Tuesday, August 15, 2006
Berani Merdeka
INI tentang keberanian. Mungkin juga bukan. Di saat memeringati kemerdekaan (rakyat) Indonesia dari belenggu penjajah. Di tengah malam, saat berjuang membebaskan diri dari kantuk. Otak di batok ini selalu terantuk perasaan sendiri. Berani malu?
Tuesday, August 08, 2006
Indonesia Raya
SUDAH belasan tahun, barangkali lebih, tak menyanyikan lagu Indonesia Raya. Pas ngantar anak sekolah, pas telat pula. Upacara bendera telah dimulai. Pagar sekolah telah dikunci. Terpaksa menemani anak menunggu di luar pagar. Lamat-lamat terdengar anak-anak SD menyanyikan lagu Indonesia raya...
Tak tahulah anak-anak SD itu. Dari balik pagar, mereka terlihat berbaris tak rapi. Ada juga yang sikut-sikutan. Bisik-bisik. Badan sedikit digoyang-goyangkan. Anak kelas IV SD yang ada di samping tiba-tiba menyikut dengan sikunya. “Emangnya Indonesia mau mati, Yah?”
Tak tahulah anak-anak SD itu. Dari balik pagar, mereka terlihat berbaris tak rapi. Ada juga yang sikut-sikutan. Bisik-bisik. Badan sedikit digoyang-goyangkan. Anak kelas IV SD yang ada di samping tiba-tiba menyikut dengan sikunya. “Emangnya Indonesia mau mati, Yah?”
Monday, July 31, 2006
Bursa Pengangguran
SUDAH.Tidurlah, anakku!” Ibunda mencoba menenangkan hati anaknya. Tapi si anak tak juga bisa tenang, apalagi tidur. Mata terpejam, tapi pikirannya terus melanglang buana. Sudah setahun diwisuda, selama itu pula ia menganggur. Empat tahun ia habiskan waktu di bangku kuliah, selama itu pula ia mengeruk kocek plus tabungan hari tua bapaknya di Jamsostek.
Giliran Bapak diajak tidur. Di tempat tidur, Ibunda tak juga lelap. Ia tak juga bisa membuka mulut, tentang keluh-kesah anaknya. Mata terpejam, tapi pikirannya melanglang buana ke masa silam.
Waktu itu, Bapak melenguh, seperti sapi dicucuk cingurnya, setiap diajak urun rembuk soal keinginan anaknya kuliah. Biaya kuliah per semester yang Rp 3 juta, okelah. Tapi uang pangkal yang Rp 15 juta itu, darimana?
Giliran Bapak diajak tidur. Di tempat tidur, Ibunda tak juga lelap. Ia tak juga bisa membuka mulut, tentang keluh-kesah anaknya. Mata terpejam, tapi pikirannya melanglang buana ke masa silam.
Waktu itu, Bapak melenguh, seperti sapi dicucuk cingurnya, setiap diajak urun rembuk soal keinginan anaknya kuliah. Biaya kuliah per semester yang Rp 3 juta, okelah. Tapi uang pangkal yang Rp 15 juta itu, darimana?
Monday, July 24, 2006
Ilmu Ekonomi
TANYALAH soal hidup bahagia. Apa, bagaimana dan di mana itu. Kepada orang kaya atau miskin, pejabat-rakyat, direktur-penganggur, agamawan-sastrawan-maling dan kawan-kawan. Pasti jawabnya berbeda. Atau siapa saja, aku, kau, atau dia. Keluarga, selingkungan warga, marga, atau negara.
Tuesday, July 18, 2006
Menabung
Dia baru saja naik kelas IV SD. Seperti kenaikan kelas pada tahun-tahun sebelumnya, ia merayakannya dengan membuka celengan. Hasilnya Rp 2.250.000. Biasanya, uang tabungan itu habis untuk membiayai sekolahnya sendiri. Mulai dari buku dan seperangkat alat-alat tulis, seragam, tas, dan sepatu. Semuanya baru. Sisanya untuk jajan, main di timezone, atau membeli mainan.
Kali ini, seluruh keperluan itu telah terpenuhi. Sehingga seluruh uang hasil menabung selama setahun itu idle. Gadis kecil itu bingung dan mulai berangan-angan.
Kali ini, seluruh keperluan itu telah terpenuhi. Sehingga seluruh uang hasil menabung selama setahun itu idle. Gadis kecil itu bingung dan mulai berangan-angan.
Wednesday, July 12, 2006
Ruang Koperasi
SABTU besok, Pulan mau ngecor atap rumahnya. Dia sudah nyewa mesin molen, dan dua orang tukang becak. Cuma enam kali enam meter persegi, kok!”
Kalimat itu meruang dan terus meraung dari telinga ke telinga warga pada setiap perjumpaan, di tempat-tempat nongkrong, diselingi perbincangan tentang kekalahan tim sepakbola tuan rumah, Jerman, atas Italia–yang kemudian menjuarai—pada Piala Dunia 2006. Mereka pun mafhum, dan “Oke aja. Tapi ada gule, kan?”
Seperti iringan semut menggotong sebutir gula pasir, para warga berbaris estafet, menggiring ember-ember adonan cor ke atap rumah. Derak sekop dan bising mesin molen seirama dengan desis adonan cor meluap ke bak penampungan. Harmoni dengan kecipak batu split dalam lumpur semen dan pasir, gendang parau ember yang beradu, serta desah nafas kuli gadungan. Yang di bawah melagukan “ember!” bersaut dengan senandung, “adukan!” dari yang di atas.
Pemandangan itu bukan di sebuah desa di Bantul, yang luluh-lantak oleh gempa bumi, yang merana oleh janji bantuan. Tolong-menolong dan gotong royong itu ada di pinggiran Jakarta, di komplek perumahan. Sebuah rutinitas week end selain acara keluarga. Kerja bakti, membantu tetangga hajatan atau terkena musibah. Lalu, es orson atau es teh manis menyirami tenggorokan. Nasi, tahu, tempe, ikan asin, lalapan, plus sambel trasi terhidang. Bukan gule.
Kalimat itu meruang dan terus meraung dari telinga ke telinga warga pada setiap perjumpaan, di tempat-tempat nongkrong, diselingi perbincangan tentang kekalahan tim sepakbola tuan rumah, Jerman, atas Italia–yang kemudian menjuarai—pada Piala Dunia 2006. Mereka pun mafhum, dan “Oke aja. Tapi ada gule, kan?”
Seperti iringan semut menggotong sebutir gula pasir, para warga berbaris estafet, menggiring ember-ember adonan cor ke atap rumah. Derak sekop dan bising mesin molen seirama dengan desis adonan cor meluap ke bak penampungan. Harmoni dengan kecipak batu split dalam lumpur semen dan pasir, gendang parau ember yang beradu, serta desah nafas kuli gadungan. Yang di bawah melagukan “ember!” bersaut dengan senandung, “adukan!” dari yang di atas.
Pemandangan itu bukan di sebuah desa di Bantul, yang luluh-lantak oleh gempa bumi, yang merana oleh janji bantuan. Tolong-menolong dan gotong royong itu ada di pinggiran Jakarta, di komplek perumahan. Sebuah rutinitas week end selain acara keluarga. Kerja bakti, membantu tetangga hajatan atau terkena musibah. Lalu, es orson atau es teh manis menyirami tenggorokan. Nasi, tahu, tempe, ikan asin, lalapan, plus sambel trasi terhidang. Bukan gule.
Tuesday, July 04, 2006
Garuda Menanti
Rupanya melamun juga ia. Kehilangan tahta, terusir ke hutan ringan saja buat dia. Tapi kehilangan istri membuat ke-manusia-annya hidup. Marah, kesal, putus asa.
Monday, June 26, 2006
Batam Forever
ADA tiga orang sahabat. Mereka bersepakat jalan-jalan keliling dunia, melihat panorama alam ciptaan Ilahi. Mereka berasal dari Jakarta, Singapura, dan Batam. Titik pemberangkatan disepakati dari Batam, yang terletak antara Jakarta-Singapura.
Monday, June 19, 2006
Bibir-bibir (di) Manado
SETIAP kali bertugas ke Manado, teman menyarankan agar mencicipi bubur Manado.
Dan, tuan-tuan dan puan-puan yang terhormat itu masih terus memainkan bibir (cuap-cuap)di Manado. n
Dan, tuan-tuan dan puan-puan yang terhormat itu masih terus memainkan bibir (cuap-cuap)di Manado. n
Tuesday, June 13, 2006
Angan-angan Pegawai
Bimbang ia, dan masih memegang remote control, duduk di kursi malas. Ketika pertandingan sepak bola Belanda vs Serbia Montenegro memasuki setengah main, istrinya menangkupkan telapak tangan kirinya ke jari telunjuk kanan yang mengacung. Time out! Dan, layar tv 14 inci itu pun gelap.
“Mulai tahun depan, saya mau ngumpulin ibu-ibu untuk arisan dan....”
“Mulai tahun depan, saya mau ngumpulin ibu-ibu untuk arisan dan....”
Monday, June 05, 2006
Bencana di Atas Bencana
ALKISAH. Gunung Galbugazar memuntahkan lahar. Ribuan warga Kerajaan Nabugalazar terusir ke tenda-tenda. Harapan panen raya pun musnah sudah. Bantuan datang dari mana-mana. Pangeran dari negeri tetangga yang diutus minta sekar kedaton sebagai balas jasa atas bantuan mereka.
Sultan bingung, tapi Puteri-nya tidak. Ia tetap berjalan dari tenda ke tenda menyalurkan bantuan dari istananya, juga dari negeri jiran. Ia tak putus-putus membelai dan menyemangati para korban. Sendiri atau bersama para pangeran dan pengawalnya dari negeri jiran yang diutus.
Sultan bingung, tapi Puteri-nya tidak. Ia tetap berjalan dari tenda ke tenda menyalurkan bantuan dari istananya, juga dari negeri jiran. Ia tak putus-putus membelai dan menyemangati para korban. Sendiri atau bersama para pangeran dan pengawalnya dari negeri jiran yang diutus.
Monday, May 29, 2006
Tenda Biru Yogya
GEMPA lagi. Kali ini meluluhlantakkan Yogya dan sekitarnya. Kabupaten Bantul yang paling parah. Ribuan orang terkapar, tak bernyawa atau luka parah. Ribuan bangunan ambruk, tinggal puing atau dinding. Ratusan ribu orang tak berani tidur di dalam bangunan. Mereka memilih di tanah lapang beratapkan langit, berdinding dingin, di halaman rumah sakit atau di padang rumput. Dalam derai hujan, mereka mengeluh dan berteriak tentang ketiadaan tenda.
Aku terkesiap. Nama kaumku, Tenda, diseru. Tak pernah dalam sejarah, kaumku mangkir dari tugas. Karena memang demikianlah semboyan kaumku. “Dari manusia untuk manusia!” Kami selalu menaungi manusia dalam suka maupun duka.
Aku terkesiap. Nama kaumku, Tenda, diseru. Tak pernah dalam sejarah, kaumku mangkir dari tugas. Karena memang demikianlah semboyan kaumku. “Dari manusia untuk manusia!” Kami selalu menaungi manusia dalam suka maupun duka.
Monday, May 22, 2006
2050
GOOD morning, sir!” Seorang OB alias office boy menyapa. Staf kantor yang bukan bosnya itu berlalu, cuek, dan sempat-sempatnya bilang, “kopi, please!”
Di kantor, di rumah, di perjalanan, di warung, apalagi dalam perbincangan bisnis, di Tanah Air ini, semua dalam bahasa asing, meski campur-campur. Merek produk, mulai dari pakaian dalam hingga elektronika, asing. Reklame, nama gedung dan kantor, tak terkecuali. Perusahaan asing dan lokal tak lagi bisa dibedakan. Sama. Sembilan puluh sembilan persen –untuk tidak mengatakan seluruhnya-- dalam bahasa asing.
Ini 2050. Indonesia tak lagi mengenal demo buruh yang menuntut kesejahteraan. Juga tak ada lagi unjuk rasa menentang rancangan undang-undang. Mahasiswa tertib, rapi dan tak lagi turun ke jalan.
Telepon berdering. Seorang minta segera ketemu. “Ok! I’ll be right there in 30 minutes!” Berkemas. Mobil sport itu menderu dan tancap gas.
Di perbatasan Jakarta, petugas imigrasi selalu berjaga-jaga. “Your pasport, sir!”
Kasak-kusuk membuka tas, dan laci. “Waduh, lupa, sir!” Dalam benaknya, bakal batal janjinya bertemu seseorang di negeri jiran, yang jaraknya cuma 30 km dari Jakarta, Indonesia.
Sejurus kemudian, orang berseragam datang. “Pak, teleponnya, tuh, berisik!” seru OB yang tadi membuatkannya kopi.
Dering telepon berlalu mengiringi kepergian lamunannya yang membuai. Tentang Indonesia yang tinggal Jakarta. Tentang 2050. n rizagana
Di kantor, di rumah, di perjalanan, di warung, apalagi dalam perbincangan bisnis, di Tanah Air ini, semua dalam bahasa asing, meski campur-campur. Merek produk, mulai dari pakaian dalam hingga elektronika, asing. Reklame, nama gedung dan kantor, tak terkecuali. Perusahaan asing dan lokal tak lagi bisa dibedakan. Sama. Sembilan puluh sembilan persen –untuk tidak mengatakan seluruhnya-- dalam bahasa asing.
Ini 2050. Indonesia tak lagi mengenal demo buruh yang menuntut kesejahteraan. Juga tak ada lagi unjuk rasa menentang rancangan undang-undang. Mahasiswa tertib, rapi dan tak lagi turun ke jalan.
Telepon berdering. Seorang minta segera ketemu. “Ok! I’ll be right there in 30 minutes!” Berkemas. Mobil sport itu menderu dan tancap gas.
Di perbatasan Jakarta, petugas imigrasi selalu berjaga-jaga. “Your pasport, sir!”
Kasak-kusuk membuka tas, dan laci. “Waduh, lupa, sir!” Dalam benaknya, bakal batal janjinya bertemu seseorang di negeri jiran, yang jaraknya cuma 30 km dari Jakarta, Indonesia.
Sejurus kemudian, orang berseragam datang. “Pak, teleponnya, tuh, berisik!” seru OB yang tadi membuatkannya kopi.
Dering telepon berlalu mengiringi kepergian lamunannya yang membuai. Tentang Indonesia yang tinggal Jakarta. Tentang 2050. n rizagana
Monday, May 15, 2006
Minyak
MINYAAK! Teriakan pengecer minyak tanah di gang-gang di Jakarta nyaris tak terdengar lagi. Banyak orang sudah beralih ke gas, barangkali. Tapi gerobak minyak masih berseliweran, dengan tenaga manusia atau sepeda motor. Suara gerobaknya khas, se-khas teriakan penjajanya. Minyaak!
Tuesday, May 09, 2006
Pertamax Plus Minus
WAKTU hujan sore-sore. Belasan anak bermain bola. Memanfaatkan lapangan parkir di belakang Rumah Sakit Agung, Manggarai, Jakarta. Bertelanjang dada, tak peduli hujan. Adu cepat, adu ketangkasan menggiring si kulit bundar. Lalu bersorak, berpelukan, dan mengacungkan kedua telunjuk meniru gaya Thiere Henry sehabis memasukkan bola ke gawang lawan. Gool...!
Ada kebanggaan buat si pencetak gol dan timnya. Sah-sah saja bila bermacam-macam cara mereka lakukan untuk merayakan sebuah gol. Belum tentu menang, memang. Tapi untuk sebuah hasil kerja sama tim, buah persaingan. Setelah melewati rintangan gelandang, back, dan kiper serta gawang yang berukuran dua meter dengan batas atas yang tergantung tinggi badan dan jangkauan kiper.
Ada sikut-sikutan, juga upaya menjegal. Pelanggaran yang masih bisa dimaafkan, meski tanpa wasit. Lawan pun menerima sambil ‘mengancam’ dengan gol balasan. Pelanggaran berat nyaris tak ada, kecuali bermain di lapangan parkir yang membuat pemilik kendaraan was-was. Selebihnya, adu keterampilan, tes fisik, dan uji nyali. Penonton, termasuk fans yang kalah pun legowo.
Terbayang saat mereka dewasa. Bermain bola di Gelora Bung Karno atau di ‘lapangan’ kehidupan lainnya. Saat belajar, mencari kerja, berkarier. Menjadi pemimpin atau pemilik perusahaan. Tak terdengar desis si Pulan menghadapi diskriminasi sejak melamar kerja, menerima upah, hingga menjalankan bisnis sendiri. Semoga, kelak ada lapangan buat mereka.
Di lapangan birokrasi dan politik, bahkan.
Ada kebanggaan buat si pencetak gol dan timnya. Sah-sah saja bila bermacam-macam cara mereka lakukan untuk merayakan sebuah gol. Belum tentu menang, memang. Tapi untuk sebuah hasil kerja sama tim, buah persaingan. Setelah melewati rintangan gelandang, back, dan kiper serta gawang yang berukuran dua meter dengan batas atas yang tergantung tinggi badan dan jangkauan kiper.
Ada sikut-sikutan, juga upaya menjegal. Pelanggaran yang masih bisa dimaafkan, meski tanpa wasit. Lawan pun menerima sambil ‘mengancam’ dengan gol balasan. Pelanggaran berat nyaris tak ada, kecuali bermain di lapangan parkir yang membuat pemilik kendaraan was-was. Selebihnya, adu keterampilan, tes fisik, dan uji nyali. Penonton, termasuk fans yang kalah pun legowo.
Terbayang saat mereka dewasa. Bermain bola di Gelora Bung Karno atau di ‘lapangan’ kehidupan lainnya. Saat belajar, mencari kerja, berkarier. Menjadi pemimpin atau pemilik perusahaan. Tak terdengar desis si Pulan menghadapi diskriminasi sejak melamar kerja, menerima upah, hingga menjalankan bisnis sendiri. Semoga, kelak ada lapangan buat mereka.
Di lapangan birokrasi dan politik, bahkan.
Tuesday, May 02, 2006
May Day... May Day...!
Kali ini, mereka tak lagi bisa berteriak. Giliran media massa menyambut dan menjadi corong. Televisi, radio, koran seperti berulang-ulang meneriakkan May Day... May Day...! Tapi dimana....
Tuesday, April 25, 2006
Belajar dari Sekolah
Jerapah sedang sial. Mendadak tuannya berkunjung ke sekolah yang ia pimpin. Pas hari libur. Pas sekolah itu belum dibersihkan. Kotor dan tak terawat.
Tuesday, April 18, 2006
Kesini, Oh!
Usianya masih belasan tahun, ketika tentara penjajah, Jepang, merekrut ribuan atau bahkan ratusan ribu remaja puteri pribumi untuk disekolahkan di Jepang atau Sonantho (Singapura). Kelak, mereka berguna bagi pembangunan negerinya. Tentara propaganda Jepang (Sendendu) minta para pangreh praja, mulai dari wedana, bupati, camat, lurah hingga RT untuk memberi contoh kepada rakyat.
Ada yang senang. Tidak sedikit yang terpaksa, tak kuasa menolak. Jabataan atau bahkan nyawa taruhannya.
Ada yang senang. Tidak sedikit yang terpaksa, tak kuasa menolak. Jabataan atau bahkan nyawa taruhannya.
Tuesday, April 11, 2006
Pemimpin Lewat
Suami ibu muda ragu melangkah. Surat rujukan dari Puskesmas dipegangnya erat-erat. Sesekali ia membayangkan Rumah Sakit yang bakal dituju dan kantongnya yang cekak. Anaknya yang baru berusia dua tahun dua bulan terkulai lemas dalam gendongannya.
Kecemasan atas derita anaknya menyapu keraguannya melangkah. Sesampai di rumah sakit, petugas menyatakan tak ada tempat. Bangsal penuh. Ia pulang dengan tetap memegang erat surat rujukan puskesmas dan menggendong Anaknya. Ia menggenapkan kasus serupa: gizi buruk akibat kemiskinan dan tertolak rumah sakit.
Tuesday, April 04, 2006
‘Persedongkolan’ Buruh
I like Monday. Apa boleh buat. Apalagi harus berangkat pagi. Sepeda motor harus bekerja lagi mengantar tuannya. Menyusuri lorong-lorong jalan yang terbentuk oleh deretan mobil, angkot dan bus serta truk. Seperti bersekongkol, tak sedikit pula yang bergerombol, nekat mengambil jalur berlawanan arah.
Ada perasaan kolektif dari pengendara roda dua. Sepanjang ada jalan yang bisa dilalui –dan selagi tak ada larangan dan petugas-- tak apa diterjang. Trotoar yang menjadi hak pejalan kaki, jembatan penyeberangan, menyenggol kaca spion mobil orang, atau bahkan menunggu lampu hijau selepas marka. Bagi mereka yang umumnya adalah karyawan, blue and white collar, berarti memulai aktivitas ‘lagi’ setelah libur panjang di akhir pekan.
Persekongkolan dan sejenisnya bukan cuma menyangkut perasaan. Ia juga bukan monopoli pengendara motor. Pun tidak melulu di jalan, melainkan bisa terjadi di pasar atau di kantor, di gedung pencakar langit, di departemen, di istana. Bahkan bisa antarinstansi, lintas partai politik.
Ada perasaan kolektif dari pengendara roda dua. Sepanjang ada jalan yang bisa dilalui –dan selagi tak ada larangan dan petugas-- tak apa diterjang. Trotoar yang menjadi hak pejalan kaki, jembatan penyeberangan, menyenggol kaca spion mobil orang, atau bahkan menunggu lampu hijau selepas marka. Bagi mereka yang umumnya adalah karyawan, blue and white collar, berarti memulai aktivitas ‘lagi’ setelah libur panjang di akhir pekan.
Persekongkolan dan sejenisnya bukan cuma menyangkut perasaan. Ia juga bukan monopoli pengendara motor. Pun tidak melulu di jalan, melainkan bisa terjadi di pasar atau di kantor, di gedung pencakar langit, di departemen, di istana. Bahkan bisa antarinstansi, lintas partai politik.
Tak Tertolong
Belasan moncong ikan menjulur ke pemukaan air di kolam depan rumah. Tak peduli tuannya tengah asyik dengan selembar brusor. Bak parade moncong, mereka berunjuk rasa. Ikan mas itu, sejatinya, tak menuntut mesin pompa air dihidupkan, melainkan hidupnya.
Menghidupkan mesin pompa air, berarti membantu kehidupan ikan. Kesenangan ikan berarti menjaga kesenangan si empunya. Masuk akal! Tapi selembar brusor yang diperoleh dari sebuah pameran buku itu mengganggu kesenangan ikan –dan si empunya-- siang itu.
Menghidupkan mesin pompa air, berarti membantu kehidupan ikan. Kesenangan ikan berarti menjaga kesenangan si empunya. Masuk akal! Tapi selembar brusor yang diperoleh dari sebuah pameran buku itu mengganggu kesenangan ikan –dan si empunya-- siang itu.
Tuesday, March 21, 2006
Hello, Moderen
Puluhan lembar tisu tak juga menghentikan aliran air dari lubang hidung. Bersin tak pula bisa reda, meski badan telah diselimuti kemul tebal. Niat menyaksikan konser tak kesampaian. Padahal pas masuk gratis sudah tersedia.
Wednesday, March 15, 2006
Ekonomi Ungu Violet
Lagi seorang fotografer, termenung sendiri. Ia memikirkan yang ramah dan penuh senyum sambil menyodorkan tiket bus. Bola matanya yang berbinar, tinggi lumayan, dan senyumnya membuat orang tak berkedip. Langkahnya seperti berjinjit, berlenggak-lenggok, dan mantap menapaki catwalk. Pongah di hadapan puluhan pasang mata pria dan wanita.
Tuesday, March 07, 2006
Pengemis Bermangkuk Emas
Sedan mewah itu terpaksa mengerem mendadak di perempatan Tomang. Traffic light baru saja berganti kuning. Belum merah. Biasa. Sopir-sopir yang biasa lewat di situ, pasti tahu. Daripada kena semprit, mending berhenti semasa kuning. Menunda waktu perjalanan barang 10 menit tak apalah, daripada mengemis agar tak ditilang polisi
Friday, March 03, 2006
Buruh pun Tahu
Asap rokok berbaur menemani canda dan tawa. Di dalam sebuah angkutan kota, angkot. Dari baju seragam yang mereka kenakan, tertulis nama sebuah pabrik. Lupa beban hidup yang menggunung. Abai dengan orang lain se-angkot, pelajar dan ibu-ibu, yang mengibaskan tangan sambil membuka jendela lebar-lebar, menghalau asap.
Yang penting happy. Saking gembiranya, mereka lupa, tempat penghentian yang dituju sudah terlewat. Mereka sontak, kompak berteriak, “Stop!” Lalu masing-masing mengeluarkan uang seribuan. Mereka bergabung dengan rekan sekerja lain yang berjalan kaki, bergerombol menuju pintu gerbang pabrik.
Yang penting happy. Saking gembiranya, mereka lupa, tempat penghentian yang dituju sudah terlewat. Mereka sontak, kompak berteriak, “Stop!” Lalu masing-masing mengeluarkan uang seribuan. Mereka bergabung dengan rekan sekerja lain yang berjalan kaki, bergerombol menuju pintu gerbang pabrik.
Tuesday, February 21, 2006
Sadar juga!
Tega nian! Tapi kemudian ia berbisik, atau ada tujuan lain. Berebut. Pemenangnya bisa dipastikan asing.
Nah! sadar juga, ternyata.
Nah! sadar juga, ternyata.
Monday, February 20, 2006
Premanisasi
Di jalan-jalan, di pasar, di warung-warung, di tempat-tempat nongkrong, kalimat sejenis sering kita jumpai. “Itu bukan urusan gue. Elo urus aja sendiri.” Bahkan, kalimat dengan nada mengancam pun ada, semisal, “Emang elo mau apa!”
Tuesday, February 07, 2006
Logika BUMN
Suara sumbang itu makin parau didendangkan. Memercayainya identik dengan tertulari logika idiot atau logika keledai dalam menangani perusahaan plat merah.
Friday, February 03, 2006
Korban Lagi
Tiba-tiba isu formalin menggelegar. Ia menghantam bisnis makanan dan minuman yang ditekuni banyak orang.
Tuesday, January 24, 2006
Teman Kabur
Inilah cara gampang membuat kabur para tersangka, terdakwa, maupun terpidana kasus-kasus hukum. Kabur dalam arti melarikan diri atau kabur dalam arti buram atau tidak jelas sepanjang proses peradilannya. Mulai dari proses pemeriksaan, penyelidikan, penyidikan di kejaksaan atau kepolisian. Dakwaan jaksa penuntut umum yang dibuat lemah, vonis hakim yang tidak memenuhi rasa keadilan, kasus dipeti-eskan atau mendapat surat perintah penghentian penyidikan (SP3) hingga kasus yang tidak diproses-proses.
Wednesday, January 18, 2006
Proposal Utang
HARI INI, beberapa pemegang kartu kredit pasti telah menerima Catalog belanja. Segala macam barang ditawarkan berikut harga dan besaran cicilan yang disesuaikan dengan jangka waktunya. Ada juga iming-iming tanpa bunga. Intinya, pemegang kartu kredit diajak belanja, berutang.
Sepekan terakhir ini, mereka juga sibuk menerima tamu dari Jepang, Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia (ADB), dan entah dari mana lagi. Yang dibicarakan seputar rencana pinjaman baru pada tahun ini yang akan dibahas dalam pertemuan yang dijadwalkan berlangsung Maret 2006.
Sepekan terakhir ini, mereka juga sibuk menerima tamu dari Jepang, Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia (ADB), dan entah dari mana lagi. Yang dibicarakan seputar rencana pinjaman baru pada tahun ini yang akan dibahas dalam pertemuan yang dijadwalkan berlangsung Maret 2006.
Friday, January 13, 2006
Demang
Profesor ekonom senior miris dengan bencana alam yang terjadi belakangan ini, yang merenggut ratusan jiwa itu. “Dulu juga ada bencana alam, tetapi tidak sebanyak ini." kata dia.
Tuesday, January 03, 2006
Kesunyian Ia
Ia merasa sunyi, sendiri dalam ‘perang’-nya. Musuhnya yang bernama korupsi malah memiliki segerombolan kawan, segudang kapital, segunung dukungan politik dan kekuatan yang siap melancarkan serangan balik.
Serangan balik itu dilancarkan manakala mengusik kepentingannya, orang-orangnya, dan/atau kelompoknya. Serangan balik itu bisa berupa pernyataan atau tindakan. Ia bisa ditujukan kepada institusi pemberantasan korupsi, atau bahkan kepada personalnya.
Serangan balik itu dilancarkan manakala mengusik kepentingannya, orang-orangnya, dan/atau kelompoknya. Serangan balik itu bisa berupa pernyataan atau tindakan. Ia bisa ditujukan kepada institusi pemberantasan korupsi, atau bahkan kepada personalnya.
Thursday, December 29, 2005
Peta Itu ...
Setahun sudah bencana tsunami meluluhlantakkan Aceh, dan beberapa daerah di India, Sri Langka dan Thailand. Lebih dari 100 ribu orang meninggal dunia, dan jutaan orang kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian. Di Aceh, sekitar 800 kilometer (km) pantai rusak, 75 ribu unit rumah hancur, lebih dari 600 km jalan dan 119 jembatan utama, 122 fasilitas kesehatan, 64 ribu hektare lahan pertanian, dan 15 ribu hektar tambak garam rusak maupun hancur.
Tuesday, December 20, 2005
PHK Lagi
Ini berita tentang pemutusan hubungan kerja (PHK).
Tak lama berselang, September 1984, ia dipanggil menghadap tuhannya. Dan, sejak itu, ia tak lagi ikut merasakan sakitnya rakyat. n rizagana
Tak lama berselang, September 1984, ia dipanggil menghadap tuhannya. Dan, sejak itu, ia tak lagi ikut merasakan sakitnya rakyat. n rizagana
Yahukimo
Yahukimo!? Siapa menyangka, nama yang berbau Jepang itu nama kabupaten di ujung timur Indonesia.
Monday, December 12, 2005
Proses Pemiskinan
Maka bisa dimengerti, bila ibu-ibu rumah tangga acuh tak acuh serta cenderung pesimistis terhadap kenaikan harga-harga (inflasi) tahun depan.
Uang dan Kepercayaan
Terkadang memang sukar membedakan mana emas, mana loyang. Yang kita sangka emas, ternyata loyang. Begitu pun sebaliknya.
Wednesday, November 30, 2005
Upah
Pekan lalu, tahun lampau, ada demo buruh yang menuntut kenaikan upah minimum provinsi (UMP). Kedua adalah pengumuman rencana Pertamina menaikkan harga gas elpiji hingga 41%.
Tuesday, November 22, 2005
Hatta
“Kedaulatan ekonomi berisikan kemampuan masyarakat dan bangsa dengan semangat berdikari, memiliki individualitas, oto-aktivitas, memiliki harga diri, kepercayaan pada diri sendiri serta jiwa bangsa yang berkepribadian,” kata Bung Hatta.
Tuesday, November 15, 2005
Tuesday, November 08, 2005
SETAHUN MENKEU
Ada Kotak Coklat di Piring Kotor
“Life is a box of chocolate, you’ll never know what you gonna get.”
“Life is a box of chocolate, you’ll never know what you gonna get.”
Tuesday, November 01, 2005
Tuesday, October 25, 2005
Al Capone
“Munafik!" kata Henry Ford I, kepada pengusaha yang menyatakan dirinya senang dan suka membayar pajak.
Tuesday, October 18, 2005
Bukan Kematian...
Bukan kematian benar yang menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan bertahta
Syair Chairil Anwar itu kembali menggema di sekitar kita, dalam kekhidmatan bulan yang suci, masuk merasuki sekujur tubuh kita, dan keluar bersama hawa tak sedap dari mulut kita yang lapar. Bukan karena kematian nenenda yang amat dicintai penyair jalang, yang kurus kerempeng, bermata merah itu yang menusuk kalbu. Bukan pula kematian nenenda kita. Tapi kematian nenek Waginem.
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan bertahta
Syair Chairil Anwar itu kembali menggema di sekitar kita, dalam kekhidmatan bulan yang suci, masuk merasuki sekujur tubuh kita, dan keluar bersama hawa tak sedap dari mulut kita yang lapar. Bukan karena kematian nenenda yang amat dicintai penyair jalang, yang kurus kerempeng, bermata merah itu yang menusuk kalbu. Bukan pula kematian nenenda kita. Tapi kematian nenek Waginem.
Tuesday, October 11, 2005
Believe It or Not
Mahatma Gandhi yang dalam bahasa Sansekerta berarti ‘berjiwa hebat’ itu rela meninggalkan karir gemilang sebagai pengacara berpenghasilan besar di Afrika Selatan untuk mengabdi pada kejayaan dan kemerdekaan India dari penjajahan Inggris. Ia rela hidup melarat untuk membela rakyat India yang rata-rata wong cilik nan miskin.
Tuesday, October 04, 2005
Dapur versus Negara
“Ayaaaaah!”
Sang suami kaget, dan berlari menghampiri istrinya. “Ada apa?”
“Ini, total pengeluaran kita minimal tujuh juta sebulan. Minimal, lo! Belum termasuk biaya kosmetik dan sesekali ke salon serta biaya tak terduga, seperti bohlam pecah, kran air dol, obat-obatan, dan kalau ada saudara kita datang dari kampung atau ada hajatan tetangga atau saudara. Kita tidak usah mikir nabung, dulu. Kekurangannya ini harus disubsidi dari mana?”
“Oooo....Aku kira ada bom, kayak di Bali.”
“Ya... ada bom di sini, di rumah kita, di sekitar kita. Bom BBM! Gaji ayah naik, gak?”
Sang suami kaget, dan berlari menghampiri istrinya. “Ada apa?”
“Ini, total pengeluaran kita minimal tujuh juta sebulan. Minimal, lo! Belum termasuk biaya kosmetik dan sesekali ke salon serta biaya tak terduga, seperti bohlam pecah, kran air dol, obat-obatan, dan kalau ada saudara kita datang dari kampung atau ada hajatan tetangga atau saudara. Kita tidak usah mikir nabung, dulu. Kekurangannya ini harus disubsidi dari mana?”
“Oooo....Aku kira ada bom, kayak di Bali.”
“Ya... ada bom di sini, di rumah kita, di sekitar kita. Bom BBM! Gaji ayah naik, gak?”
Monday, September 26, 2005
Maaf SBY
“Goblok!” kata Hitler tentang kebanyakan orang yang bermotokan, sedikit bicara banyak kerja. (Kuasanja Kerongkongan, Soekarno). Yang benar adalah banyak bicara, banyak kerja. Karena bicara juga, ia berhasil menghimpun rakyat Jerman untuk mewujudkan cita-citanya menjadikan Jerman Raya. Meski cita-cita itu akhirnya kandas.
Wednesday, September 21, 2005
Tuesday, September 20, 2005
Pelangi di Mata
Tapi selera lain. yang sudah nyaris tenggelam dihantam badai
yang tak kunjung habis, kini harus bergulat
yang tak kunjung habis, kini harus bergulat
Tuesday, September 13, 2005
Wednesday, August 24, 2005
Tuesday, August 23, 2005
Merdeka
Lima belas Agustus 2005.
Setelah membawa masalah ini ke tingkat internasional, kini benar-benar ‘dimerdekakan’,
Setelah membawa masalah ini ke tingkat internasional, kini benar-benar ‘dimerdekakan’,
Thursday, August 18, 2005
Tuesday, August 16, 2005
KEMISKINAN
Menyeramkan!
Apa yang salah dengan pembangunan? Gembar-gembor pembangunan, deru mesin industri, traktor, buldoser dan alat berat hingga ke pelosok Tanah Air.
Merdeka!
“Dipantainya tanah Djawa rakjat berdesak-desakan;
Datang selalu tuan-tuannya setiap masa;
Mereka beruntun-runtun sebagai runtunan awan;
Tapi anak-pribumi sendiri ta’pernah kuasa.”
Kala artikel itu dirilis, Indonesia belum merdeka.
Datang selalu tuan-tuannya setiap masa;
Mereka beruntun-runtun sebagai runtunan awan;
Tapi anak-pribumi sendiri ta’pernah kuasa.”
Kala artikel itu dirilis, Indonesia belum merdeka.
Tuesday, August 09, 2005
Tuesday, August 02, 2005
Tuesday, July 26, 2005
Ke Cina
Besok, berangkat ke Cina.
“Belajarlah sampai ke negeri Cina.”
Katanya itu hadits Nabi, padahal bukan. Ampuuunn...........
“Belajarlah sampai ke negeri Cina.”
Katanya itu hadits Nabi, padahal bukan. Ampuuunn...........
Tuesday, July 19, 2005
Tuesday, July 12, 2005
Pertama
Malu dan malu-maluin! Komentar itulah yang terlontar saat mendengar seorang bocah SD berkomentar “hemat pangkal kaya” .
Tuesday, July 05, 2005
Jangkar
Jangkar, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah alat pemberat pada kapal yang terbuat dari besi yang ditancapkan ke dasar laut saat berhenti agar kapal tidak oleng. Arti lain adalah akar yang bercabang-cabang, atau memanggil seseorang dengan nama kecilnya.
Monday, June 27, 2005
EHM
EHM. Ini bukan bahasa gaul yang biasa dipakai untuk membuat kode kepada lawan bicara atau pun untuk menggoda yang sedang lewat.
Tuesday, June 21, 2005
Tuesday, June 14, 2005
Tuesday, June 07, 2005
Hapus
Seorang berceloteh tentang kelakuan yang tidak berubah dari dulu hingga sekarang, yang selalu memaksakan kehendak.
Tuesday, May 17, 2005
Tuesday, May 10, 2005
Tuesday, May 03, 2005
Tuesday, April 26, 2005
Afrika
Hitam biasa dipakai untuk menggambarkan sesuatu yang kotor.
Selain manis, hitam juga bagus, lho!
Selain manis, hitam juga bagus, lho!
Tuesday, April 19, 2005
Lima Miliar
1.000.000.000 Extra adalah salah satu judul tulisan
Cuma, bagaimana akan menggerakkan yang hampir lima miliar itu?
Cuma, bagaimana akan menggerakkan yang hampir lima miliar itu?
Tuesday, April 05, 2005
Wednesday, March 30, 2005
Program
Dalam sebuah perbincangan serius tapi santai, seorang teman nyeletuk dan mengangkat lagi topik itu.
Tuesday, March 22, 2005
Ssst ... !
Awal melenium ketiga, dunia dikejutkan oleh sandal terbesar.
Kita membayangkan, hal sedemikian itu terjadi di negeri ini.
Kita membayangkan, hal sedemikian itu terjadi di negeri ini.
Tuesday, March 15, 2005
Ganyang Kolonialisme
Ada rasa bangga, ketika kapal perang mengusir kapal perang asing. Genderang perang telah ditabuh, tinggal menunggu komando.
Wednesday, March 02, 2005
Tuesday, February 22, 2005
Monday, February 14, 2005
Tuesday, February 08, 2005
Kenikmatan
Sebagian lagi berseloroh, “kan, larangan itu cuma di Jakarta!”
Kenapa begitu sulit untuk menghentikan kenikmatan rokok...
Kenapa begitu sulit untuk menghentikan kenikmatan rokok...
Tuesday, February 01, 2005
Bro
Teringat ketika seseorang datang menemuinya dan mengaku ‘diutus’ seorang.
Seseorang yang diutus itu dalam bahasa sehari-hari disebut calo.
Bro
Seseorang yang diutus itu dalam bahasa sehari-hari disebut calo.
Bro
Tuesday, January 25, 2005
Wednesday, January 19, 2005
Bersyukur Masih Bisa Bersyukur
“Capek.”
Seluruh tim dikerahkan.
Hari ini, makin capek.
Justru, ia terus bersyukur karena masih bisa bersyukur.
Seluruh tim dikerahkan.
Hari ini, makin capek.
Justru, ia terus bersyukur karena masih bisa bersyukur.
Monday, January 10, 2005
Friday, January 07, 2005
Datang dan Pergi
"Kami akan mendorong untuk minta pemotongan, bukan hanya rescheduling.”
Banyak alasan untuk minta hair cut, seperti perang melawan kemiskinan dan terorisme. Kini alasan itu bertambah dengan bencana tsunami.
Banyak alasan untuk minta hair cut, seperti perang melawan kemiskinan dan terorisme. Kini alasan itu bertambah dengan bencana tsunami.
Tuesday, January 04, 2005
Galang Dana
Sebuah pembicaraan serius beralih, ketika ada yang menyinggung soal fund raising atau penggalangan dana (kemanusiaan) yang marak untuk korban gempa dan tsunami.
Terlepas dari adanya penyelewengan atau tidak, fund raising, sejatinya tak hanya dibutuhkan saat musibah bencana alam. Penggalangan dana bisa juga untuk menggerakkan ekonomi nasional. Coba saja!
Terlepas dari adanya penyelewengan atau tidak, fund raising, sejatinya tak hanya dibutuhkan saat musibah bencana alam. Penggalangan dana bisa juga untuk menggerakkan ekonomi nasional. Coba saja!
Thursday, December 30, 2004
Menguji Percaya Diri
Kabar gembira datang. Pada pertengahan Oktober lalu, Tahun Kebangkitan. Tahun depan, ingin lebih gencar.
Ekonomi Negara Berkembang
Awalnya, disiapkan sebagai resep bagi yang sekarat, lalu dijadikan resep yang berlaku umum .
Utang Mirip Narkoba
Cerita ketergantungan pada utang sejatinya telah berlangsung lama.
Kalau dihitung, hingga sekarang, total utang sudah bejibun.
jadi, kapan mau lepas dari ketergantungan “narkoba” yang bernama utang ?
Kalau dihitung, hingga sekarang, total utang sudah bejibun.
jadi, kapan mau lepas dari ketergantungan “narkoba” yang bernama utang ?
Tuesday, December 28, 2004
Kwik, Stiglitz dan IMF
Suatu hari, Kwik Kian Gie didatangi pejabat teras Dana Moneter Internasional (IMF).
Dan, Joseph E Stiglitz, peraih Nobel Ekonomi 2001 dari AS, singgah di Jakarta dan Bali.
Dan, Joseph E Stiglitz, peraih Nobel Ekonomi 2001 dari AS, singgah di Jakarta dan Bali.
Wednesday, July 28, 2004
“Konsensus”
60 Tahun
18 tahun silam. Lahan subur akan disulap menjadi waduk.
“Konsensus” dibuat, dan keputusannya: gusur!
Yang mau, belum tentu mendapat ganti rugi yang setimpal.
18 tahun silam. Lahan subur akan disulap menjadi waduk.
“Konsensus” dibuat, dan keputusannya: gusur!
Yang mau, belum tentu mendapat ganti rugi yang setimpal.
Wednesday, November 05, 2003
Peringkat, Bukan Patokan
Maraknya Penerbitan (2/habis)
Jumlah ini akan terus bertambah, seiring keinginan menerbitkan uang.
Tetapi orang sangat yakin dan percaya bahwa yang diterbitkan adalah yang paling aman, hampir bebas dari gagal .
Jumlah ini akan terus bertambah, seiring keinginan menerbitkan uang.
Tetapi orang sangat yakin dan percaya bahwa yang diterbitkan adalah yang paling aman, hampir bebas dari gagal .
Tuesday, November 04, 2003
Kondisinya Mirip
Polanya sudah terbentuk, dan mirip-mirip dengan apa yang terjadi di Argentina dan Indonesia pada medio 1997 lalu.
Saturday, September 20, 2003
Data Bicara tentang Dirinya Sendiri
Posisi analis di bursa saham dunia, umumnya di negara maju, saat ini dipenuhi ribuan fisikawan dan ahli statistika. Umumnya mereka menggunakan ARCH (autoregressive conditional heteroskedastic) atau GARCH (generalized autoregressive conditional heteroskedastic) sebagai pisau analisis utama. Analisis risiko dengan menggunakan metode Engle dan Granger ini telah sedemikian banyak membantu analis, tidak hanya di bursa, tetapi ekonomi dan sistem keuangan dunia, khususnya di negara maju. Tapi bagaimana di Indonesia?
Friday, September 19, 2003
Rumus Fisika untuk Analisis di Bursa
Engle dan Granger, Peraih Nobel Ekonomi 2003 (bagian 1)
Data, bagi kebanyakan orang adalah penting. Ia bisa menjadi pendukung, sekaligus bukti dari suatu peristiwa. Apalagi bagi para pelaku bisnis, khususnya di pasar uang dan pasar modal atau para pengambil keputusan di pemerintahan, yang berkaitan dengan makro ekonomi. Tetapi, bagaimana data bisa “bercerita” tentang dirinya sendiri? Sehingga bisa lebih memberikan gambaran tentang arah dan risiko-risiko dari sebuah data yang waktunya berderet (time series).
Itulah yang dilakukan Robert F Engle dan Clive WJ Granger, peraih Nobel Ekonomi 2003.
Data, bagi kebanyakan orang adalah penting. Ia bisa menjadi pendukung, sekaligus bukti dari suatu peristiwa. Apalagi bagi para pelaku bisnis, khususnya di pasar uang dan pasar modal atau para pengambil keputusan di pemerintahan, yang berkaitan dengan makro ekonomi. Tetapi, bagaimana data bisa “bercerita” tentang dirinya sendiri? Sehingga bisa lebih memberikan gambaran tentang arah dan risiko-risiko dari sebuah data yang waktunya berderet (time series).
Itulah yang dilakukan Robert F Engle dan Clive WJ Granger, peraih Nobel Ekonomi 2003.
Monday, September 08, 2003
Pertarungan (2/habis)
Sudah Klarifikasi
Adalah sikap bodoh, bila mempercayai sebagai yang nomor satu. Sebab, mereka juga tidak tahu.
Adalah sikap bodoh, bila mempercayai sebagai yang nomor satu. Sebab, mereka juga tidak tahu.
Sunday, September 07, 2003
Pertarungan (1)
Tak Menyanggah Interpretasi
“Mudah-mudahan selesai sesuai target, pertengahan September ini.”
Ia lebih banyak berada di luar negeri. Anak buahnya tidak tahu, apa yang dikerjakan mulai bingung.
“Mudah-mudahan selesai sesuai target, pertengahan September ini.”
Ia lebih banyak berada di luar negeri. Anak buahnya tidak tahu, apa yang dikerjakan mulai bingung.
Tuesday, July 08, 2003
Kurang Hati-hati
Kelalaian (2/habis)
Namanya belum terkenal. Sejak awal Juni lalu, namanya mencuat.
“Saya sering dengar namanya, tetapi saya belum pernah bertemu. Saya tidak kenal dia. Teman-teman, saat saya tanya juga, mengaku tidak kenal.”
Namanya belum terkenal. Sejak awal Juni lalu, namanya mencuat.
“Saya sering dengar namanya, tetapi saya belum pernah bertemu. Saya tidak kenal dia. Teman-teman, saat saya tanya juga, mengaku tidak kenal.”
Monday, July 07, 2003
Dipilih, Karena Mitra
Kelalaian Manajemen? (bagian 1)
Manajemen baru memilih salah satu karena sudah keburu tutup.
Manajemen baru memilih salah satu karena sudah keburu tutup.
Tuesday, May 27, 2003
'Manajemen itu Very Smart'
Kebodohan atau Kebohongan? (2-habis)
Manajemen bukanlah orang yang tidak mengerti bisnis. “Mereka adalah orang-orang yang smart. Very smart, malah. Karena mereka berpengalaman di bisnis ini selama 30 tahun.”
“Mereka juga tidak mungkin bohong, karena kelihatan dari sikap pro-aktif yang ditunjukkan selama ini muncul,” tambahnya. Lalu kalau bukan kebodohan dan bukan kebohongan, apa dong?
Manajemen bukanlah orang yang tidak mengerti bisnis. “Mereka adalah orang-orang yang smart. Very smart, malah. Karena mereka berpengalaman di bisnis ini selama 30 tahun.”
“Mereka juga tidak mungkin bohong, karena kelihatan dari sikap pro-aktif yang ditunjukkan selama ini muncul,” tambahnya. Lalu kalau bukan kebodohan dan bukan kebohongan, apa dong?
Subscribe to:
Posts (Atom)
