Monday, June 26, 2006

Batam Forever

ADA tiga orang sahabat. Mereka bersepakat jalan-jalan keliling dunia, melihat panorama alam ciptaan Ilahi. Mereka berasal dari Jakarta, Singapura, dan Batam. Titik pemberangkatan disepakati dari Batam, yang terletak antara Jakarta-Singapura. Persis ketika Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong menyaksikan penandatanganan Persetujuan Kerangka Kerja Sama Ekonomi di Pulau Batam, Bintan dan Karimun, Minggu (25/6).

Segala keperluan disiapkan, termasuk alat komunikasi canggih, uang tunai dan –tentu saja-- kartu kredit yang bisa diterima di negara mana saja. Kendaraan, jangan tanya. Duit ada, alat transportasi yang paling canggih tersedia. Selama bisa dijangkau dengan kendaraan darat, tak perlu naik pesawat. Kapal laut tak masuk hitungan.

Indonesia di-ubek-ubek. Terus ke Australia melongok Opera House, ‘naik’ ke utara menuju benua Amerika, tak lupa mampir di Grand Canyon. Lalu ke Eropa mampir di menara Eiffell dan berlama-lama di Afrika yang tandus, serta tak melupakan Sphinx. Singkat cerita, mereka lalu kembali ke Asia, menyusuri gurun pasir yang maha luas. Mobil mogok, kehabisan bensin. Sialnya, alat komunikasi canggih yang dibawa dari rumah tak berfungsi. Low batt. Stok makanan makin tipis. Tinggal sepotong roti dan seteguk air mineral di dalam botol plastik.

Tiga sahabat karib ini pun mulai tak sabar. Adu mulut mulai menghiasi perjalalanan mereka yang menyenangkan itu. Perut mulai kriuk-kriuk, tenggorokan terasa kering. Kompak. Mereka berebut makanan yang tersisa. Masing-masing paling berhak atas sisa makanan itu. Pertengkaran pun makin hebat. Mereka tak bersetuju, sisa makanan itu dibagi tiga.

Matahari pun terbenam. Teman yang dari Batam mengusulkan agar istirahat tidur. “Kalau besok kita bangun, masing-masing wajib menceritakan mimpinya. Siapa yang bermimpi paling menakjubkan akan menentukan apa yang harus dilakukan besok,” kata yang dari Batam. “Oke...oke...!” Mereka semua oke.

Tak ada kokok ayam, tak ada kumandang adzan. Pagi-pagi sekali mereka sudah dibangunkan sang surya. Masing-masing berebut ingin menceritakan hal mimpinya semalam. “Oke, you, tuan Singapura, duluan. Apa mimpimu?”

“Semalam aku merasa berada di Pulau Batam, tempat kita memulai perjalanan. Aneh. Aku melihat Batam yang lain. Aku seolah-olah berada di Tanah Air-ku sendiri. Lalu lintas begitu tertib, orang tidak merokok di sembarang tempat, suasana hijau ada di mana-mana, gedung-gedung pencakar langit tumbuh bak cawan di musim hujan. Di Bintan dan Karimun juga demikian. Yang membuatku takjub, hampir semua penghuni gedung itu seperti mengenalku, seperti saudara sendiri. Aku pun mengenal mereka. Nama-nama perusahaan serta pabrik di situ tak asing. Lalu mereka mengajakku makan dan menyuguhkan roti dan air mineral persis seperti makanan kita yang tersisa itu.”

“Aneh sekali,” kata sahabat dari Jakarta. “Dalam mimpiku, aku bertemu seorang laki-laki yang serba tahu tentang segala masa lampau dan masa depan. Persis, seperti yang kau, wahai sahabat dari Singapura, ceritakan. Gedung-gedung, pabrik dan mal menjamur. Penduduknya ramah, dan menjamuku dengan hidangan roti dan air mineral, seperti yang kita miliki sekarang. Bahkan, ketika aku pamit, mereka menyelipkan uang saku. Untuk jajan dan uang transpot, kata mereka.”

Sabahat ketiga, yang dari Batam, cuma diam. Bengong. Hingga dua rekannya membangunkan lamunannya, dan mendesak agar segera menceritakan mimpinya.

“Aku tidak mimpi apa-apa. Eh, bukan.... Maksudku, dalam mimpiku, aku tak melihat apa-apa. Aku tak berkata apapun. Aku cuma merasakan sebuah kekuatan menghampiriku dan memaksaku bangun. Ada dorongan yang sangat dari perut dan tenggorokanku. Aku pun bangun, mencari roti dan air itu, lalu memakannya di situ juga. Nah, itulah yang kukerjakan semalam. Dan, begitulah biasanya aku dan saudara-saudaraku di Tanah Air, di Bataml” n rizagana

Tulisan ini telah dimuat di Investor Daily, edisi Selasa, 27 Juni 2006 halaman 24
Rubrik RASAN

Monday, June 19, 2006

Bibir-bibir (di) Manado

SETIAP kali bertugas ke Manado, teman menyarankan agar mencicipi bubur Manado. Teman yang lain menggoda, inga-inga pula bibir Manado.

Tiga hari (18-20 Juni) ini, di Manado, ratusan orang sarjana ekonomi Indonesia berkumpul. Berkongres. Unjuk bibir. Mungkin ribuan orang lain ikut menyaksikan lewat berita di koran, radio dan televisi, di sela kesibukan nonton bola yang juga menguras waktu tidur. Bibir-bibir sarjana ekonomi itu koor untuk sebuah tema “Meletakkan Kembali Dasar-dasar Pembangunan Ekonomi yang Kokoh.”

Wow! Bukan soal bibir-bibir merah merekah di kepala tubuh yang putih mulus. Tapi soal “meletakkan kembali” yang berarti “dasar-dasar pembangunan ekonomi yang kokoh” selama ini tidak ada di tempatnya lagi. Sesuatu yang kokoh telah bergeser? Entah oleh siapa dan sejak kapan. Tema itu sekaligus berarti “dasar-dasar pembangunan ekonomi yang kokoh” itu pernah ada di negeri ini. Yang mana?

Lalu, dari bibir-bibir itu muncul tema-tema lain yang lebih besar dari tema Kongres Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) itu. Tentang kembali ke pertanian sebagai tulang punggung perekonomian nasional. Tentang new deal, yang hanya diketahui oleh si empunya bibir dan yang membuat rancangan pidato itu, serta yang diajak (deal?). Tentang kebijakan ekonomi pemerintah yang propertumbuham, prolapangan kerja dan prokesejahteraan. Entah untuk siapa pula yang pro-pro itu.

Kembali ke sektor pertanian? Bukankah sampai saat ini, negeri ini masih bertumpu pada pertanian? Separuh penduduk negeri menggantungkan hidup keluarganya pada sektor ini. Tapi kenapa mereka yang tergolong miskin dan hampir miskin –yang berpenghasilan di bawah Rp 175 ribu per bulan atau Rp 5.833 per hari—yang jumlahnya (data BPS) hampir 80 juta orang itu rata-rata hidup di sektor ini?

Presiden dan ekonom tahu bahwa pokok dari kebijakan ekonomi suatu bangsa adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat. Ketersediaan dan keterjangkauan akan sandang, papan dan pangan. Tentang lapangan kerja dan kemiskinan. Tetapi kenapa dalam praktiknya, kebijakan yang pro-pro itu justru membuat rakyat makin terpuruk dalam kemiskinan, ketiadaan pekerjaan. Di sisi lain, utang terus ditumpuk dan diwariskan.

Inikah yang dimaksud mantan Gubernur Bank Indonesia Adrianus Mooy dalam tulisannya (Kompas, 19/6), ilmu ekonomi tidak bisa menjadi panacea (obat mujarab) dari aneka masalah? Atau inilah kebohongan terbesar ilmu ekonomi, seperti pernah ditulis Gede Prama. Karena ilmu ekonomi yang diyakini sebagai panacea segala penyakit peradaban --dari kemiskinan, keterbelakangan, hingga ketertinggalan-- telah mati.

Siapa kaget, bila ternyata pemimpin baru siuman setelah satu setengah tahun memerintah. Yang tercium pertama kali adalah ekor dari krisis ekonomi 1998 yang akibatnya masih terasa sampai sekarang. Ekor, bukan bibir? Mengapa kaget, bila kemudian muncul new deal? Sesuatu yang bisa berarti kesepakatan baru. Tapi jangan tanya, kesepakatan baru apa, untuk apa dan bagi siapa?

Oo...! (Teman menegur agar segera mingkem.) Dua pekan lalu, dua bibir ini juga membentuk huruf “o”. Ketika seorang ekonom berteriak heroik, “Merdeka!” (dengan “M” besar?). Bukankah negeri ini sudah 60 tahun merdeka? Kumandang “Merdeka” itu bukan di lapangan terbuka, saat peringatan hari bersejarah. Ini di ruang tertutup, ber-AC pula, di sebuah hotel bintang lima di pusat Jakarta oleh orang-orang berdasi-berjas. Bukan serdadu, tapi ekonom.

Ekonom itu, Revrisond Baswir. Dia mengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta dan sedang berbicara dalam diskusi “50 Tahun Mafia Berkeley” di Jakarta. Indonesia memang belum Merdeka. Bahkan agen-agen neokolonialisme masih terus ditempa, dikader di seluruh (fakultas ekonomi) perguruan tinggi di Tanah Air, termasuk di UGM, tempatnya mengajar. Dengan teori-teori kapitalisme, lengkap dengan buku-buku keluaran para eyang guru neokolonialisme menyesaki perpustakaan. Sadar atau tidak.

Dan, tuan-tuan dan puan-puan yang terhormat itu masih terus memainkan bibir –di Manado. n rizagana

Tulisan ini telah dimuat di Investor Daily edisi Selasa, 20 Juni 2006 halaman 24
Rubrik RASAN

Tuesday, June 13, 2006

Angan-angan Pegawai Negeri

BAMBANG masih memegang remote control, duduk di kursi malas. Ketika pertandingan sepak bola Belanda vs Serbia Montenegro memasuki setengah main, istrinya menangkupkan telapak tangan kirinya ke jari telunjuk kanan yang mengacung. Time out! Dan, layar tv 14 inci itu pun gelap.

“Mulai tahun depan, saya mau ngumpulin ibu-ibu untuk arisan dan....”

Weleh, weleh.... Mau arisan saja, tv dimatiin! Gimana kalau kamu ikut Indonesian Idol!”

Sang suami berusaha merebut remote control. Istri tak kalah gesit. Senyuman dan matanya tetap santun. Daripada banyak ngomong, ia lantas menyodorkan catatan kecil yang ia siapkan sore tadi. Tentang anggaran belanja rumah tangga mulai tahun depan. Sang suami tak hirau kata arisan yang dilingkari. “Angka apa-apaan ini?”

Weleh, weleh.... Bapak ini gimana. Kura-kura dalam perahu atau memang nggak baca koran, nggak nonton berita. Kalau bal-balan, begadang pun oke. Ini anggaran rumah tangga kita mulai 2007!” Sang istri lantas mengulang pernyataan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Taufik Effendi yang berniat menaikkan gaji pegawai negeri golongan paling rendah jadi Rp 2 juta pada 2007. “Gaji bapak, jadi berapa, ya?”

“Amin, amiiin! Tapi, lha, ini. Kelakuanmu sudah kayak bapak-bapak pejabat itu....” Ia tak melanjutkan bicaranya. Ia tak hendak merusak kegembiraan istrinya. Lalu, ia minta tv di-on-kan kembali. Obrolan pun berganti dengan riuh rendah perhelatan akbar di Jerman itu.

Esoknya, pegawai negeri golongan III itu mengambil kliping koran dalam tasnya dan menyodorkan kepada istrinya. Cas-cis-cus ia bicara. Bak pakar dalam panel diskusi di hotel berbintang. Persoalan itu telah hangat di kantornya, di ruang kerja, di warung, dan di dalam bus kantor. Dengan teman, juga atasannya. Ia berusaha mengingat kembali argumen-argumen yang terlontar dari diskusi yang lebih mirip pepesan kosong itu.

“Pak menteri ini sudah dua atau tiga kali bicara seperti ini. Dan, ini syaratnya: bila jumlah pembayar pajak mencapai 30 juta.” Bambang terlihat serius. Sang istri diam, membiarkan suaminya berceloteh. Ia memilih pasang kuping lebar-lebar.

“Tahun lalu, hingga pertengahan, jumlah pembayar pajak baru tiga juta. Pada Oktober 2005, jadi 10 juta, sekarang 12 juta. Tapi berapa kenaikan penerimaan negara? Yang menyetorkan kembali SPT-nya, berapa? Banyak yang ogah. Ada juga yang salah alamat, atau malah orang yang dituju dalam surat Ditjen Pajak ternyata sudah lama mati. Tahun depan, jadi 30 juta atau naik hampir tiga kali lipat?”

“Persoalannya, bukan pada bisa atau tidak mencapai target 30 juta itu. Tapi pemerintah mau atau tidak menaikkan gaji pegawai negeri. Sekarang pun bisa, kalau pemerintah mau. Tapi bicara soal keperluan, dan soal-soal lain, ya susah. Masalah efisiensi, kebocoran, bayar utang, anggaran pendidikan yang 20%, kesehatan, infrastruktur jalan, jembatan, bencana alam, penerimaan pajak. Itu kait-mengkait dan tak ada habis-habisnya. Dari hampir empat juta pegawai negeri, ternyata hampir 400 ribu palsu, 66 ribu orang menerima gaji ganda. Gaji naik, semua harga juga naik. Itu terjadi selama bertahun-tahun.”

“Kenaikan gaji tahun ini, yang 10%, itu pun sudah membuat susah pemerintah. Sekarang pemerintah mau naikkan 100%. Siapa pegawai negeri yang tidak senang. Tapi....”

“Tapi, apa pak?” Giliran istri yang tak sabar.

Mbok ya, yang realistis saja, bu! Uang belum di tangan, rencana sudah dibuat hingga membungahkan. Lalu mau disiarkan ke ibu-ibu sekitar sini, teman ngerumpi, dan kepada anak-anak. Janji beli ini dan itu, mau begini dan begitu. Kenapa sih merencanakan sesuatu dari sesuatu yang belum ada ujudnya? Untuk apa?”

Bu Bambang diam seribu basa.

“Atau ada rencana lain... agar bapak jadi ketua RT?”

“Berangan-angan, kok keterlaluan. Ketika banyak pegawai negeri tak memedulikan gaji, kok ibu malah memikirkan kenaikan gaji yang belum tentu itu. Pakai teori jika-maka segala. Yang jika-nya saja belum tentu terwujud, Ibu sudah merencanakan yang ‘maka’. Bahkan, kalau pun ‘jika’-nya terealisasi, belum tentu --seperti ilmu Tuhan-- maka jadilah ia. Tapi, moga-moga saja, iya!”

“Bu, bu, Mbok yao...!” n rizagana

Tulisan ini telah dimuat di Investor Daily edisi Selasa, 13 Juni 2006 halaman 24
Rubrik RASAN

Monday, June 05, 2006

Bencana di Atas Bencana

ALKISAH. Gunung Galbugazar memuntahkan lahar. Ribuan warga Kerajaan Nabugalazar terusir ke tenda-tenda. Harapan panen raya pun musnah sudah. Bantuan datang dari mana-mana. Pangeran dari negeri tetangga yang diutus minta sekar kedaton sebagai balas jasa atas bantuan mereka.

Sultan Zukhruf bingung, tapi Puteri Zule Zule-Xidar tidak. Ia tetap berjalan dari tenda ke tenda menyalurkan bantuan dari istananya, juga dari negeri jiran. Ia tak putus-putus membelai dan menyemangati para korban. Sendiri atau bersama para pangeran dan pengawalnya dari negeri jiran yang diutus.
Lalu, ia berseru, mengumumkan sebuah sayembara: “siapa yang bisa menemukan Permata Surga pasti akan menjadi suamiku!” Seluruh pangeran, muda atau tua, terkesiap, mematung antara bingung memahami Permata Surga dan takjub akan kecantikan sang puteri.

Sementara para pengeran, muda maupun tua, menyebar mencari Permata Surga, minta petuah ahli nujum dan ahli agama....

Di negeri ini ada kisah Gunung Merapi yang menggelegak, menyemburkan lahar dan debu panas berjuluk wedus gembel. Sudah dua bulan lebih. Ratusan orang mengungsi ke tenda-tenda. Sepuhuh hari lalu, gempa tektonik menyusul, meluluhlantakkan Yogyakarta dan sekitarnya. Sudah enam ribu orang mati tertimbun puing, tertimpa genteng dan dinding rumah sendiri. Sudah tak tertampung tetes air mata korban, juga dari saudara-saudaranya sebangsa dan se-Tanah Air. Sudah... sudah!

Ada ribuan orang yang cidera, cuma lecet atau patah tulang. Ada ratusan ribu orang selamat. Ada puluhan ribu orang kehilangan tempat tinggal. Ada jutaan warga mengulurkan bantuan, berupa uang, pakaian, makanan, dan doa. Ada miliaran atau bahkan triliunan uang disiapkan pemerintah dari anggarannya. Juga, bantuan dari seluruh rakyat Indonesia, yang disalurkan lewat media massa, perusahaan, bahkan ribuan orang di jalan-jalan. Ada pula hibah dari luar negeri.

Masih ada pemimpin negeri yang menyambangi tenda-tenda pengungsi, membelai dan menyemangati korban. Bahkan ikut bermalam di tenda. Tapi masih banyak pula korban selamat yang tak bermalam di tenda, tidak juga di rumah atau dalam bangunan. Mereka memilih tidur di pinggir jalan, di tanah lapang, di atas puing rumahnya yang ambruk, cuma beratapkan langit. Tak sedikit korban selamat yang kehilangan harta dan sanak-saudara, makin merintih akibat dingin dan lapar. Mereka menjadi peminta-minta atas bantuan yang memang menjadi hak mereka. Dan, masih ada saja yang memanfaatkan kesempatan dalam kesimpitan.

Ketika warga bahu-membahu menyisihkan harta, mengirim bantuan. Ketika makanan, pakaian dan obat-obatan sudah menggunung. Uang sudah miliaran. Ketika pemerintah kepayahan menyalurkannya kepada korban. Ketika itu, kenapa pula masih ada yang kasak-kusuk mencari utangan dari luar negeri? Berutang, sebuah kegemaran. Lagi susah ataupun senang, utang adalah jalan keluar. Mereka tahu, seperti halnya ekonom dari UGM Revrisond Bazwir tahu, bahwa utang adalah jerat neokolonial.Bahkan, bukan pemberi bantuan yang meminta syarat, justru peminta pinjaman tak sungkan-sungkan menawarkan Tanah Surga –meminjam istilah Koes Ploes— ini sebagai sekar kedaton.

Bencana di atas bencana.

Ini negeri yang tak pernah absen dari bencana. Segala macam bencana pernah mampir di negeri ini, sejak berdiri, bahkan sewaktu masih jadi kepompong. Tak terhitung, mungkin tak terhingga. Bunuh-bunuhan antarsaudara sendiri, rebutan tahta, saling fitnah hingga ‘menjual’ bangsa sendiri lewat utang atau instrumen ekonomi lainnya. Selalu dan so pasti rakyat yang jadi korban. Kelaparan, kemiskinan, kemelaratan, ketiadaan pekerjaan, dan terjajah oleh modal asing.

Bencana Yogya sudah 10 hari. Dalam lapar, dingin dan ketiadaan pekerjaan serta tempat tinggal, mereka memimpikan Puteri Xidar nan jelita itu. Bukan kecantikan dan sayembaranya yang aneh itu.

Kelak, seperti ditulis Danarto dalam buku Petualangan Tokoh-tokoh 1001 Malam, Pangeran Zamrud berhasil ‘menemukan’ Permata Surga dan menyelamatkan negeri Nabugalazar. Ia mempersunting Puteri Xidar, si sekar kedaton, dan menjadi pemimpin negeri Nabugalazar dengan adilnya. n rizagana

Tulisan ini telah dimuat di Investor Daily edisi Selasa, 6 Juni 2006 halaman 24
Rubrik RASAN