamai. Lha, kalau orang kaya atau yang tidak miskin lagi? Apa mereka lebih identik dengan kedamaian dan perdamaian?

Komite Nobel Norwegia (NNC) menjawabnya amat ringkas. “Perdamaian abadi tidak akan dapat dicapai, jika masih ada kelompok masyarakat dalam jumlah besar terjerat kemiskinan.” Nah, dengan pertimbangan itu pula, Nobel Perdamaian 2006 diberikan kepada ekonom, sekaligus bankir, Muhammad Yunus, dan Grameen Bank. Ia dinilai mampu mengentaskan jutaan orang miskin dengan cara mengucurkan kredit kepada perempuan-perempuan di Bangladesh lewat skema kredit usaha mikro. Sejak 1976.

Lho, Bank Dunia? Bank yang didirikan 43 negara kaya untuk membantu negara miskin keluar dari jerat kemiskinan. Sejak 1944 atau lebih tua dari Grameen Bank, milik Muhammad Yunus. Dana yang dikucurkan Bank Dunia pun sudah puluhan miliaran dolar AS, jauh lebih banyak dari yang dikucurkan Grameen. Cakupannya bukan hanya perorangan, apalagi perempuan, tapi negara. Programnya jelas dan dipantau ketat. Kok Grameen?

NNC pasti punya jawaban untuk itu. Dan, NNC pasti tidak sedang meledek Bank Dunia, yang realitanya justru membuat negara yang dibantu makin terpuruk dalam kemiskinan dan terjerat utang yang mencekik leher. Negara-negara kaya itu, justru makin kaya –untuk tidak menyebutnya rentenir-- bahkan membuat negara lain tak damai.

Di dalam negeri? Tidak! Komite Nobel itu pasti tidak sedang menyindir Indonesia yang punya segudang program pengentasan kemiskinan. Sejak awal Indonesia merdeka, bahkan. Pemerintah selalu menyediakan anggaran untuk mengentaskan orang miskin. Tahun lalu, jumlahnya Rp 22 triliun. Tahun ini Rp 42 triliun. Tahun depan Rp 51 triliun, yang disebar di 19 departemen.

Indonesia punya Bank Rakyat Indonesia (BRI), yang sudah berusia seabad lebih. Tanyalah direksinya, pasti ia hafal betul berapa kredit yang sudah disalurkan untuk usaha mikro, kecil, dan menengah. Juga puluhan triliunan rupiah. Detail, dan tiap tahun selalu meningkat. Labanya saja, tiap tahun bisa triliunan rupiah.

Bank sentralnya, Bank Indonesia (BI), bahkan mewajibkan bank mengucurkan kredit kepada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Ada lagi yang namanya kredit tanpa agunan (KTA). Tiap tahun ada pagunya, sampai puluhan triliun rupiah. Dan, tujuannya jelas, untuk mendukung program pengentasan kemiskinan. Tapi, coba datanglah ke bank dan tanyakan KTA. Pasti jawabannya ada, tersedia, dan siap dikucurkan kapan saja. Syaratnya slip gaji –itu berarti calon penerima KTA adalah pekerja. Bunganya, alamaak, di atas 25% setahun. Padahal bunga tabungan saat ini cuma 4%.

Orang kaya? Lupakan! Jangan coba-coba bertanya kepada orang kaya Indonesia, pemilik bank atau pemilik puluhan perusahaan. Pasti ia lebih suka menaruh uangnya di luar negeri. Menurut surat kabar ini, ada 18 ribu orang kaya Indonesia yang menyimpan uangnya di Singapura dalam jumlah Rp 800 triliun. Nilai yang hampir setara dengan dua kali APBN Indonesia.

Stop! Pertanyaan itu pula tak perlu diteruskan, misalnya berapa banyak orang miskin Indonesia yang berhasil dientaskan. Tanya kenapa? Pertama, agar orang yang ditanya tak tersinggung. Kedua, UMKM itu pasti bukan orang miskin papa. Ketiga, ya itu tadi, bank pasti berusaha sekuat tenaga untuk tidak berurusan dengan orang miskin. Bank adalah lembaga bisnis, bukan lembaga sosial. Titik!

Karena itu, pertanyaannya lebih baik ditujukan kepada Komite Nobel Norwegia. Kenapa Nobel Perdamaian 2006 diberikan kepada bankir yang bernama Muhammad Yunus? Bikin malu saja! n rizagana

Tulisan ini telah dimuat di Investor Daily edisi Selasa, 17 Oktober 2006 halaman 24
Rubrik RASAN

Tuesday, October 10, 2006

Pembangunan Itu

SRI MULYANI tak punya pilihan. Ia dan keluarganya harus tinggal di bantaran kali Banjir Kanal Barat, Jakarta Barat. Rumah petak kontrakan, berdinding dan beratap seng, lembab. Lingkungan tak mendukung, gizi minim, Cahyani (1,5 tahun), anaknya, kena TBC. Delapan bulan terapi, tak sembuh, bobot badan konstan pada angka delapan kilogram.

Cahyani adalah satu dari ribuan balita di ibukota yang kualitas gizi dan kesehatannya buruk. Hingga Agustus 2006, ada 9,253 balita seperti Cahyani, menurut data Badan Koordinasi Keluarga Berencana DKI Jakarta. Inilah yang membulatkan Rini Sutiyoso memeranginya. “Kalau bisa malah enggak ada sama sekali,” kata Rini. (Kompas, Rabu, 5/10)

Tidak ada gembar-gembor berapa besar dana yang bakal diguyurkan untuk memperbaiki gizi dan kualitas kesehatan anak-anak Jakarta. Memangnya siapa Rini? Lain dengan suaminya, Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, yang akrab disapa Bang Yos. Untuk mengatasi kemacetan lalu lintas, Gubernur DKI Jakarta itu kini tengah menantang arus, membelah jalan, memacetkan lalu lintas ibukota, membangun jalur busway.

Investor Daily (Sabtu, 7/10) memberitakan, Pemrov DKI Jakarta menganggarkan dana Rp 35 triliun untuk membenahi transportasi ibukota. Itu demi membebaskan Jakarta dari kemacetan pada 2010. Lengkap dengan daftar proyek dan nama-namanya, serta rencana dan target penyelesaiannya.

Itulah pembangunan!

Untuk pembangunan pula, ada puluhan, bahkan ribuan triliun rupiah dana yang dianggarkan republik ini. Swasta lebih banyak, dan so pasti dengan dukungan penuh pemerintah. Dukungan kebijakan, politik, dana, bahkan di bawah tangan. Soal dana, tahun ini saja, pemerintah menganggarkan APBN senilai lebih dari Rp 500 triliun. Baik penerimaan maupun belanja.

Anggaran cuma 500, tapi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menemukan anggaran bermasalah dan diragukan sebanyak 1.719. (Tentu saja, dalam bilangan triliun rupiah). Rincian anggaran yang diragukan itu, termaktub di dalam Laporan Keuangan Pemerintah Pusat 2005, antara lain investasi di Bank Indonesia sebesar Rp 130 triliun, penerimaan pajak hampir Rp 350 triliun, penyertaan modal pemerintah pada BUMN mendekati Rp 400 triliun, serta pengendalian dan pencatatan utang luar negeri sebesar Rp 600 tiliun.

Anggaran yang diragukan itu adalah yang di atas Rp 100 triliun. Ada banyak item anggaran yang diragukan yang jumlahnya di bawah Rp 100 triliun. Sebut saja dana bergulir, piutang pajak, piutang BLBI, rekening dana investasi, aset eks-BPPN, aset eks BP Migas. Bahkan, ada uang negara yang didepositokan di bank. BPK menyebut, ada 1.303 rekening dan deposito atas nama pejabat negara senilai Rp 8,54 triliun. Departemen Keuangan ternyata baru mengetahui ada 632 rekening deposito senilai Rp 1,32 triliun.

Itu yang ketahuan. Yang tidak ketahuan, siapa tahu?

Itukah pembangunan? Uang negara dikelola tanpa ada pertanggungjawaban secara akuntansi. Pajak ditarik dari rakyat, lalu dibelanjakan, didepositokan, atau bahkan ditilep. Ketahuan, ada pemberitahuan dari pemeriksanya tetap tenang-tenang saja. Yang penting ada catatannya, meski tak sesuai standar pencatatan (akuntansi).

Di republik ini, anggaran bermasalah atau diragukan sepertinya tak berarti apa-apa. Saban tahun berulang dan berulang. Kecuali ada masalah dengan orangnya, anggaran yang tak bermasalah sekalipun bisa dibuat bermasalah. Orangnya digelandang ke kejaksaan, ke kepolisian, disorot tv, disiarkan radio dan media cetak, lalu dilengserkan. Terbukti atau tidak, itu tak penting. Yang penting orang penting itu sudah lengser dan 'babak belur'.

Di republik ini, ada ribuan, atau bahkan jutaan orang yang kurang gizi, yang kualitas kesehatannya buruk. Yang tak bisa sekolah, yang jatuh miskin, yang terusir dan tergusur atas nama pembangunan, yang menatap langit hampa. Seperti Sri Mulyani, ibu Cahyani, di bantaran kali Banjir Kanal Barat, Jakarta. Bukan Sri Mulyani Indrawati di Lapangan Banteng, Jakarta.

Pembangunan itu adalah proyek, gedung, dan uang triliunan. Kenapa bukan manusia yang sehat dan berakal? n rizagana

Tulisan ini telah dimuat di Investor Daily edisi Selasa, 10 Oktober 2006 halaman 24
Rubrik RASAN

Monday, October 02, 2006

Tidur

TIDUR! Puasa di bulan Ramadhan ini memang nikmat, ibadah lagi. Apalagi tidur di siang hari menghalau lapar dan dahaga, menghindari terik mentari yang menyengat. Tidur di rumah, di kantor, di masjid atau mushala, di mana saja. Bangun-bangun menjelang bedug Maghrib, dan es buah plus kolak sudah tersedia. Ah, nikmatnya!

Tak hanya saat puasa, tanpa es dan kolak sekali pun, tidur bisa nikmat. Lewat waktu, lupa masalah, tak ingat tangung jawab. Tapi kebanyakan tidur, kata orang pintar, justru menjadi sumber penyakit. Badan lemas, loyo, tak bergairah, dan gampang terserang penyakit. Penyakit malas, salah satunya. Malas mikir, bahkan malas keluar dari jerat kantuk akibat kebanyakan tidur.

Soal tidur ini, ada dua cerita. Pertama, cerita Koordinator Koalisi Anti Utang (KAU) Kusfiardi. Pekan lalu, Perwakilan Jubilee USA Network Debayani Kar datang ke Jakarta. Utusan LSM dari AS itu berkoar-koar agar Pemerintah Indonesia segera mengajukan pemotongan utang kepada kreditor luar negeri, baik bilateral maupun multilateral. Jubilee telah mendaftar 78 negara miskin di dunia, sebagian besar dari Afrika, yang memiliki utang kepada AS, untuk dihapuskan. Kala Indonesia disebut, anggota Konggres AS justru bertanya, “apa Indonesia pernah minta penghapusan utang?”

Di Eropa, ada Eurodad alias European Network on Debt and Development, yang sejak lama lantang meneriakkan penghapusan utang bagi Indonesia. Dia bilang, Paris Club, lembaga kreditor multilateral sebangsa Bank Dunia, IMF, ADB harus melupakan 79% utang Indonesia. Kalau tidak, Pemerintah Indonesia yang melupakan kebutuhan dasar rakyatnya, pendidikan, kesehatan dan jaminan sosial hari tua.

Aneh bin ajaib. Indonesia yang berutang, pihak lain yang resah dan gelisah, berkoar-koar minta penghapusan utang Indonesia yang bejibun –sekitar Rp 2.000 triliun, yang tediri atas utang luar negeri pemerintah US$ 85 miliar, utang luar negeri swasta sekitar US$ 65 miliar, dan utang dalam negeri pemerintah Rp 650 triliun. “Tanya-ken-apa dan kemana pemerintah? Tidur?”

Cerita kedua dari Faisal Basri, yang disampaikan dalam seminar di Sekolah Tinggi Manajemen PPM, Jakarta, Senin (2/10). Seorang pejabat Singapura terheran-heran dengan Indonesia karena sektor riil tidak bergerak akibat kredit tidak mengucur. “Apa Indonesia tak punya dana?” tanya teman dari jiran. Dana ada, tabungan berlimpah, suku bunga sudah turun, tetapi kok kredit tetap saja seret.

Faisal enteng berkata, “Bank-bank di Indonesia tidak terbiasa menyalurkan kredit secara benar.” Itu saja! Selama ini bank-bank menyalurkan kredit kepada pengusaha pemilik bank, kolega pemilik dan bankir, atau atas dasar kongkalikong dengan pejabat. Selebihnya, tidur. Sekarang pun masih nyenyak?

Tidur! Sekali-kali jalan-jalanlah ke mal, telusuri gang-gang sempit di supermarket. Produk-produk luar negeri berbahasa Indonesia berderet dipajang. Kalau diteliti, di kemasan produk kacang goreng itu tertulis made in China. Ada juga minuman jus kalengan, yang bahan bakunya dari Medan, pabriknya di luar negeri. Produk-produk itu sedang dalam proses registrasi di Badan POM, tapi produknya sudah beredar di pasar modern. Selain dari Cina, ada banyak produk dari Singapura, Malaysia, Italia, dan Australia yang sudah dan siap membanjiri pasar Indonesia. “Pemerintah Indonesia? Tidur?”

Tidur pula yang menyebabkan banyak produk luar negeri leluasa menguasai pasar dalam negeri. Tanyalah jeruk Brastagi yang katanya manis-manis kecut. Di Brastagi, Medan, harga jeruk cuma Rp 300 per kilogram, tapi di Jakarta harganya mencapai Rp 10 ribu. Kata orang Jakarta, mending beli jeruk Mandarin, cuma Rp 6.000. Anehnya, harga jeruk Mandirin di Beijing dan di Jakarta, tidak beda.

Sebelumnya, bekas calon wakil presiden Siswono Yudhohusodo pernah cerita tentang keluhan sapi Sumbawa yang biaya angkut ke Jakarta lebih mahal 165% dibanding sapi Darwin, Australia. Juga, biaya angkut satu kontainer dari Batam ke Jakarta Rp 10 juta, tapi ongkos San Fransisco-Jakarta cuma Rp 6 juta. Ini soal sarana dan prasarana alias infrastruktur, yang membuat orang atau siapa saja yang lalu-lalang di atasnya, pulas tertidur.

Itu belum apa-apa. Yang bahaya justru adalah kalau dipuasakan, lalu ditidurkan atau malah dengan akhiran ‘i’. Itulah yang terjadi, persis setahun lalu. Menurut istilah Faisal Basri, pemerintah bertindak seperti drakula yang menyedot darah segar rakyat berupa subsidi BBM, kemudian ditawarkan kepada asing dalam bentuk suku bunga tinggi. Asing berbondong-bondong datang mengisap SBI, SUN dan saham. Rakyat dibiarkan lemas, kurang darah. Antara tidur dan mati! n rizagana

Tulisan ini telah dimuat di Investor Daily edisi Selasa, 3 Oktober 2006 halaman 24
Rubrik RASAN

Monday, September 25, 2006

Investasi Jablai

SEORANG perempuan menatap cermin. Lama. Kadang pinggulnya dihadapkan, lalu yang sebelahnya. Wajahnya didekatkan, lalu diusap-usap. Rambut, bulu mata, gincu, hidung, pakaiannya diperiksa teliti. Ia merasa masih ada yang kurang. Bisiknya, “Aku harus ke salon lagi!”

Usianya masih tergolong abege. Ia merasa tidak pede. Entah untuk apa dan pada siapa. Yang jelas, ia ingin teman-teman, terutama yang pria memperhatikan penampilannya. Ia ingin mereka memberi komentar sempurna, lalu takluk di kerlingnya. Setiap kali ia merasa cantik, ada saja yang kelihatan lebih cantik. Komentar teman prianya pun tak seperti yang ia harapkan, kecuali yang sudah berumur.

Uang yang diinvestasikan untuk mempercantik diri sudah tak terhitung. Tapi tak ada pula pria yang tertarik. Hasrat ingin dibelai makin menghujam di hati dan pikirannya. Ketika hasrat itu datang, sekujur tubuhnya bergetar, seperti harimau yang hendak menerkam mangsanya. Siapa saja.

Ada banyak orang seperti itu di negeri ini. Bahkan negeri ini pun demikian. Bolak-balik membenahi diri, tetap saja tidak pede. Gonta-ganti salon, bahkan mengorbankan bagian tubuh yang lain. “Sudah bagus. Penampilanmu kini sudah oke, tapi, maaf, negeri tetanggamu ternyata jauh lebih bagus.” Seorang dari negeri seberang, yang memiliki banyak duit, ketika tiba di sini, menambahkan, “luar biasa! Ternyata yang dia maksud adalah “kalau dilihat dari luar, biasa saja.”

Anak negeri sendiri yang berminat membelainya, seolah mencemooh dengan mengatakan, “apa yang bisa diharapkan dari aturan tenaga kerja yang tidak fleksibel. UU Pajak, UU Investasi, birokrasi, pungli, korupsi, dan kepastian hukum, keamanan, dan macam-macam masalah HAM atau teroris.”

Permak lagi. Adakan diskusi, undang tokoh dari luar. Lalu, para petinggi negeri ini meributkan penghasilan, mirip ‘jablai’ yang memperbisikkan penghasilan dari si hidung belang. Jangankan mau peduli pada demo yang memprotes, atau pekerja yang terkena PHK. Lupa!

Sebuah survei, layaknya kontes kecantikan kelas dunia, digelar. Ternyata benar! Peringkat daya saingnya naik, demikian survei Internasional Finance Corporation dan World Economic Forum. Tapi, maaf, kenaikan yang dicapai negara lain jauh lebih tinggi. “Sedikit lagi. Dan, lebih cepat lagi. Kau harus memperbaiki ini, itu, dan inu! Percayalah, kau memiliki potensi luar biasa. Pada 2025, kau akan jadi primadona. Pada 2050, kau akan mengalahkan negara-negara yang sekarang disebut maju!”

Berkaca lagi, ke salon lagi. Senyum-senyum sendiri. Ada kebanggaan dengan dongeng-dongeng dan pujian itu. Berlenggak-lenggok lagi, menjajakan diri di tempat sendiri, mengharap ada yang datang menawar. Meski cuma datang, lalu pergi lagi. Sedikit yang menanamkan modalnya. Barangkali perlu langsung mendatangi pemodal di negerinya. Duta diutus, cuap-cuap akan kemolekan negerinya. Minyaknya wangi, hutannya rimbun, mulus. Semua gampang diatur. “Pokoknya, dijamin enak deh!”

Keluhan orang-orang asing didengarkan, tapi keluhan riil pengusaha lokal seperti angin lalu. Dengarlah keluhan yang disampaikan Siswono Yudhohusodo, pengusaha yang pernah menjadi calon wakil presiden dalam forum Indonesian Economic and Financial Platform Toward 2025. “Kalau saya membawa seekor sapi dari Sumbawa ke Jakarta, ongkosnya 165% lebih mahal daripada mendatangkan sapi dari Darwin, Australia. Juga, biaya angkut barang dari Batam ke Jakarta mencapai Rp 10 juta per kontainer. Padahal biaya angkut dari San Fransisco ke Jakarta cuma Rp 6 juta.”

Itu adalah persoalan sesungguhnya dari bangsa ini. Tapi apa daya. Begitu hebatnya hasrat ingin dibelai. Hasrat itu makin membuncah, mencacah batas-batas norma. Ya, seperti abege yang jarang dibelai (jablai) itu. n rizagana

Tulisan ini telah dimuat di Investor Daily edisi Selasa, 26 September 2006 halaman 24
Rubrik RASAN.

Tuesday, September 19, 2006

Kembang Uang

MENJADI kaya itu mulia.” Kata-kata itu bergaung ke seluruh dataran Cina. Deng Xiao Ping menggunakan kalimat itu untuk menggantikan slogan yang sebelumnya dikumandangkan Mao Zhedong dari ajaran Marxis, “sama rata, sama rasa.” Sejak itu, negeri Tirai Bambu itu memangkas habis semua rumpun bambu dan menggantikannya dengan jalan mulus bebas hambatan, pabrik-pabrik, apartemen, perumahan, dan gedung-gedung perkantoran. Miliaran rakyat (negara) Cina berlomba-lomba mengejar kekayaan. Juga kemuliaan?

“Menjadi kaya itu mulia.” Demikian pastor, pendeta dan guru-guru ngaji berkotbah di mana-mana. Mereka mencontohkan Nabi Sulaeman, yang kaya raya. Banyak pula orang yang mengingikuti. Dengan kekayaannya, mereka ikhlas bersedekah, menolong anak yatim dan orang miskin-papa, membangun rumah ibadah, beribadah, dan beramal yang lainnya.

“Menjadi kaya itu mulia.” Banyak orang, dulu dan sekarang, berkata begitu. Mereka pun berlomba-lomba mencari kekayaan dengan cara-cara mulia atau tidak mulia. Dengan kekayaan, ia bisa meraih ketenaran. Masuk koran, majalah, tv, apalagi tercatat sebagai orang terkaya sejagad. Dengan kekayaan itu juga ia bisa membangun rumah mewah, menyekolahkan anak di sekolah mahal, bahkan di luar negeri, membeli mobil-mobil mewah, membeli ijazah lewat jalan pintas, hingga meraih kekuasaan.

Qorun di jaman Nabi Musa --keduanya masih sepupu(?)--barangkali, berkata begitu juga. “Menjadi kaya itu mulia.” Bahkan ia tidak menerima kemuliaan anak pamannya itu sebelum akhirnya ditelan bumi. Sekarang, setiap orang yang mendapat harta tak bertuan dari dalam bumi disebut harta karun. Atau Robin Hood. Hikayat dari Inggris yang terkenal di seluruh jagad ini, bisa jadi menganggap, “menjadi kaya itu mulia.” Sehingga ia silap mata, dan rela menjadi tumbal peradaban. Ia ingin orang-orang miskin bisa jadi kaya, menikmati ‘kemuliaan’ seperti orang-orang kaya.

Rasanya, tak ada yang menyangsikan “menjadi kaya itu mulia.” Oleh karena itu, banyak orang yang mengejar dan meraihnya dengan cara apa dan bagaimana pun. Mulia atau tidak. Dan, banyak orang membelanjakannya dengan cara apa pun pula. Mulia atau tidak. Untuk kenyamanan, keamanan, kehormatan, dan ketenaran. Untuk bergaul dengan orang kaya, sekaligus ‘menggauli’ dan ‘memperkosa’ orang-orang miskin, atau yang tak sekaya ia.

“Menjadi kaya itu mulia.” Tapi tak sedikit pula yang mengatakan, “menjadi miskin itu mulia.” Lalu kata-kata itu dibolak-balik. Bingung dan membingungkan. Antara kemuliaan di kehidupan ini dan setelah ini. Antara kemuliaan dan kehinaan. Antara siapa yang kaya, dan siapa yang miskin. Seperti apa yang terjadi belakangan ini.

Ketika jutaan orang berjuang dalam kemiskinan, mengumpulkan uang recehan, uang logam cepe’-an, di jalan-jalan, di pasar-pasar tradisional, di sekolah-sekolah, di pelosok-pelosok untuk menyambung hidup. Ketika jutaan orang habis-habisan dihantam gempa, disapu badai tsunami, ditimpa tanah longsor, diusir lumpur panas. Ketika negeri ini berteriak miskin, lalu membagi beban kemiskinan itu kepada 220 juta rakyat dalam bentuk kenaikan harga BBM dan harga-harga lain, minta-minta orang asing datang dan berinvestasi, mengutang ke sana kemari. Ketika jutaan rakyat berebut jatah bulanan sebesar Rp 100.000 dari pemerintah sebagai kompensasi BBM.

Dan, ketika ada sebuah pesta pernikahan yang membagikan kembang uang kertas senilai Rp 70.000 dan dibagi-bagikan kepada orang-orang kaya pula. Yang katanya, sebagai simbol penolak bala, sekaligus sebagai harapan agar dalam mengarungi hidup berumah rangga, pengantin dikaruniai rezeki (kekayaan) berlimpah dan survive. Atau, kekayaan memang simbol kembang, yang kelak layu dan mati? Atau, inikah “menjadi kaya itu mulia”?

Mari bertanya pada Sulaeman dan Qorun. n rizagana

Tulisan ini telah dimuat di Investor Daily edisi Selasa 19 September 2006 halaman 24
Rubrik RASAN

Monday, September 11, 2006

Pengusaha

SELAMAT, Papa! Sekali lagi, Selamat! Papa masuk dalam daftar orang terkaya di Indonesia.

Lembaga yang membuat peringkat itu menyebut harta kekayaan Papa sampai triliunan rupiah. Hebat juga lembaga itu. Saya, yang anak Papa saja tak tahu persis berapa kekayaan Papa. Memang perusahaan Papa banyak dan tersebar di seluruh Tanah Air, bahkan di luar negeri.

Papa! Saya kagum pada Papa. Saya kagum dengan tangan bisnis Papa yang cemerlang, yang penuh dengan ide-ide brilian. Saya kagum dengan kesungguhan, kegigihan, dan kerja keras Papa. Saya lebih kagum lagi, karena ide dan kerja keras Papa itu benar-benar bisa direalisasikan. Ada bank yang percaya, ada orang yang mau bekerja sesuai dengan keinginan Papa, dan produk itu laku bak kacang goreng. Sungguh, saya benar-benar kagum!

Saya kagum dengan cara-cara Papa saat berhadapan dengan para pejabat negeri ini. Birokrat atau aparat, pejabat tinggi atau rendahan. Papa, bahkan bisa dekat dengan partai politik mana pun, dan calon-calon presiden, menteri, bahkan pejabat eselon I hingga IV. Birokrat atau aparat. Tak peduli, dia idola atau bukan; dia calon Papa atau bukan. Beda sekali saat menghadapi bawahan. Bahkan, Papa tak sungkan-sungkan membawakan segelas air putih untuk pejabat yang sedang makan pada acara standing party. Papa bisa menenggelamkan ego, demi sebuah ambisi (bisnis) yang Papa geluti.

Papa benar-benar pengusaha tulen yang sukses. Papa merintisnya dari modal kecil, dari usaha asongan nun jauh dari Jakarta. Pelan tapi pasti, Papa akhirnya bisa seperti sekarang. Lima puluh tahun bukan waktu yang sedikit. Dan, Papa bukan pengusaha yang sedikit-sedikit merengek minta insentif, sebentar-sebentar mengeluhkan kebijakan pemerintah. Papa, selama yang saya tahu, tak pernah mempersoalkan aturan baru yang dikeluarkan pemerintah. Tapi, heran saya, Papa selalu lebih dulu tahu tentang aturan yang akan keluar. Lalu, Papa tahu di mana kelemahan aturan itu.

Dalam bisnis, Papa seng ada lawan. Tak ada angin, tak ada hujan, Papa menginstrusikan anak buah membeli tanah di suatu daerah. Heran! Caranya terserah! Negosiasi baik-baik, menyogok kepala desa, atau mengerahkan preman. Papa memang tidak seperti Presiden AS yang membombardir sebuah negeri dengan ratusan, bahkan ribuah bom, rudal, roket, dan mesiu, serta membunuh ribuan orang dan membuat jutaan orang jadi miskin papa dengan alasan yang tak pernah terbukti, kecuali di negeri itu ada tanah, minyak dan harta kekayaan orang.

Papa pasti tidak seperti itu, meski ada juga yang kemudian melarat atau mati. Papa lebih mirip Raja Midas, karena apa yang ada di tangan Papa pasti berubah dan berbuah jadi emas. Tanah belukar, rawa-rawa, terpencil di pelosok, tak bersurat lengkap, Papa sulap menjadi real estate mewah. Tanah yang dibeli seharga Rp 1.000 per meter persegi, laku terjual dengan harga seribu kali lipat, bahkan lebih. Itu tanah ratusan, malah ribuan hektare.

Papa tahu benar daerah mana yang bakal maju, wilayah mana yang akan dilalui jalan tol, lokasi mana yang kelak jadi kota baru atau pusat bisnis. Inilah kebodohan orang-orang kampung nan miskin itu, sekaligus menjadi kehebatan Papa. Ah, Papa pasti paham betul apa yang disebut Hernando de Soto dengan The Mystery of Capital-nya.

Papa, banyak orang terpelajar dan cerdas, serta kaya di negeri ini. Tapi tak banyak yang bisa seperti Papa. Termasuk saya, Papa!

Jangan marah, Papa! Saya harus jujur pada Papa, dan diri sendiri bahwa saya tak bisa dan takkan mungkin bisa menjadi pengusaha, seperti Papa. Saya pasti tak sehebat Papa. Dalam menjalankan bisnis, membuat konsep dan ide yang brilian, menghadapi pejabat dan aparat, karyawan, wartawan, dan warga yang terusir menjadi miskin dan melarat. Jujur, Papa, saya katakan!

Sekali lagi, jangan marah, Papa! Maaf, kalau saya terpaksa harus jujur pada Papa. Toh masih banyak profesional, orang kepercayaan Papa. Maaf, sekali lagi maaf! Bukan saya tidak mau menjadi orang kaya, masuk dalam daftar orang terkaya di Indonesia, bahkan di dunia. Bukan pula saya tak suka kemasyhuran. Saya cuma ingin jujur pada diri sendiri. Seperti yang Papa ajarkan. ‘Lihatlah ke dalam. Kalau kau melihat ke luar, kau tak tahu kemana kau melangkah. Melihat ke luar adalah bermimpi. Melihat ke dalam membuat kau terjaga.’

Demikian saja, Papa, surat ananda. Maafkan saya!”

Surat seorang anak kepada pengusaha Indonesia itu tak bertanda tangan, tak bernama. n rizagana

Tulisan ini telah dimuat di Investor Daily edisi Selasa, 12 September 2006 halaman 24
Rubrik RASAN

Tuesday, September 05, 2006

Misteri de Soto

BAMBANG membanting koran. Yusuf, tetangga gang sebelah, yang kebetulan lewat, terkesiap. “Ada apa Pak? Koran kok dibanting!” Yusuf, lalu mampir, bertamu.

Bambang tak menjawab, kecuali mempersilakan tamunya masuk dan duduk lesehan di beranda. Ia memungut kembali koran hari itu, Sabtu, 2 September 2006. Di situ terpampang berita; pemerintah akhirnya memutuskan impor beras sebanyak 210.000 ton pada tahun ini. Pada halaman lain, terpampang foto Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Ibu Negara, Menteri Pertanian Anton Apriyantono, dan Gubernur Kalimantan Tengah yang mantan anggota DPR Teras Narang panen raya di lahan gambut Kapuas, Kalteng.

Masih koran yang sama, ada berita yang menyebutkan, pemerintah menganggarkan dana untuk penanggulangan kemiskinan pada 2005 sebesar Rp 22 triliun. Tahun ini naik menjadi Rp 42 triliun, dan tahun depan menjadi Rp 51 triliun. Anggaran penanggulangan kemiskinan naik terus, tapi jumlah orang miskin juga naik. Tahun ini naik 10% dibanding tahun lalu menjadi 39,05 juta atau 17,75% dari total penduduk 222 juta jiwa. “Lantas kemana larinya dana-dana itu?”

Bambang menyilangkan jari-jemari tangan dan menangkupkannya di ubun-ubun. Tiba-tiba Yudho, anaknya, datang sembari bersiul. “Apakabar, Om? Aku dengar, seru sekali bicara tentang kemiskinan dan orang miskin, Om?” Yudho menyalami tamu dan bapaknya, dan menggamit sebuah buku.

“Buku apa itu Do?” tanya Ucup.

“Ini! Ini buku bagus, dan cocok tentang tema diskusi di sini!” Yudho lalu menjelaskan buku yang baru ia pinjam dari temannya. Ia belum baca, tapi temannya sudah bercerita tentang isinya secara garis besar. Buku yang bercerita tentang orang miskin yang sebenarnya kaya raya. “Tapi dasar orang miskin, ia tak tahu bahwa ia kaya. Di sinilah misterinya.”

Ketika Ucup ingin mengambil buku itu, dengan sigap Yudho ngeles. Sambil menunjuk-nunjuk buku itu, Yudho mengatakan, ada miliaran orang miskin di dunia ini dan 80%-nya tinggal di negara Dunia Ketiga dan bekas komunis. Mereka rata-rata hidup di rumah dan tanah secara ilegal. Kalau diuangkan, total nilai real estate orang-orang miskin di seluruh dunia yang dimiliki secara ilegal itu mencapai US$ 9,3 triliun.

Dua orang tua itu terperangah. "Sembilan koma tiga triliun dolar Amerika?"

Ya! Jumlah itu hampir sama dengan nilai total semua perusahaan yang tercantum pada 20 bursa saham utama di negara paling maju sedunia; New York, Tokyo, London, Frankfurt, Toronto, Paris, Milan, Nasdaq, dan selusin lainnya. Nilai ‘kekayaan’ orang miskin sedunia itu sama dengan 20 kali total investasi langsung asing (FDI) di negara Dunia Ketiga dan bekas komunis dalam 10 tahun sejak 1989, 46 kali nilai semua pinjaman negara dari Bank Dunia selama tiga dekade terakhir, dan 93 kali bantuan untuk perkembangan dari semua negara maju kepada Dunia Ketiga dan bekas komunis dalam periode yang sama.

Di Haiti, di Peru, di Filipina, di Mesir, dan di Indonesia demikian juga. Tapi, kata Yudho, sekali lagi, tapi orang miskin tidak tahu. Mereka tidak tahu bahwa di rumah mereka itu ada tambang berlian. Mereka tidak tahu, seperti kata Einstein, tumpukan batu bata sesungguhnya bisa menghasilkan energi atom, seperti yang meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki. Mereka tidak tahu bagaimana aset yang mereka miliki itu bisa dikonversi menjadi modal yang bisa membuat mereka kaya raya.

“Orang-orang di negara Dunia Ketiga dan bekas komunis hanya tahu bagaimana melindungi aset berupa tanah dan rumah, dll. Ia tetap kapital mati. Di Barat, aset itu diolah secara formal dalam dokumentasi yang terus-menerus disesuaikan dengan perkembangan dan diatur oleh peraturan yang terdapat dalam sistem property.”

“Itulah kuncinya!”

“Buku apa itu, Do?” Ucup memiringkan kepalanya ketika Yudho menunjukkan buku The Mystery of the Capital, karya Hernando de Soto itu. Ucup melirik Bambang, lalu berucap, “Oo, Misteri Soto!”

“Kabarmu sendiri, gimana, Do? Sudah dapat kerja?” Ucup, lalu merebut buku itu.

“Belum, Om!” Kali ini, Yudho senyum kecut. Sudah dua tahun ia diwisuda sebagai sarjana ekonomi dari sebuah perguruan tinggi swasta terkenal.

“Ijazahmu itu, property bukan, Do?” kata Ucup, lalu menaruh buku itu setengah dibanting. n rizagana

Tulisan ini telah dimuat di Investor Daily edisi Selasa, 5 September 2006 halaman 24
Rubrik RASAN

Thursday, August 31, 2006

Senandung Lumpur

Yudho!” Agak teriak, ibunda menegur puteranya yang menyetel musik terlalu kencang. Yudho asyik menggeleng-gelengkan kepala dan sesekali memukul-mukul meja, seolah menabuh drum, mengikuti irama lagu dari grup musik White Lion.

“Apa kamu tidak dengar, ayahmu dan Pak RT lagi berbincang-bincang di beranda?” sergah ibunda. Volume radio dikecilkan, lamat-lamat ia mendengar perbincangan ayahnya dan ketua RT. Tentang sumbangan warga kepada RT yang seperti tiada henti. Yang rutin, untuk sampah dan keamanan. Yang tidak rutin, untuk mengaspal jalan, Tujuh Belasan. Bulan depan, untuk halal bi halal, THR tukang sampah dan satpam, itu pasti.

“Habis gimana? Justru yang saya takutkan, kalau urusan yang diamanatkan warga tak kita tunaikan.” Ketua RT menerangkan, setiap rencana menarik sumbangan selalu diputuskan dalam rapat warga. Ia juga mengerti beban warga yang terus menggunung akibat kenaikan harga-harga kebutuhan pokok, biaya anak sekolah, iuran koperasi, biaya telepon, listrik, air PAM, cicilan rumah, pajak bumi dan bangunan (PBB), dll.

“Sebenarnya, beruntung juga kita masih punya rumah, masih punya RT, dan ada yang mengurus. Saya tak bisa membayangkan, warga yang sudah membayar iuran itu tidak diurus.”

Bambang, ayah Yudho, lalu mengalihkan pembicaraan ke nasib saudaranya di Sidoarjo. Hampir 10 ribu warga di enam desa terusir dari rumahnya sendiri, 15 pabrik tutup, 1.873 orang terhenti dari pekerjaan, dan tak terhitung berapa anak yang harus pindah atau bahkan tak sekolah lagi.

Sudah tiga bulan mereka merana disembur 50.000 kubik lumpur panas tiap hari. Sekarang sudah 4,5 juta kubik. Lumpur telah menggenangi lebih dari dua kilometer persegi areal, kalau ketinggian lumpur itu diasumsikan satu meter.

“Pak RT! Di situ kehidupan dan penghidupan mereka, lho! Siapa yang sekarang melindungi mereka? Mereka yang sekarang jadi korban, dan yang sekarang sedang terancam. Mereka kan bayar pajak, PBB minimal,” seru Bambang.

Dalam hal ini Bambang dan ketua RT itu sepakat. Mereka heran, pejabat teras pemerintah bolak-balik ke Sidoarjo, tapi lumpur mengucur terus bak air mancur. Yang diurus, bagaimana mengalirkan lumpur yang menggenangi rumah. Yang diusut, petugas Lapindo di lapangan. Tapi apa upaya menyetop semburan lumpur agar tak makin membahayakan?

“Ini sudah 90 hari, lho, Pak RT!” Pak Bambang merasa seolah-olah menjadi salah satu korban. Ia bisa merasakan susahnya ‘kehilangan’ rumah, pekerjaan dan tak mampu melindungi anak-istri. Ia juga membayangkan, betapa jutaan keluarga Indonesia berusaha mati-matian untuk memiliki sebuah RSSS alias rumah sangat sederhana sekali. Nyicil belasan tahun, demi anak istri. When the children cry...

Matanya melotot saat ketua RT menyebut tanggung jawab Lapindo. Gaya bicaranya, acting-nya saat berbicara, kadang seperti tokoh nasional yang ikut membuat seruan agar pemerintah segera turun tangan. Bahwa Lapindo harus bertanggung jawab, itu satu hal. Tapi yang lebih penting adalah bagaimana melindungi warga yang jadi korban, dan warga yang akan jadi korban lumpur panas dan ganas itu. Warga yang bayar pajak. Sekarang warga Porong tergenang lumpur, dan lumpur itu sedang mengancam warga Sidoarjo lain.

Pemerintah sedang kesulitan dana, siapa yang tak tahu. Tapi kesulitan pemerintah masih mending dibanding kesulitan dan derita korban, serta rasa was-was warga sekitar tentang kemungkinan amblesnya bumi Sidoarjo. Rusaknya infrastruktur di daerah itu, jembatan, jalan, jaringan listrik, telekomunikasi, rumah, dan bangunan. Bagaimana kalau musin hujan tiba? Kehidupan dan penghidupan warga juga terancam. Sekarang saja, ada yang memperkirakan nilai kerugian akibat semburan lumpur itu sudah mencapai Rp 33 triliun.

Kenapa pemerintah tidak mengambil alih tanggung jawab, terutama untuk menghentikan semburan lumpur. Demi rakyat! Lapindo diurus nanti. Ganti rugi biaya yang telah dikeluarkan untuk penghentian semburan lumpur bisa dituntut kelak kepada Lapindo. Warga yang jadi korban harus diurus dan diperjuangkan pula. Bila ada unsur pidana, bisa diusut kemudian oleh pihak berwajib.

“Hey, Pak RT! Pemerintah kerja keras mengejar pertumbuhan ekonomi, mengendalikan inflasi, menggenjot ekspor, dan segala macam itu, untuk apa sih? Kita kan sering dengar di pidato-pidato pejabat. Itu kan untuk kesejahteraan kita-kita ini, rakyat Indonesia, termasuk yang di Sidoarjo? Moto Presiden dan Wapres kan, kita tahu semua, Bersama Kita Bisa!”

Dari balik biliknya, Yudho manggut-manggut. Sebuah perbincangan hebat telah ia dengarkan. Mirip perbincangan di warung kopi yang beberapa waktu lalu ia dengar. Klasik. Cuma omong-omong doang. Tidak ada solusi. Tidak kongkret. Ia lalu memilih ganti kanal, mendengarkan musik dengan volume terbatas untuk bilik ukuran tiga kali tiga. Lamat-lamat terdengar lagu lawas dari White Lion, When the Children Cry, disenandungkan.

No more presidents
And all the wars will end
One united world
under god


n rizagana

Tulisan ini telah dimuat di Investor Daily edisi Selasa, 29 Agustus 2006 halaman 24
Rubrik RASAN

Wednesday, August 23, 2006

Anggaran Baru

LIBUR telah usai. Plus cuti bersama, lumayan, ada lima hari.
Yang tersisa adalah perbincangan seputar pidato itu. Ada pula yang meributkan tentang angka-angka yang disampaikan. Data, fakta, prediksi, target, dan segala macam angka dikritisi. Mirip diskusi para penggila togel.

Tuesday, August 15, 2006

Berani Merdeka

INI tentang keberanian. Mungkin juga bukan. Di saat memeringati kemerdekaan (rakyat) Indonesia dari belenggu penjajah. Di tengah malam, saat berjuang membebaskan diri dari kantuk. Otak di batok ini selalu terantuk perasaan sendiri. Berani malu?

Tuesday, August 08, 2006

Indonesia Raya

SUDAH belasan tahun, barangkali lebih, tak menyanyikan lagu Indonesia Raya. Pas ngantar anak sekolah, pas telat pula. Upacara bendera telah dimulai. Pagar sekolah telah dikunci. Terpaksa menemani anak menunggu di luar pagar. Lamat-lamat terdengar anak-anak SD menyanyikan lagu Indonesia raya...

Tak tahulah anak-anak SD itu. Dari balik pagar, mereka terlihat berbaris tak rapi. Ada juga yang sikut-sikutan. Bisik-bisik. Badan sedikit digoyang-goyangkan. Anak kelas IV SD yang ada di samping tiba-tiba menyikut dengan sikunya. “Emangnya Indonesia mau mati, Yah?”

Monday, July 31, 2006

Bursa Pengangguran

SUDAH.Tidurlah, anakku!” Ibunda mencoba menenangkan hati anaknya. Tapi si anak tak juga bisa tenang, apalagi tidur. Mata terpejam, tapi pikirannya terus melanglang buana. Sudah setahun diwisuda, selama itu pula ia menganggur. Empat tahun ia habiskan waktu di bangku kuliah, selama itu pula ia mengeruk kocek plus tabungan hari tua bapaknya di Jamsostek.
Giliran Bapak diajak tidur. Di tempat tidur, Ibunda tak juga lelap. Ia tak juga bisa membuka mulut, tentang keluh-kesah anaknya. Mata terpejam, tapi pikirannya melanglang buana ke masa silam.

Waktu itu, Bapak melenguh, seperti sapi dicucuk cingurnya, setiap diajak urun rembuk soal keinginan anaknya kuliah. Biaya kuliah per semester yang Rp 3 juta, okelah. Tapi uang pangkal yang Rp 15 juta itu, darimana?

Monday, July 24, 2006

Ilmu Ekonomi

TANYALAH soal hidup bahagia. Apa, bagaimana dan di mana itu. Kepada orang kaya atau miskin, pejabat-rakyat, direktur-penganggur, agamawan-sastrawan-maling dan kawan-kawan. Pasti jawabnya berbeda. Atau siapa saja, aku, kau, atau dia. Keluarga, selingkungan warga, marga, atau negara.

Tuesday, July 18, 2006

Menabung

Dia baru saja naik kelas IV SD. Seperti kenaikan kelas pada tahun-tahun sebelumnya, ia merayakannya dengan membuka celengan. Hasilnya Rp 2.250.000. Biasanya, uang tabungan itu habis untuk membiayai sekolahnya sendiri. Mulai dari buku dan seperangkat alat-alat tulis, seragam, tas, dan sepatu. Semuanya baru. Sisanya untuk jajan, main di timezone, atau membeli mainan.

Kali ini, seluruh keperluan itu telah terpenuhi. Sehingga seluruh uang hasil menabung selama setahun itu idle. Gadis kecil itu bingung dan mulai berangan-angan.

Wednesday, July 12, 2006

Ruang Koperasi

SABTU besok, Pulan mau ngecor atap rumahnya. Dia sudah nyewa mesin molen, dan dua orang tukang becak. Cuma enam kali enam meter persegi, kok!”

Kalimat itu meruang dan terus meraung dari telinga ke telinga warga pada setiap perjumpaan, di tempat-tempat nongkrong, diselingi perbincangan tentang kekalahan tim sepakbola tuan rumah, Jerman, atas Italia–yang kemudian menjuarai—pada Piala Dunia 2006. Mereka pun mafhum, dan “Oke aja. Tapi ada gule, kan?”

Seperti iringan semut menggotong sebutir gula pasir, para warga berbaris estafet, menggiring ember-ember adonan cor ke atap rumah. Derak sekop dan bising mesin molen seirama dengan desis adonan cor meluap ke bak penampungan. Harmoni dengan kecipak batu split dalam lumpur semen dan pasir, gendang parau ember yang beradu, serta desah nafas kuli gadungan. Yang di bawah melagukan “ember!” bersaut dengan senandung, “adukan!” dari yang di atas.

Pemandangan itu bukan di sebuah desa di Bantul, yang luluh-lantak oleh gempa bumi, yang merana oleh janji bantuan. Tolong-menolong dan gotong royong itu ada di pinggiran Jakarta, di komplek perumahan. Sebuah rutinitas week end selain acara keluarga. Kerja bakti, membantu tetangga hajatan atau terkena musibah. Lalu, es orson atau es teh manis menyirami tenggorokan. Nasi, tahu, tempe, ikan asin, lalapan, plus sambel trasi terhidang. Bukan gule.

Tuesday, July 04, 2006

Garuda Menanti

Rupanya melamun juga ia. Kehilangan tahta, terusir ke hutan ringan saja buat dia. Tapi kehilangan istri membuat ke-manusia-annya hidup. Marah, kesal, putus asa.

Monday, June 26, 2006

Batam Forever

ADA tiga orang sahabat. Mereka bersepakat jalan-jalan keliling dunia, melihat panorama alam ciptaan Ilahi. Mereka berasal dari Jakarta, Singapura, dan Batam. Titik pemberangkatan disepakati dari Batam, yang terletak antara Jakarta-Singapura.

Monday, June 19, 2006

Bibir-bibir (di) Manado

SETIAP kali bertugas ke Manado, teman menyarankan agar mencicipi bubur Manado.


Dan, tuan-tuan dan puan-puan yang terhormat itu masih terus memainkan bibir (cuap-cuap)di Manado. n

Tuesday, June 13, 2006

Angan-angan Pegawai

Bimbang ia, dan masih memegang remote control, duduk di kursi malas. Ketika pertandingan sepak bola Belanda vs Serbia Montenegro memasuki setengah main, istrinya menangkupkan telapak tangan kirinya ke jari telunjuk kanan yang mengacung. Time out! Dan, layar tv 14 inci itu pun gelap.

“Mulai tahun depan, saya mau ngumpulin ibu-ibu untuk arisan dan....”

Monday, June 05, 2006

Bencana di Atas Bencana

ALKISAH. Gunung Galbugazar memuntahkan lahar. Ribuan warga Kerajaan Nabugalazar terusir ke tenda-tenda. Harapan panen raya pun musnah sudah. Bantuan datang dari mana-mana. Pangeran dari negeri tetangga yang diutus minta sekar kedaton sebagai balas jasa atas bantuan mereka.

Sultan bingung, tapi Puteri-nya tidak. Ia tetap berjalan dari tenda ke tenda menyalurkan bantuan dari istananya, juga dari negeri jiran. Ia tak putus-putus membelai dan menyemangati para korban. Sendiri atau bersama para pangeran dan pengawalnya dari negeri jiran yang diutus.

Monday, May 29, 2006

Tenda Biru Yogya

GEMPA lagi. Kali ini meluluhlantakkan Yogya dan sekitarnya. Kabupaten Bantul yang paling parah. Ribuan orang terkapar, tak bernyawa atau luka parah. Ribuan bangunan ambruk, tinggal puing atau dinding. Ratusan ribu orang tak berani tidur di dalam bangunan. Mereka memilih di tanah lapang beratapkan langit, berdinding dingin, di halaman rumah sakit atau di padang rumput. Dalam derai hujan, mereka mengeluh dan berteriak tentang ketiadaan tenda.

Aku terkesiap. Nama kaumku, Tenda, diseru. Tak pernah dalam sejarah, kaumku mangkir dari tugas. Karena memang demikianlah semboyan kaumku. “Dari manusia untuk manusia!” Kami selalu menaungi manusia dalam suka maupun duka.

Monday, May 22, 2006

2050

GOOD morning, sir!” Seorang OB alias office boy menyapa. Staf kantor yang bukan bosnya itu berlalu, cuek, dan sempat-sempatnya bilang, “kopi, please!”

Di kantor, di rumah, di perjalanan, di warung, apalagi dalam perbincangan bisnis, di Tanah Air ini, semua dalam bahasa asing, meski campur-campur. Merek produk, mulai dari pakaian dalam hingga elektronika, asing. Reklame, nama gedung dan kantor, tak terkecuali. Perusahaan asing dan lokal tak lagi bisa dibedakan. Sama. Sembilan puluh sembilan persen –untuk tidak mengatakan seluruhnya-- dalam bahasa asing.


Ini 2050. Indonesia tak lagi mengenal demo buruh yang menuntut kesejahteraan. Juga tak ada lagi unjuk rasa menentang rancangan undang-undang. Mahasiswa tertib, rapi dan tak lagi turun ke jalan.

Telepon berdering. Seorang minta segera ketemu. “Ok! I’ll be right there in 30 minutes!” Berkemas. Mobil sport itu menderu dan tancap gas.

Di perbatasan Jakarta, petugas imigrasi selalu berjaga-jaga. “Your pasport, sir!

Kasak-kusuk membuka tas, dan laci. “Waduh, lupa, sir!” Dalam benaknya, bakal batal janjinya bertemu seseorang di negeri jiran, yang jaraknya cuma 30 km dari Jakarta, Indonesia.

Sejurus kemudian, orang berseragam datang. “Pak, teleponnya, tuh, berisik!” seru OB yang tadi membuatkannya kopi.

Dering telepon berlalu mengiringi kepergian lamunannya yang membuai. Tentang Indonesia yang tinggal Jakarta. Tentang 2050. n rizagana

Monday, May 15, 2006

Minyak

MINYAAK! Teriakan pengecer minyak tanah di gang-gang di Jakarta nyaris tak terdengar lagi. Banyak orang sudah beralih ke gas, barangkali. Tapi gerobak minyak masih berseliweran, dengan tenaga manusia atau sepeda motor. Suara gerobaknya khas, se-khas teriakan penjajanya. Minyaak!

Tuesday, May 09, 2006

Pertamax Plus Minus

WAKTU hujan sore-sore. Belasan anak bermain bola. Memanfaatkan lapangan parkir di belakang Rumah Sakit Agung, Manggarai, Jakarta. Bertelanjang dada, tak peduli hujan. Adu cepat, adu ketangkasan menggiring si kulit bundar. Lalu bersorak, berpelukan, dan mengacungkan kedua telunjuk meniru gaya Thiere Henry sehabis memasukkan bola ke gawang lawan. Gool...!

Ada kebanggaan buat si pencetak gol dan timnya. Sah-sah saja bila bermacam-macam cara mereka lakukan untuk merayakan sebuah gol. Belum tentu menang, memang. Tapi untuk sebuah hasil kerja sama tim, buah persaingan. Setelah melewati rintangan gelandang, back, dan kiper serta gawang yang berukuran dua meter dengan batas atas yang tergantung tinggi badan dan jangkauan kiper.

Ada sikut-sikutan, juga upaya menjegal. Pelanggaran yang masih bisa dimaafkan, meski tanpa wasit. Lawan pun menerima sambil ‘mengancam’ dengan gol balasan. Pelanggaran berat nyaris tak ada, kecuali bermain di lapangan parkir yang membuat pemilik kendaraan was-was. Selebihnya, adu keterampilan, tes fisik, dan uji nyali. Penonton, termasuk fans yang kalah pun legowo.

Terbayang saat mereka dewasa. Bermain bola di Gelora Bung Karno atau di ‘lapangan’ kehidupan lainnya. Saat belajar, mencari kerja, berkarier. Menjadi pemimpin atau pemilik perusahaan. Tak terdengar desis si Pulan menghadapi diskriminasi sejak melamar kerja, menerima upah, hingga menjalankan bisnis sendiri. Semoga, kelak ada lapangan buat mereka.

Di lapangan birokrasi dan politik, bahkan.

Tuesday, May 02, 2006

May Day... May Day...!

Kali ini, mereka tak lagi bisa berteriak. Giliran media massa menyambut dan menjadi corong. Televisi, radio, koran seperti berulang-ulang meneriakkan May Day... May Day...! Tapi dimana....

Tuesday, April 25, 2006

Belajar dari Sekolah

Jerapah sedang sial. Mendadak tuannya berkunjung ke sekolah yang ia pimpin. Pas hari libur. Pas sekolah itu belum dibersihkan. Kotor dan tak terawat.

Tuesday, April 18, 2006

Kesini, Oh!

Usianya masih belasan tahun, ketika tentara penjajah, Jepang, merekrut ribuan atau bahkan ratusan ribu remaja puteri pribumi untuk disekolahkan di Jepang atau Sonantho (Singapura). Kelak, mereka berguna bagi pembangunan negerinya. Tentara propaganda Jepang (Sendendu) minta para pangreh praja, mulai dari wedana, bupati, camat, lurah hingga RT untuk memberi contoh kepada rakyat.

Ada yang senang. Tidak sedikit yang terpaksa, tak kuasa menolak. Jabataan atau bahkan nyawa taruhannya.

Tuesday, April 11, 2006

Pemimpin Lewat


Suami ibu muda ragu melangkah. Surat rujukan dari Puskesmas dipegangnya erat-erat. Sesekali ia membayangkan Rumah Sakit yang bakal dituju dan kantongnya yang cekak. Anaknya yang baru berusia dua tahun dua bulan terkulai lemas dalam gendongannya.

Kecemasan atas derita anaknya menyapu keraguannya melangkah. Sesampai di rumah sakit, petugas menyatakan tak ada tempat. Bangsal penuh. Ia pulang dengan tetap memegang erat surat rujukan puskesmas dan menggendong Anaknya. Ia menggenapkan kasus serupa: gizi buruk akibat kemiskinan dan tertolak rumah sakit.

Tuesday, April 04, 2006

‘Persedongkolan’ Buruh

I like Monday. Apa boleh buat. Apalagi harus berangkat pagi. Sepeda motor harus bekerja lagi mengantar tuannya. Menyusuri lorong-lorong jalan yang terbentuk oleh deretan mobil, angkot dan bus serta truk. Seperti bersekongkol, tak sedikit pula yang bergerombol, nekat mengambil jalur berlawanan arah.

Ada perasaan kolektif dari pengendara roda dua. Sepanjang ada jalan yang bisa dilalui –dan selagi tak ada larangan dan petugas-- tak apa diterjang. Trotoar yang menjadi hak pejalan kaki, jembatan penyeberangan, menyenggol kaca spion mobil orang, atau bahkan menunggu lampu hijau selepas marka. Bagi mereka yang umumnya adalah karyawan, blue and white collar, berarti memulai aktivitas ‘lagi’ setelah libur panjang di akhir pekan.

Persekongkolan dan sejenisnya bukan cuma menyangkut perasaan. Ia juga bukan monopoli pengendara motor. Pun tidak melulu di jalan, melainkan bisa terjadi di pasar atau di kantor, di gedung pencakar langit, di departemen, di istana. Bahkan bisa antarinstansi, lintas partai politik.

Tak Tertolong

Belasan moncong ikan menjulur ke pemukaan air di kolam depan rumah. Tak peduli tuannya tengah asyik dengan selembar brusor. Bak parade moncong, mereka berunjuk rasa. Ikan mas itu, sejatinya, tak menuntut mesin pompa air dihidupkan, melainkan hidupnya.

Menghidupkan mesin pompa air, berarti membantu kehidupan ikan. Kesenangan ikan berarti menjaga kesenangan si empunya. Masuk akal! Tapi selembar brusor yang diperoleh dari sebuah pameran buku itu mengganggu kesenangan ikan –dan si empunya-- siang itu.

Tuesday, March 21, 2006

Hello, Moderen

Puluhan lembar tisu tak juga menghentikan aliran air dari lubang hidung. Bersin tak pula bisa reda, meski badan telah diselimuti kemul tebal. Niat menyaksikan konser tak kesampaian. Padahal pas masuk gratis sudah tersedia.

Wednesday, March 15, 2006

Ekonomi Ungu Violet

Lagi seorang fotografer, termenung sendiri. Ia memikirkan yang ramah dan penuh senyum sambil menyodorkan tiket bus. Bola matanya yang berbinar, tinggi lumayan, dan senyumnya membuat orang tak berkedip. Langkahnya seperti berjinjit, berlenggak-lenggok, dan mantap menapaki catwalk. Pongah di hadapan puluhan pasang mata pria dan wanita.

Tuesday, March 07, 2006

Pengemis Bermangkuk Emas


Sedan mewah itu terpaksa mengerem mendadak di perempatan Tomang. Traffic light baru saja berganti kuning. Belum merah. Biasa. Sopir-sopir yang biasa lewat di situ, pasti tahu. Daripada kena semprit, mending berhenti semasa kuning. Menunda waktu perjalanan barang 10 menit tak apalah, daripada mengemis agar tak ditilang polisi

Friday, March 03, 2006

Buruh pun Tahu

Asap rokok berbaur menemani canda dan tawa. Di dalam sebuah angkutan kota, angkot. Dari baju seragam yang mereka kenakan, tertulis nama sebuah pabrik. Lupa beban hidup yang menggunung. Abai dengan orang lain se-angkot, pelajar dan ibu-ibu, yang mengibaskan tangan sambil membuka jendela lebar-lebar, menghalau asap.

Yang penting happy. Saking gembiranya, mereka lupa, tempat penghentian yang dituju sudah terlewat. Mereka sontak, kompak berteriak, “Stop!” Lalu masing-masing mengeluarkan uang seribuan. Mereka bergabung dengan rekan sekerja lain yang berjalan kaki, bergerombol menuju pintu gerbang pabrik.

Tuesday, February 21, 2006

Sadar juga!

Tega nian! Tapi kemudian ia berbisik, atau ada tujuan lain. Berebut. Pemenangnya bisa dipastikan asing.

Nah! sadar juga, ternyata.

Monday, February 20, 2006

Premanisasi

Di jalan-jalan, di pasar, di warung-warung, di tempat-tempat nongkrong, kalimat sejenis sering kita jumpai. “Itu bukan urusan gue. Elo urus aja sendiri.” Bahkan, kalimat dengan nada mengancam pun ada, semisal, “Emang elo mau apa!”

Tuesday, February 07, 2006

Logika BUMN

Suara sumbang itu makin parau didendangkan. Memercayainya identik dengan tertulari logika idiot atau logika keledai dalam menangani perusahaan plat merah.

Friday, February 03, 2006

Korban Lagi

Tiba-tiba isu formalin menggelegar. Ia menghantam bisnis makanan dan minuman yang ditekuni banyak orang.

Tuesday, January 24, 2006

Teman Kabur

Inilah cara gampang membuat kabur para tersangka, terdakwa, maupun terpidana kasus-kasus hukum. Kabur dalam arti melarikan diri atau kabur dalam arti buram atau tidak jelas sepanjang proses peradilannya. Mulai dari proses pemeriksaan, penyelidikan, penyidikan di kejaksaan atau kepolisian. Dakwaan jaksa penuntut umum yang dibuat lemah, vonis hakim yang tidak memenuhi rasa keadilan, kasus dipeti-eskan atau mendapat surat perintah penghentian penyidikan (SP3) hingga kasus yang tidak diproses-proses.

Wednesday, January 18, 2006

Proposal Utang

HARI INI, beberapa pemegang kartu kredit pasti telah menerima Catalog belanja. Segala macam barang ditawarkan berikut harga dan besaran cicilan yang disesuaikan dengan jangka waktunya. Ada juga iming-iming tanpa bunga. Intinya, pemegang kartu kredit diajak belanja, berutang.

Sepekan terakhir ini, mereka juga sibuk menerima tamu dari Jepang, Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia (ADB), dan entah dari mana lagi. Yang dibicarakan seputar rencana pinjaman baru pada tahun ini yang akan dibahas dalam pertemuan yang dijadwalkan berlangsung Maret 2006.

Friday, January 13, 2006

Demang

Profesor ekonom senior miris dengan bencana alam yang terjadi belakangan ini, yang merenggut ratusan jiwa itu. “Dulu juga ada bencana alam, tetapi tidak sebanyak ini." kata dia.

Tuesday, January 03, 2006

Kesunyian Ia

Ia merasa sunyi, sendiri dalam ‘perang’-nya. Musuhnya yang bernama korupsi malah memiliki segerombolan kawan, segudang kapital, segunung dukungan politik dan kekuatan yang siap melancarkan serangan balik.

Serangan balik itu dilancarkan manakala mengusik kepentingannya, orang-orangnya, dan/atau kelompoknya. Serangan balik itu bisa berupa pernyataan atau tindakan. Ia bisa ditujukan kepada institusi pemberantasan korupsi, atau bahkan kepada personalnya.

Thursday, December 29, 2005

Peta Itu ...

Setahun sudah bencana tsunami meluluhlantakkan Aceh, dan beberapa daerah di India, Sri Langka dan Thailand. Lebih dari 100 ribu orang meninggal dunia, dan jutaan orang kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian. Di Aceh, sekitar 800 kilometer (km) pantai rusak, 75 ribu unit rumah hancur, lebih dari 600 km jalan dan 119 jembatan utama, 122 fasilitas kesehatan, 64 ribu hektare lahan pertanian, dan 15 ribu hektar tambak garam rusak maupun hancur.

Tuesday, December 20, 2005

PHK Lagi

Ini berita tentang pemutusan hubungan kerja (PHK).

Tak lama berselang, September 1984, ia dipanggil menghadap tuhannya. Dan, sejak itu, ia tak lagi ikut merasakan sakitnya rakyat. n rizagana

Yahukimo

Yahukimo!? Siapa menyangka, nama yang berbau Jepang itu nama kabupaten di ujung timur Indonesia.

Monday, December 12, 2005

Proses Pemiskinan

Maka bisa dimengerti, bila ibu-ibu rumah tangga acuh tak acuh serta cenderung pesimistis terhadap kenaikan harga-harga (inflasi) tahun depan.

Uang dan Kepercayaan

Terkadang memang sukar membedakan mana emas, mana loyang. Yang kita sangka emas, ternyata loyang. Begitu pun sebaliknya.

Wednesday, November 30, 2005

Upah

Pekan lalu, tahun lampau, ada demo buruh yang menuntut kenaikan upah minimum provinsi (UMP). Kedua adalah pengumuman rencana Pertamina menaikkan harga gas elpiji hingga 41%.

Tuesday, November 22, 2005

Hatta

“Kedaulatan ekonomi berisikan kemampuan masyarakat dan bangsa dengan semangat berdikari, memiliki individualitas, oto-aktivitas, memiliki harga diri, kepercayaan pada diri sendiri serta jiwa bangsa yang berkepribadian,” kata Bung Hatta.

Tuesday, November 15, 2005

Reshuffle

Reshuffle saja tidak cukup.

Apa sebenarnya yang cukup dalam hidup ini?

Tuesday, November 08, 2005

SETAHUN MENKEU

Ada Kotak Coklat di Piring Kotor

Life is a box of chocolate, you’ll never know what you gonna get.

Tuesday, November 01, 2005

Maaf

Selamat Idul Fitri!

Tuesday, October 25, 2005

Al Capone

“Munafik!" kata Henry Ford I, kepada pengusaha yang menyatakan dirinya senang dan suka membayar pajak.

Tuesday, October 18, 2005

Bukan Kematian...

Bukan kematian benar yang menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan bertahta


Syair Chairil Anwar itu kembali menggema di sekitar kita, dalam kekhidmatan bulan yang suci, masuk merasuki sekujur tubuh kita, dan keluar bersama hawa tak sedap dari mulut kita yang lapar. Bukan karena kematian nenenda yang amat dicintai penyair jalang, yang kurus kerempeng, bermata merah itu yang menusuk kalbu. Bukan pula kematian nenenda kita. Tapi kematian nenek Waginem.

Tuesday, October 11, 2005

Believe It or Not

Mahatma Gandhi yang dalam bahasa Sansekerta berarti ‘berjiwa hebat’ itu rela meninggalkan karir gemilang sebagai pengacara berpenghasilan besar di Afrika Selatan untuk mengabdi pada kejayaan dan kemerdekaan India dari penjajahan Inggris. Ia rela hidup melarat untuk membela rakyat India yang rata-rata wong cilik nan miskin.

Tuesday, October 04, 2005

Dapur versus Negara

“Ayaaaaah!”

Sang suami kaget, dan berlari menghampiri istrinya. “Ada apa?”

“Ini, total pengeluaran kita minimal tujuh juta sebulan. Minimal, lo! Belum termasuk biaya kosmetik dan sesekali ke salon serta biaya tak terduga, seperti bohlam pecah, kran air dol, obat-obatan, dan kalau ada saudara kita datang dari kampung atau ada hajatan tetangga atau saudara. Kita tidak usah mikir nabung, dulu. Kekurangannya ini harus disubsidi dari mana?”

“Oooo....Aku kira ada bom, kayak di Bali.”

“Ya... ada bom di sini, di rumah kita, di sekitar kita. Bom BBM! Gaji ayah naik, gak?”

Monday, September 26, 2005

Maaf SBY

Goblok!” kata Hitler tentang kebanyakan orang yang bermotokan, sedikit bicara banyak kerja. (Kuasanja Kerongkongan, Soekarno). Yang benar adalah banyak bicara, banyak kerja. Karena bicara juga, ia berhasil menghimpun rakyat Jerman untuk mewujudkan cita-citanya menjadikan Jerman Raya. Meski cita-cita itu akhirnya kandas.

Wednesday, September 21, 2005

Penuh Ketergesaan

Bisa jadi, itu menjadi pertanyaan kita semua.

Tuesday, September 20, 2005

Pelangi di Mata

Tapi selera lain. yang sudah nyaris tenggelam dihantam badai
yang tak kunjung habis, kini harus bergulat

Tuesday, September 13, 2005

BBM

Bingung! Itulah sekilas wajah saat ini.
Bingung, kelimpungan.

Wednesday, August 24, 2005

Orang Taat

Tak ada yang meragukan
“Orang Bijak Taat”

Tuesday, August 23, 2005

Merdeka

Lima belas Agustus 2005.
Setelah membawa masalah ini ke tingkat internasional, kini benar-benar ‘dimerdekakan’,

Thursday, August 18, 2005

IKLIM

Bagi yang bertindak sebagai donor masih berharap banyak pada perbaikan iklim

Tuesday, August 16, 2005

KEMISKINAN

Menyeramkan!


Apa yang salah dengan pembangunan? Gembar-gembor pembangunan, deru mesin industri, traktor, buldoser dan alat berat hingga ke pelosok Tanah Air.

Merdeka!

“Dipantainya tanah Djawa rakjat berdesak-desakan;
Datang selalu tuan-tuannya setiap masa;
Mereka beruntun-runtun sebagai runtunan awan;
Tapi anak-pribumi sendiri ta’pernah kuasa.”


Kala artikel itu dirilis, Indonesia belum merdeka.

Tuesday, August 09, 2005

Melupakan

Mulailah dengan melihat jam. Lihat detik demi detik.

Tuesday, August 02, 2005

Atas Nama

Seorang pegawai. Nah!

Ada yang atas nama

Tuesday, July 26, 2005

Ke Cina

Besok, berangkat ke Cina.
“Belajarlah sampai ke negeri Cina.”
Katanya itu hadits Nabi, padahal bukan. Ampuuunn...........

Tuesday, July 19, 2005

Rakyat

Percuma juga, sebenarnya, membicarakan kengototan Rakyat.

Tuesday, July 12, 2005

Pertama

Malu dan malu-maluin! Komentar itulah yang terlontar saat mendengar seorang bocah SD berkomentar “hemat pangkal kaya” .

Tuesday, July 05, 2005

Jangkar

Jangkar, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah alat pemberat pada kapal yang terbuat dari besi yang ditancapkan ke dasar laut saat berhenti agar kapal tidak oleng. Arti lain adalah akar yang bercabang-cabang, atau memanggil seseorang dengan nama kecilnya.

Monday, June 27, 2005

EHM

EHM. Ini bukan bahasa gaul yang biasa dipakai untuk membuat kode kepada lawan bicara atau pun untuk menggoda yang sedang lewat.

Tuesday, June 21, 2005

Ayo Sekolah

Warung kopi ada pertemuan.

Tuesday, June 14, 2005

Petani

Sambil membonceng di motornya, tukang ojek, bercerita

Tuesday, June 07, 2005

Hapus

Seorang berceloteh tentang kelakuan yang tidak berubah dari dulu hingga sekarang, yang selalu memaksakan kehendak.

Tuesday, May 17, 2005

Ciri Kita

Ah, itu kan pertarungan antar teman.

Tuesday, May 10, 2005

Nasional

Sudah hampir 60 tahun merdeka, apa yang kita rasakan?

Tuesday, May 03, 2005

May ...!


Sekitar 350.000 .

Tuesday, April 26, 2005

Afrika

Hitam biasa dipakai untuk menggambarkan sesuatu yang kotor.

Selain manis, hitam juga bagus, lho!

Tuesday, April 19, 2005

Lima Miliar

1.000.000.000 Extra adalah salah satu judul tulisan

Cuma, bagaimana akan menggerakkan yang hampir lima miliar itu?

Tuesday, April 05, 2005

Strategi

Jadi, dengan atau tanpa ahli strategi , sesungguhnya telah menjelma menjadi kekuatan

Wednesday, March 30, 2005

Program

Dalam sebuah perbincangan serius tapi santai, seorang teman nyeletuk dan mengangkat lagi topik itu.

Tuesday, March 22, 2005

Ssst ... !

Awal melenium ketiga, dunia dikejutkan oleh sandal terbesar.

Kita membayangkan, hal sedemikian itu terjadi di negeri ini.

Tuesday, March 15, 2005

Ganyang Kolonialisme

Ada rasa bangga, ketika kapal perang mengusir kapal perang asing. Genderang perang telah ditabuh, tinggal menunggu komando.

Wednesday, March 02, 2005

Rakyat Kecil

Sudah sejak zaman dulu,
Benar-benar ‘demi’ rakyat kecil.

Tuesday, February 22, 2005

Tuan

Kecil tidak selalu kalah dari yang besar.

Jadi, tunggu saja.

Monday, February 14, 2005

Bertanya

Seorang anak bertanya.

Maka tunggu saja, lanjutan dialognya dengan si anak,
“Celaka!”

Tuesday, February 08, 2005

Kenikmatan

Sebagian lagi berseloroh, “kan, larangan itu cuma di Jakarta!”

Kenapa begitu sulit untuk menghentikan kenikmatan rokok...

Tuesday, February 01, 2005

Bro

Teringat ketika seseorang datang menemuinya dan mengaku ‘diutus’ seorang.

Seseorang yang diutus itu dalam bahasa sehari-hari disebut calo.

Bro